Fakta dan Mitos Seputar Komedo yang Masih Banyak Dipercaya
- 19 Jun 2026 09:31 WIB
- Pekanbaru
RRI.CO.ID, Pekanbaru - Komedo sering kali menjadi musuh utama bagi kecantikan dan kesehatan kulit wajah. Di tengah masyarakat, beredar berbagai informasi mengenai penyebab dan cara mengatasi bintik-bintik kecil ini yang sayangnya belum tentu benar.
Akibatnya, banyak orang terjebak dalam perawatan yang salah dan justru memperburuk kondisi kulit mereka. Memilah mana fakta dan mana mitos adalah langkah awal yang krusial untuk mendapatkan kulit yang bersih dan sehat.
Mitos paling populer yang masih dipercaya hingga kini adalah bahwa komedo hitam (blackheads) disebabkan oleh kotoran yang menempel di wajah akibat jarang cuci muka. Faktanya, warna hitam tersebut sama sekali bukan karena debu atau kotoran.
Melansir penjelasan medis dari American Academy of Dermatology (AAD), warna hitam pada komedo terjadi karena tumpukan minyak (sebum) dan sel kulit mati di dalam pori-pori mengalami proses oksidasi saat terpapar oleh oksigen di udara luar. Oleh karena itu, menggosok wajah terlalu keras secara berlebihan tidak akan menghilangkan komedo, melainkan justru memicu iritasi.
Mitos kedua yang tidak kalah sering didengar adalah anggapan bahwa penggunaan pore strip atau plester pengangkat komedo adalah solusi terbaik untuk membersihkan pori-pori secara permanen. Faktanya, produk ini hanya memberikan efek bersih yang bersifat sementara.
Berdasarkan edukasi klinis dari Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (PERDOSKI), pore strip hanya mengangkat lapisan komedo bagian atas saja tanpa membersihkan sumbatan hingga ke akarnya. Jika digunakan terlalu sering, perekat yang kuat pada plester tersebut justru dapat merusak lapisan pelindung kulit (skin barrier) dan membuat pori-pori tampak semakin membesar.
Selanjutnya, banyak orang percaya bahwa pemilik kulit kering bebas dari ancaman komedo karena produksi minyak mereka yang cenderung sedikit. Ini adalah mitos yang keliru.
Merujuk pada artikel ilmiah yang dimuat dalam Journal of Clinical and Aesthetic Dermatology, komedo terbentuk dari kombinasi minyak dan sel kulit mati. Pada kulit yang kering, proses pelepasan sel kulit mati sering kali tidak berjalan optimal sehingga menumpuk dan tetap dapat menyumbat pori-pori, terutama jika dipicu oleh penggunaan produk perawatan yang terlalu pekat (heavy/comedogenic).
Di sisi lain, muncul pula anggapan bahwa berjemur di bawah sinar matahari dapat mengeringkan dan menyembuhkan komedo. Faktanya, paparan radiasi ultraviolet (UV) justru menjadi bumerang bagi kesehatan kulit.
Menurut riset dari World Health Organization (WHO) terkait kesehatan kulit, sinar matahari dapat membuat kulit mengalami dehidrasi secara instan. Kondisi ini merangsang kelenjar minyak untuk memproduksi sebum lebih banyak sebagai mekanisme perlindungan alami, yang pada akhirnya memicu pembentukan komedo baru dalam jumlah lebih besar.
Lantas, bagaimana fakta penanganan komedo yang benar menurut medis? Kunci utamanya terletak pada konsistensi eksfoliasi kimiawi secara lembut, bukan dengan cara dipencet paksa. Berdasarkan kajian dari Universitas Gadjah Mada (UGM) mengenai kesehatan masyarakat, edukasi mengenai penggunaan bahan aktif seperti Salicylic Acid (BHA) perlu ditingkatkan. Bahan aktif ini terbukti secara ilmiah mampu masuk ke dalam lapisan pori-pori untuk melarutkan sumbatan minyak tanpa merusak jaringan kulit di sekitarnya.
Menjaga kesehatan kulit wajah dari komedo tidak harus rumit, asalkan didasarkan pada fakta medis yang tepat. Dengan berhenti memercayai mitos-mitos yang merugikan dan beralih ke pola perawatan yang aman, impian mendapatkan kulit wajah yang bersih, segar, dan sehat dapat terwujud tanpa harus mengorbankan kesehatan jangka panjang kulit kita.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....