Rahasia di Balik Fenomena Dejavu yang Sering Kita Alami
- 27 Jul 2026 13:47 WIB
- Pekanbaru
RRI.CO.ID, Pekanbaru - Pernahkah Anda berada di sebuah tempat, berbicara dengan seseorang, atau mengalami sebuah kejadian yang sebenarnya baru pertama kali terjadi, tetapi tiba-tiba merasa bahwa Anda pernah mengalaminya sebelumnya? Perasaan aneh seperti ini mungkin pernah dialami oleh banyak orang. Fenomena tersebut dikenal dengan istilah dejavu, yaitu sensasi kuat bahwa suatu pengalaman yang sedang berlangsung terasa sangat familiar, meskipun kita menyadari bahwa kejadian tersebut sebenarnya baru terjadi.
Dejavu merupakan salah satu fenomena menarik yang hingga kini masih menjadi perhatian para peneliti. Perasaan ini biasanya muncul secara tiba-tiba dan hanya berlangsung dalam waktu singkat. Seseorang mungkin sedang berjalan di sebuah tempat yang baru dikunjungi, kemudian merasa seolah-olah pernah berada di sana sebelumnya. Ada juga yang merasa pernah mengalami percakapan yang sama atau bahkan seperti sudah mengetahui apa yang akan terjadi berikutnya. Meskipun terasa nyata, perasaan tersebut tidak selalu berarti bahwa kejadian itu benar-benar pernah dialami sebelumnya.
Salah satu penjelasan yang banyak dibahas adalah adanya hubungan antara dejavu dan cara otak memproses ingatan. Otak manusia memiliki sistem yang sangat kompleks untuk mengenali sesuatu sebagai hal yang baru atau sudah dikenal. Dalam kondisi tertentu, proses pengenalan tersebut mungkin tidak berjalan secara sempurna. Akibatnya, otak dapat memberikan rasa familiar terhadap pengalaman yang sebenarnya baru. Cleveland Clinic (2025) menjelaskan bahwa dejavu dapat dipahami sebagai rasa familiar yang keliru, ketika otak memberikan sensasi seolah-olah seseorang pernah mengalami suatu situasi padahal tidak dapat menemukan ingatan yang sesuai.
| Baca juga: Khasiat Rebusan Jahe Sehat |
Kemiripan antara pengalaman baru dan pengalaman lama juga diduga dapat memicu munculnya dejavu. Misalnya, seseorang mengunjungi sebuah rumah untuk pertama kalinya, tetapi tata letak ruangan, pencahayaan, atau suasananya sangat mirip dengan tempat yang pernah dilihat sebelumnya. Meskipun orang tersebut mungkin tidak mengingat pengalaman lama itu secara sadar, otaknya dapat mengenali kemiripan pola tersebut. Rasa familiar yang muncul kemudian membuat pengalaman baru terasa seperti sesuatu yang pernah terjadi di masa lalu.
Selain berkaitan dengan ingatan, perhatian juga mungkin berperan dalam munculnya dejavu. Ketika seseorang sedang melakukan aktivitas sambil memikirkan banyak hal, perhatian terhadap lingkungan sekitar bisa saja tidak sepenuhnya terfokus. Ketika perhatian kembali tertuju pada situasi di sekitarnya, otak mungkin memproses informasi tersebut dengan cara yang terasa seperti pengulangan. Teori semacam ini menjadi salah satu pendekatan yang digunakan untuk memahami mengapa pengalaman yang sebenarnya baru dapat terasa begitu familiar.
Fenomena dejavu juga menunjukkan bahwa ingatan manusia bukanlah sebuah rekaman video yang selalu tersimpan secara sempurna. Ingatan dapat dipengaruhi oleh perhatian, pengalaman sebelumnya, dan cara otak menghubungkan berbagai informasi. Karena itu, rasa yakin bahwa kita pernah mengalami sesuatu belum tentu berarti bahwa kejadian tersebut benar-benar pernah terjadi dengan cara yang sama. Bisa jadi, otak sedang menghubungkan pengalaman baru dengan potongan informasi atau pengalaman lama yang memiliki kemiripan tertentu.
| Baca juga: Alasan Mengantuk dan Tertidur saat Bekerja |
Menariknya, dejavu juga memiliki kaitan dengan aktivitas pada bagian otak yang berhubungan dengan memori. Dalam kondisi tertentu, terutama pada penderita epilepsi lobus temporal, sensasi dejavu dapat muncul sebagai salah satu gejala atau aura sebelum kejang. Namun, hal ini tidak berarti bahwa setiap orang yang mengalami dejavu memiliki gangguan neurologis. Pada kebanyakan orang, dejavu yang muncul sesekali merupakan pengalaman yang umum dan biasanya tidak perlu dikhawatirkan.
Meski demikian, seseorang sebaiknya berkonsultasi dengan tenaga medis apabila pengalaman dejavu terjadi sangat sering, berlangsung lebih lama dari biasanya, atau disertai gejala lain seperti kebingungan, kehilangan kesadaran, sakit kepala berat, atau kejang. Cleveland Clinic mencatat bahwa dejavu dapat menjadi salah satu gejala yang muncul pada epilepsi lobus temporal, sehingga pola pengalaman yang tidak biasa perlu diperhatikan, terutama jika disertai gejala neurologis lainnya.
Pada akhirnya, rahasia di balik fenomena dejavu kemungkinan besar berkaitan dengan cara otak mengolah ingatan, perhatian, dan rasa familiar secara bersamaan. Sampai sekarang, para ilmuwan masih terus mempelajari bagaimana proses tersebut dapat menghasilkan sensasi seolah-olah kita pernah mengalami sesuatu yang sebenarnya baru terjadi. Fenomena sederhana yang hanya berlangsung beberapa detik ini ternyata membuka jendela menarik untuk memahami betapa rumitnya cara kerja otak manusia.
Dejavu mengingatkan kita bahwa otak tidak hanya menyimpan dan mengingat pengalaman, tetapi juga terus menafsirkan informasi yang masuk. Terkadang, proses tersebut dapat menghasilkan perasaan yang terasa sangat nyata meskipun tidak sepenuhnya sesuai dengan kenyataan. Jadi, ketika suatu saat Anda mengalami dejavu, mungkin Anda tidak sedang mengingat masa lalu yang sebenarnya, melainkan sedang menyaksikan bagaimana otak bekerja dengan cara yang begitu kompleks dan menarik.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....