Menilik Kelezatan Gulai Telur dan Batas Konsumsinya

  • 27 Apr 2026 09:45 WIB
  •  Pekanbaru

RRI.CO.ID, Pekanbaru - Gulai telur merupakan salah satu hidangan ikonik dalam khazanah kuliner Nusantara, khususnya di wilayah Sumatra, yang menawarkan perpaduan rasa gurih dan rempah yang kuat. Hidangan ini biasanya menggunakan telur ayam atau telur bebek yang direbus matang, kemudian dimasak kembali dalam kuah santan kental yang kaya akan bumbu.

Warna kuning keemasan yang menggugah selera didapatkan dari kunyit, sementara aroma aromatiknya berasal dari perpaduan lengkuas, serai, dan daun jeruk. Kehadirannya sering kali menjadi pendamping utama dalam sepiring nasi Padang atau hidangan harian di rumah. Proses pembuatan gulai telur dimulai dengan menghaluskan bumbu dasar yang terdiri dari bawang merah, bawang putih, cabai merah, kunyit, jahe, dan kemiri.

Bumbu halus ini kemudian ditumis hingga harum bersama rempah daun sebelum dituangkan santan encer. Menurut panduan memasak tradisional yang dilansir dari laman kuliner Budaya Indonesia, kunci kelezatan gulai terletak pada proses menumis bumbu hingga benar-benar matang agar tidak langu, serta penggunaan api kecil saat memasukkan santan kental agar tekstur kuah tidak pecah dan tetap konsisten.

Setelah kuah mendidih, telur yang telah dikupas dimasukkan dan dimasak hingga bumbu meresap sempurna ke dalam pori-pori telur. Beberapa variasi resep sering kali menambahkan bahan pelengkap seperti tahu, kacang panjang, atau daun singkong untuk memperkaya tekstur dan nilai gizi.

Penggunaan santan segar sangat disarankan untuk mendapatkan rasa manis alami dan kekentalan yang pas. Teknik memasak perlahan atau slow cooking ini memastikan profil rasa rempah menyatu dengan protein telur secara maksimal.

Meskipun lezat, konsumsi gulai telur perlu diperhatikan karena kandungan lemak jenuh dari santan dan kolesterol pada kuning telur. Berdasarkan informasi dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) melalui pedoman Gizi Seimbang, asupan lemak sebaiknya tidak melebihi 20-25% dari total energi harian. Santan yang dipanaskan berulang kali dapat meningkatkan kadar asam lemak trans yang kurang baik bagi kesehatan jantung, sehingga disarankan untuk tidak menghangatkan hidangan ini berkali-kali.

Mengenai batas aman konsumsi, para ahli gizi sering menekankan moderasi bagi individu sehat. Mengutip jurnal kesehatan dari Harvard School of Public Health, mengonsumsi satu butir telur per hari umumnya aman bagi kebanyakan orang dewasa sehat tanpa meningkatkan risiko penyakit jantung secara signifikan. Namun, ketika telur disajikan dalam bentuk gulai, frekuensi konsumsinya harus dibatasi, misalnya 2 hingga 3 kali seminggu, untuk menjaga keseimbangan asupan lemak jenuh dan kolesterol harian tetap berada dalam batas normal.

Sebagai alternatif yang lebih sehat, Anda dapat memodifikasi resep gulai telur dengan mengurangi jumlah santan kental atau menggantinya sebagian dengan krimer nabati rendah lemak. Menambahkan lebih banyak sayuran ke dalam kuah gulai juga dapat meningkatkan asupan serat yang membantu mengikat lemak dalam sistem pencernaan. Dengan memperhatikan porsi dan cara pengolahan yang tepat, gulai telur tetap dapat dinikmati sebagai hidangan yang bergizi tanpa harus mengkhawatirkan dampak negatif bagi kesehatan jangka panjang.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....