Hobi Makan Makanan Terlalu Panas, Bahaya Mengintai Kerongkongan
- 05 Okt 2026 22:01 WIB
- Pekanbaru
RRI.CO.ID, Pekanbaru - Makanan baru matang memang menggoda. Apalagi ketika masih mengepul dan aromanya begitu menggugah selera. Namun, jangan terburu-buru menyantapnya ketika suhunya masih sangat panas.
Kebiasaan makan makanan yang terlalu panas dapat melukai jaringan di dalam mulut dan tenggorokan. Kementerian Kesehatan RI juga mencatat bahwa makanan atau minuman panas dapat menyebabkan trauma termal pada jaringan mulut, yang ditandai antara lain dengan rasa sakit, kemerahan, hingga luka pada jaringan.
| Baca juga: Kenali Penyebab Sakit Perut setelah Makan |
Bukan hanya luka bakar yang perlu diperhatikan. Paparan suhu yang sangat tinggi secara berulang juga menjadi perhatian dalam kaitannya dengan kesehatan kerongkongan. Badan Internasional untuk Penelitian Kanker atau IARC, bagian dari WHO, menggolongkan konsumsi minuman sangat panas, di atas 65 derajat Celsius, sebagai kemungkinan bersifat karsinogenik bagi manusia atau kelompok 2A. Artinya, terdapat bukti ilmiah yang menunjukkan hubungan dengan kanker kerongkongan, meskipun bukan berarti setiap orang yang mengonsumsi makanan atau minuman panas pasti akan terkena kanker.
Penelitian IARC juga menunjukkan bahwa paparan suhu tinggi tidak hanya berkaitan dengan minuman. Studi mengenai makanan dan minuman yang sangat panas menemukan adanya peningkatan risiko kanker kerongkongan pada kelompok yang lebih sering terpapar suhu tinggi. Karena itu, kebiasaan menyantap makanan atau minuman yang masih sangat panas sebaiknya mulai dikurangi. Memberi waktu beberapa menit agar makanan turun suhunya merupakan langkah sederhana yang bisa dilakukan setiap hari.
Lalu, bagaimana mengetahui makanan sudah cukup aman untuk disantap? Tidak harus selalu menggunakan termometer. Prinsip sederhananya, jangan langsung menyantap makanan yang masih mengepul hebat atau terasa membakar lidah. Biarkan makanan atau minuman sejenak hingga menjadi hangat dan nyaman ketika masuk ke mulut. Jika lidah terasa perih atau seperti terbakar setelah suapan pertama, itu merupakan tanda bahwa suhunya terlalu tinggi.
Jadi, mulai sekarang jangan hanya memperhatikan apa yang kita makan, tetapi juga seberapa panas makanan tersebut ketika disantap. Menunggu sebentar sebelum makan bukan berarti mengurangi kenikmatan makanan, justru menjadi kebiasaan sederhana untuk melindungi mulut, tenggorokan, dan kerongkongan. Bila setelah mengonsumsi makanan panas muncul luka, nyeri menelan, atau keluhan yang tidak kunjung membaik, sebaiknya periksakan kepada tenaga kesehatan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....