Adu Rasa: Kenapa Gorengan Jadi Takjil Nomor Satu
- 18 Feb 2026 16:28 WIB
- Pekanbaru
RRI.CO.ID, Pekanbaru - Di balik deretan menu takjil manis yang menyegarkan, gorengan tetap kokoh menempati kasta tertinggi sebagai buruan utama masyarakat Indonesia menjelang berbuka puasa. Fenomena antrean panjang di lapak penjual bakwan, tahu isi, hingga tempe mendoan menjadi pemandangan ikonik yang rutin menghiasi sore hari di bulan Ramadhan.
Tekstur renyah dan cita rasa gurih yang kontras dengan lidah yang seharian kosong, disinyalir menjadi alasan psikologis utama mengapa panganan ini begitu digandrungi. Popularitas gorengan bukan sekadar soal selera, melainkan juga kepraktisan dan harga yang sangat terjangkau bagi seluruh lapisan masyarakat.
Berdasarkan analisis sosiokultural kuliner nusantara, gorengan telah menjadi "makanan pemersatu" yang mudah ditemukan di setiap sudut jalan. Kehangatan gorengan yang baru diangkat dari wajan seolah memberikan kepuasan instan yang sulit digantikan oleh kudapan lain saat bedug magrib berkumandang.
Namun, di balik kelezatannya, konsumsi gorengan yang berlebihan menyimpan risiko kesehatan yang perlu diwaspadai. Melansir publikasi edukasi dari Direktorat Promosi Kesehatan Kementerian Kesehatan RI, gorengan mengandung lemak jenuh tinggi yang jika dikonsumsi saat perut kosong dapat memicu kenaikan asam lambung secara mendadak. Rasa perih atau kembung yang sering dirasakan setelah berbuka biasanya berawal dari tumpukan minyak yang sulit dicerna oleh sistem pencernaan yang baru aktif kembali.
Selain masalah pencernaan, penggunaan minyak goreng yang dipakai berulang kali oleh pedagang nakal juga menjadi perhatian serius. Merujuk pada pedoman keamanan pangan dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), minyak yang telah mengalami oksidasi berlebih atau sering disebut "minyak jelantah" mengandung radikal bebas yang bersifat karsinogenik. Oleh karena itu, masyarakat diimbau untuk lebih cermat memperhatikan warna dan aroma gorengan sebelum membelinya di pasar kaget.
Tantangan bagi para pencinta gorengan adalah bagaimana menyeimbangkan konsumsi lemak dengan asupan serat. Para ahli gizi sering menyarankan untuk tidak menjadikan gorengan sebagai menu tunggal saat berbuka. Mengutip imbauan dari Dinas Kesehatan (Dinkes) DKI Jakarta, pendampingan gorengan dengan buah-buahan tinggi serat atau air putih yang cukup sangat penting untuk menetralisir dampak lemak jenuh dan mencegah kolesterol melonjak selama bulan puasa.
Meski sulit menggeser posisi gorengan dari takjil nomor satu, tren gaya hidup sehat mulai memperkenalkan alternatif gorengan yang lebih aman, seperti penggunaan air fryer atau penggorengan dengan minyak zaitun di rumah. Inovasi ini muncul sebagai respons masyarakat yang ingin tetap menikmati sensasi "kriuk" tanpa harus mengorbankan kondisi kebugaran tubuh hingga hari raya tiba.
Gorengan tetap akan selalu menjadi primadona dalam tradisi berbuka puasa di Indonesia. Kuncinya terletak pada moderasi dan kesadaran masing-masing individu untuk tidak berlebihan. Menikmati satu atau dua potong bakwan tentu sah-sah saja, asalkan tetap diiringi dengan pola makan bergizi seimbang agar ibadah Ramadhan tetap berjalan dengan kondisi fisik yang prima.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....