Penyebab Merasa Lapar Padahal Baru Saja Makan
- 16 Agt 2026 00:18 WIB
- Pekanbaru
RRI.CO.ID, Pekanbaru - Pernah merasa baru saja selesai makan, tetapi beberapa waktu kemudian perut kembali terasa lapar? Kondisi ini cukup umum terjadi.
Rasa lapar tidak selalu berarti tubuh benar-benar kekurangan makanan. Ada banyak faktor yang dapat membuat seseorang kembali ingin makan meskipun sebelumnya sudah mengonsumsi makanan.
Rasa lapar merupakan mekanisme alami tubuh untuk mengatur asupan energi. Namun, sinyal lapar dan kenyang dipengaruhi oleh berbagai hal, mulai dari jenis makanan, hormon, kualitas tidur, kondisi emosional, hingga kebiasaan sehari-hari.
Lantas, mengapa kita bisa merasa lapar padahal baru saja makan? Dikutip dari laman mitrakeluarga.com, rasa lapar yang muncul meski sudah makan sering disebabkan oleh beberapa factor, diantaranya :
1. Makanan yang Dikonsumsi Kurang Mengenyangkan
Jenis makanan yang dikonsumsi dapat memengaruhi seberapa lama rasa kenyang bertahan.
Makanan yang kaya protein dan serat cenderung membantu mempertahankan rasa kenyang lebih lama. Sebaliknya, makanan yang tinggi gula tambahan atau karbohidrat olahan dapat membuat seseorang merasa lapar kembali dalam waktu lebih singkat, terutama jika dikonsumsi tanpa kombinasi protein, serat, dan lemak yang cukup.
Misalnya, sarapan hanya dengan makanan atau minuman yang tinggi gula mungkin membuat seseorang cepat merasa lapar kembali dibandingkan sarapan yang mengandung sumber protein, serat, dan karbohidrat kompleks.
| Baca juga: Manfaat Makan Satu Buah Apel Harian |
Karena itu, bukan hanya jumlah makanan yang penting, tetapi juga komposisinya.
2. Kurang Protein
Protein merupakan salah satu zat gizi yang berperan dalam rasa kenyang. Makanan yang mengandung protein dapat membantu memperlambat proses pencernaan dan memengaruhi hormon yang berkaitan dengan rasa lapar dan kenyang.
Sumber protein dapat diperoleh dari telur, ikan, ayam, daging, susu dan produk olahannya, tahu, tempe, serta kacang-kacangan. Menambahkan sumber protein dalam menu sehari-hari dapat menjadi salah satu cara untuk membuat makanan terasa lebih mengenyangkan.
3. Kurang Serat
Serat membutuhkan waktu lebih lama untuk dicerna dan dapat membantu memberikan rasa kenyang. Buah, sayuran, kacang-kacangan, serta biji-bijian merupakan beberapa sumber serat yang dapat dimasukkan ke dalam pola makan.
Jika menu sehari-hari didominasi makanan rendah serat, rasa kenyang mungkin tidak bertahan lama. Menambahkan sayuran ke dalam makanan utama atau memilih buah sebagai camilan dapat membantu meningkatkan asupan serat.
4. Kurang Minum
| Baca juga: Cara Mengajak Anak Rajin Sikat Gigi |
Terkadang rasa haus dapat terasa mirip dengan rasa lapar. Ketika tubuh membutuhkan cairan, seseorang bisa saja mengira bahwa tubuh sedang meminta makanan.
Bukan berarti setiap rasa lapar sebenarnya adalah rasa haus. Namun, menjaga asupan cairan tetap cukup merupakan bagian penting dari pola hidup sehat. Jika tiba-tiba ingin makan padahal baru saja makan, cobalah memperhatikan apakah tubuh juga menunjukkan tanda-tanda haus atau mulut terasa kering.
5. Kurang Tidur
Kualitas dan durasi tidur juga dapat berhubungan dengan nafsu makan. Kurang tidur dapat memengaruhi hormon yang berperan dalam mengatur rasa lapar dan kenyang.
Akibatnya, seseorang yang kurang tidur dapat merasa lebih lapar atau lebih tertarik pada makanan berkalori tinggi pada hari berikutnya. Karena itu, menjaga waktu tidur yang cukup bukan hanya penting untuk mengurangi rasa lelah, tetapi juga membantu menjaga pola makan tetap teratur.
6. Makan Terlalu Cepat
Otak membutuhkan waktu untuk menerima dan memproses sinyal kenyang dari tubuh. Ketika makan terlalu cepat, seseorang mungkin menghabiskan makanan dalam jumlah banyak sebelum sinyal kenyang benar-benar terasa.
Cobalah makan dengan lebih perlahan, mengunyah makanan dengan baik, dan memberikan perhatian pada makanan yang sedang dikonsumsi. Makan tanpa terburu-buru juga dapat membantu seseorang lebih menyadari kapan tubuh sudah cukup makan.
7. Stres dan Emosi
Tidak semua keinginan untuk makan berasal dari kebutuhan fisik. Kondisi emosional seperti stres, bosan, cemas, atau sedih dapat membuat seseorang mencari makanan sebagai bentuk kenyamanan. Fenomena ini sering disebut sebagai emotional eating.
Misalnya, seseorang mungkin ingin mengonsumsi makanan manis setelah menjalani hari yang melelahkan, meskipun sebenarnya tidak merasa lapar secara fisik.
Salah satu cara membedakannya adalah dengan memperhatikan pola munculnya keinginan makan. Jika keinginan tersebut muncul secara tiba-tiba dan lebih mengarah pada makanan tertentu, bisa jadi faktor emosional ikut berperan.
8. Kebiasaan dan Lingkungan
Lingkungan juga dapat memengaruhi keinginan makan. Melihat makanan, mencium aroma makanan, mendapatkan tawaran makanan dari orang lain, atau terbiasa makan pada waktu tertentu dapat memicu keinginan untuk makan.
Contohnya, seseorang mungkin terbiasa ngemil ketika menonton televisi. Lama-kelamaan, aktivitas menonton dapat menjadi pemicu keinginan makan meskipun tubuh sebenarnya tidak membutuhkan tambahan makanan. Hal ini menunjukkan bahwa rasa ingin makan tidak selalu berasal dari rasa lapar secara fisiologis.
9. Makan Sambil Terdistraksi
Makan sambil menonton, bekerja, bermain ponsel, atau melakukan aktivitas lain dapat membuat perhatian kita terpecah. Ketika tidak benar-benar memperhatikan makanan yang dikonsumsi, seseorang mungkin kurang menyadari jumlah makanan yang sudah dimakan dan bagaimana tubuh merespons makanan tersebut.
Menerapkan mindful eating atau makan dengan lebih sadar dapat membantu seseorang mengenali sinyal lapar dan kenyang dengan lebih baik.
Jadi, kalau baru makan tetapi sudah merasa lapar lagi, jangan langsung menyalahkan diri sendiri. Bisa jadi tubuh sedang memberi sinyal—dan tugas kita adalah mencari tahu apa yang sebenarnya dibutuhkan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....