Kurang Tidur ternyata Bisa Jadi Pemicu Kejang pada Anak

  • 25 Mei 2026 14:08 WIB
  •  Pekanbaru

RRI.CO.ID, Pekanbaru - Banyak orang tua mengira kurang tidur hanya membuat anak menjadi lemas, rewel, atau sulit berkonsentrasi. Padahal, bagi sebagian anak, terutama yang memiliki riwayat epilepsi atau gangguan saraf tertentu, kurang tidur bisa menjadi pemicu munculnya kejang.

Kondisi ini sering tidak disadari karena terlihat seperti kebiasaan sehari-hari yang dianggap sepele. Padahal, kualitas tidur memiliki hubungan erat dengan aktivitas listrik di otak anak.

Saat anak tidur, otak sebenarnya sedang melakukan proses pemulihan dan pengaturan ulang aktivitas saraf. Ketika waktu tidur berkurang atau kualitas tidurnya buruk, kerja otak bisa menjadi lebih sensitif.

Pada anak dengan epilepsi, kondisi tersebut dapat memicu aktivitas listrik abnormal yang berujung pada kejang. Karena itu, dokter sering menekankan pentingnya pola tidur yang teratur bagi anak dengan riwayat kejang.

Kurang tidur juga dapat membuat tubuh anak mengalami kelelahan fisik dan mental. Saat tubuh lelah, kemampuan otak untuk menjaga kestabilan sinyal saraf menjadi menurun. Akibatnya, risiko kejang bisa meningkat, terutama jika anak juga mengalami stres, demam, atau terlalu lama menatap layar gadget. Kombinasi beberapa faktor ini sering menjadi pemicu yang tidak disadari orang tua.

Menurut pakar neurologi anak dari Mayo Clinic, Elaine Kiriakopoulos, tidur memiliki peran penting dalam menjaga kestabilan aktivitas otak pada penderita epilepsi. Ia menjelaskan bahwa “sleep deprivation is a well-known trigger for seizures.” Pernyataan tersebut menegaskan bahwa kurang tidur memang dikenal sebagai salah satu pemicu kejang yang paling umum pada pasien epilepsi.

Anak-anak masa kini juga semakin dekat dengan gadget dan aktivitas digital hingga larut malam. Banyak yang masih bermain gim, menonton video, atau menggunakan ponsel sebelum tidur. Cahaya dari layar elektronik dapat mengganggu produksi hormon melatonin yang membantu tubuh merasa mengantuk. Akibatnya, anak menjadi lebih sulit tidur nyenyak dan waktu istirahatnya berkurang.

Selain menjaga jam tidur, orang tua juga perlu memperhatikan rutinitas malam anak. Membiasakan tidur dan bangun di jam yang sama setiap hari dapat membantu otak bekerja lebih stabil.

Suasana kamar yang nyaman, minim cahaya terang, dan jauh dari suara bising juga penting untuk meningkatkan kualitas tidur anak. Hal-hal sederhana seperti ini sering kali memberi pengaruh besar bagi kesehatan saraf anak.

Jika anak memiliki riwayat kejang, orang tua sebaiknya mulai mencatat pola tidur dan waktu munculnya kejang. Catatan tersebut dapat membantu dokter mengetahui apakah kurang tidur menjadi salah satu pemicunya.

Jangan ragu berkonsultasi apabila anak sering tidur larut, mendengkur berat, atau terlihat sangat lelah saat bangun pagi. Gangguan tidur yang dibiarkan terlalu lama bisa memengaruhi kondisi kesehatan anak secara keseluruhan.

Pada akhirnya, tidur bukan sekadar waktu istirahat biasa. Bagi anak dengan epilepsi atau riwayat kejang, tidur cukup merupakan bagian penting dari upaya menjaga kesehatan otak.

Karena itu, orang tua perlu lebih memperhatikan kebiasaan tidur anak sejak dini. Dengan pola tidur yang baik, risiko kejang dapat ditekan dan anak bisa menjalani aktivitas sehari-hari dengan lebih nyaman.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....