Waspada Asap Kebakaran Hutan, Kenali Penyakit yang Dapat Ditimbulkan
- 24 Agt 2026 17:20 WIB
- Pekanbaru
RRI.CO.ID, Pekanbaru - Asap kebakaran hutan bukan hanya mengganggu jarak pandang dan kualitas udara, tetapi juga dapat menjadi ancaman serius bagi kesehatan. Asap mengandung berbagai polutan, termasuk partikel halus PM2.5 yang berukuran sangat kecil sehingga dapat masuk jauh ke dalam saluran pernapasan.
Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), asap kebakaran hutan dapat menyebabkan penurunan kualitas udara secara drastis dan meningkatkan risiko berbagai gangguan kesehatan. Salah satu masalah kesehatan yang paling sering dikaitkan dengan paparan asap kebakaran hutan adalah gangguan pernapasan.
Seseorang yang menghirup asap dapat mengalami batuk, tenggorokan terasa gatal, hidung berair, sesak napas, mengi, hingga iritasi pada saluran pernapasan. Centers for Disease Control and Prevention (CDC) juga menyebutkan paparan asap dapat memicu serangan asma, terutama pada orang yang sudah memiliki penyakit pernapasan.
Asap kebakaran hutan juga dapat memperburuk penyakit seperti asma dan penyakit paru obstruktif kronis (PPOK/COPD). Partikel PM2.5 dapat masuk hingga bagian bawah paru-paru dan menyebabkan peradangan. Menurut U.S. Environmental Protection Agency (EPA), paparan partikel halus dari asap dapat menyebabkan batuk berkepanjangan, dahak, mengi, kesulitan bernapas, serta penurunan fungsi paru-paru sementara.
Selain paru-paru, asap kebakaran hutan juga dapat berdampak pada sistem kardiovaskular. Partikel berukuran sangat kecil dapat masuk jauh ke dalam tubuh dan berhubungan dengan berbagai gangguan pada jantung dan pembuluh darah. EPA mencatat paparan asap dapat berkaitan dengan memburuknya gagal jantung, serangan jantung, stroke, serta meningkatnya kunjungan ke fasilitas kesehatan.
Paparan asap juga dapat menyebabkan keluhan yang lebih ringan tetapi tetap perlu diperhatikan. Beberapa gejala yang dapat muncul antara lain mata perih, sakit kepala, kelelahan, hidung dan tenggorokan teriritasi, serta dada terasa tidak nyaman. CDC menjelaskan asap kebakaran dapat membuat seseorang mengalami batuk, kesulitan bernapas, mengi, mata perih, sakit kepala, dan nyeri dada.
Kelompok tertentu memiliki risiko lebih tinggi mengalami dampak kesehatan akibat asap kebakaran hutan. Anak-anak, lansia, ibu hamil, serta orang yang memiliki penyakit jantung atau paru-paru perlu lebih berhati-hati. Anak-anak lebih rentan karena paru-paru dan sistem tubuh mereka masih berkembang, sedangkan orang dengan penyakit kronis dapat mengalami perburukan gejala ketika kualitas udara memburuk.
Untuk mengurangi risiko, masyarakat sebaiknya mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika kondisi udara dipenuhi asap. Memantau kualitas udara melalui sumber resmi, menutup pintu dan jendela ketika asap pekat, serta mencari tempat dengan udara yang lebih bersih dapat membantu mengurangi paparan. CDC juga menyarankan masyarakat mengikuti informasi dan instruksi dari pihak berwenang selama terjadi kebakaran hutan.
Pada akhirnya, asap kebakaran hutan tidak boleh dianggap sebagai gangguan biasa karena dapat memengaruhi berbagai sistem tubuh, terutama paru-paru dan jantung. Mengenali gejala sejak dini dan mengurangi paparan merupakan langkah penting untuk melindungi kesehatan. Jika seseorang mengalami sesak napas berat, nyeri dada, atau gejala yang memburuk setelah terpapar asap, sebaiknya segera mendapatkan pertolongan medis.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....