Kasus ISPA Dominasi Dampak Kabut Asap di Riau, Capai 900 Kasus
- 27 Agt 2026 13:10 WIB
- Pekanbaru
RRI.CO.ID, Pekanbaru – Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) menjadi kasus kesehatan yang paling banyak dialami masyarakat terdampak kabut asap di Provinsi Riau. Dari sekitar 1.160 kasus gangguan kesehatan yang terdata di 10 kabupaten/kota, sekitar 900 kasus di antaranya merupakan ISPA.
Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Riau Zulkifli mengatakan, selain ISPA, masyarakat terdampak kabut asap juga mengalami sejumlah gangguan kesehatan lainnya. Di antaranya radang mata atau konjungtivitis, iritasi kulit, diare, pneumonia, dan asma.
“Yang tertinggi itu ISPA, sekitar 900-an kasus. Kasus tertinggi ada di Kota Pekanbaru dan Kabupaten Pelalawan,” kata Zulkifli, Kamis 27 Agustus 2026.
Menurutnya, jumlah kasus ISPA di Pekanbaru dan Pelalawan masing-masing mencapai sekitar 500 kasus. Meski demikian, seluruh pasien yang terdampak masih dapat ditangani di puskesmas maupun posko kesehatan dan belum ada yang harus menjalani perawatan di rumah sakit.
“Tidak ada yang dirawat di rumah sakit. Hanya kunjungan untuk pengobatan dan pelayanan dasar di puskesmas maupun posko,” ujarnya.
Dinas Kesehatan Provinsi Riau terus melakukan langkah pencegahan untuk menekan dampak kabut asap terhadap kesehatan masyarakat. Edukasi dilakukan melalui berbagai media serta melibatkan tenaga kesehatan dan kader di kabupaten/kota.
Selain edukasi, Dinkes Riau juga mendistribusikan masker ke sejumlah daerah terdampak. Untuk Kabupaten Pelalawan, sebanyak 18 ribu masker telah disalurkan dan akan kembali ditambah sesuai kebutuhan.
“Untuk Pelalawan kita sudah dropping 18 ribu masker. Dalam waktu dekat akan kita tambah lagi,” kata Zulkifli.
Sementara di Kota Pekanbaru, Dinkes Riau bersama sejumlah pihak membagikan masker di beberapa titik lampu merah. Sebanyak 14 ribu masker telah disalurkan dalam kegiatan tersebut.
Dinkes Riau juga telah menyiapkan konsentrator oksigen di posko kesehatan Pelalawan serta rumah oksigen di lingkungan Dinas Kesehatan Provinsi Riau. Fasilitas tersebut disiapkan sebagai pertolongan awal bagi masyarakat yang mengalami sesak napas sebelum mendapatkan penanganan lebih lanjut di rumah sakit.
Zulkifli mengingatkan kelompok rentan untuk mengurangi aktivitas di luar rumah ketika kondisi asap masih pekat. Kelompok tersebut meliputi lansia, ibu hamil, bayi dan balita, serta masyarakat dengan riwayat penyakit pernapasan.
“Bagi kelompok rentan, seperti lansia, ibu hamil, bayi balita, dan masyarakat yang punya riwayat penyakit pernapasan, kita minta meminimalisir keluar rumah ketika asap masih tebal,” ujarnya.
Masyarakat yang harus beraktivitas di luar rumah juga diminta menggunakan masker. Selain itu, masyarakat dianjurkan memperbanyak minum air putih serta mengonsumsi sayur dan buah untuk menjaga daya tahan tubuh.
Zulkifli juga meminta masyarakat segera mendatangi fasilitas pelayanan kesehatan apabila mengalami gangguan pernapasan atau keluhan kesehatan lainnya.
Dampak kabut asap juga dirasakan warga. Surya Hartati mengaku masih mengalami keluhan kesehatan meski kondisi asap mulai sedikit berkurang dibandingkan hari-hari sebelumnya.
“Kalau kondisi saat ini agak sedikit terganggu karena asapnya masih lumayan tebal. Tenggorokan sakit dan mata perih masih terasa,” ujar Surya.
Ia berharap kabut asap segera menghilang sehingga masyarakat dapat kembali beraktivitas secara normal.
“Harapannya semoga asapnya cepat hilang, terus bisa beraktivitas seperti biasa tanpa masker,” katanya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....