Mengenal Catastrophizing dan Langkah Mengatasinya
- 14 Agt 2026 20:46 WIB
- Pekanbaru
RRI.CO.ID, Pekanbaru - Pernahkah mengalami kepanikan hebat hanya karena pesan singkatnya tidak kunjung dibalas, lalu langsung menyimpulkan bahwa orang tersebut marah atau membencinya? Pikiran yang secara otomatis meloncat pada kesimpulan terburuk tanpa dasar bukti yang jelas ini dikenal sebagai fenomena catastrophizing.
Penjelasan ilmiah mengenai pola pikir yang merusak ini dibahas secara mendalam oleh psikolog Albert Ellis, pencetus Rational Emotive Behavior Therapy (REBT). Dalam karyanya bersama Robert A. Harper yang berjudul "A Guide to Rational Living", Ellis menjelaskan catastrophizing adalah bentuk distorsi kognitif ketika seseorang membesar-besarkan dampak negatif dari suatu peristiwa secara tidak rasional.
Penjelasan dari Psychology Today mengatakan bahwa catastrophizing adalah bentuk distorsi kognitif ketika seseorang langsung menarik kesimpulan terburuk. Kebiasaan mental ini membuat otak bertindak seolah-olah bencana besar sedang terjadi, padahal realitasnya situasi tersebut mungkin sangat sepele.
Penyebab utama timbulnya kebiasaan ini dijelaskan Halodoc antara lain akibat mekanisme pertahanan diri otak yang berlebihan. Saat seseorang mengalami kejadian traumatis, otak akan mengantisipasi bahaya.
Masa lalu kanak-kanak yang penuh kritik, ketidakpastian, atau terlalu protektif juga dapat mempengaruhi. Selain itu, tingkat stres yang tinggi akibat pekerjaan, hubungan, atau masalah keuangan dapat memperburuknya.
Seseorang yang selalu membayangkan skenario terburuk cenderung akan mengalami kelumpuhan tindakan (analysis paralysis) karena diselimuti rasa takut yang membendung potensi diri. Kondisi psikologis yang terus-menerus tertekan ini juga dapat memicu kelelahan fisik akibat produksi hormon stres yang berlebihan.
Langkah awal yang sangat efektif untuk memutus rantai pikiran buruk ini adalah dengan melatih kesadaran diri atau mindfulness. Saat pikiran mulai membayangkan skenario terburuk, penting untuk segera mengambil jeda dan mengenali bahwa pikiran tersebut hanyalah dugaan, bukan kenyataan. Menyadari kehadiran distorsi kognitif ini secara langsung membantu mengurangi intensitas kepanikan emosional yang sedang bergejolak.
Strategi berikutnya adalah melakukan uji realitas dengan mengajukan pertanyaan kritis terhadap pikiran buruk yang muncul. Cobalah untuk mempertanyakan seberapa besar probabilitas nyata skenario terburuk itu benar-benar akan terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, pikirkan juga skenario paling rasional atau bahkan skenario terbaik sebagai pembanding agar sudut pandang menjadi lebih seimbang.
Pengalihan fokus pada tindakan konkret yang dapat dikendalikan saat ini juga menjadi teknik ampuh untuk meredakan kepanikan. Daripada menghabiskan energi untuk mencemaskan hal-hal di luar kendali, pusatkan perhatian pada langkah kecil yang bisa dilakukan sekarang. Aktivitas fisik ringan atau teknik pernapasan dalam dapat membantu menenangkan sistem saraf yang sedang tegang akibat bayangan buruk.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....