Kenali Gejala dan Cara Penularan Hantavirus

  • 12 Mei 2026 11:10 WIB
  •  Pekanbaru

RRI.CO.ID, Pekanbaru - Hantavirus menjadi salah satu virus berbahaya yang penularannya berkaitan dengan hewan pengerat, khususnya tikus. Berdasarkan edukasi dari dr. Ayman Alatas di akun X nya @AymanAlatas, virus ini tidak menular antarmanusia, melainkan melalui kontak langsung dengan sisa kotoran tikus yang terinfeksi.

Penyakit ini sering muncul di area kotor tempat tikus dapat berkembang biak dan meninggalkan jejak kotoran yang menjadi sumber utama penyebaran virus ini. Mengetahui pemahaman mengenai cara penyebaran dan gejalanya menjadi sangat penting bagi masyarakat agar tidak menimbulkan kepanikan namun tetap waspada dalam menjaga kebersihan lingkungan.

Cara penularan utama Hantavirus terjadi melalui partikel yang tersebar di udara (aerolisasi) dari urine, kotoran, atau air liur tikus yang mengandung virus. Menurut dr. Ayman, ketika urine, kotoran, atau air liur tikus yang mengandung virus mengering, partikel mikroskopisnya akan menyatu dengan debu.

Saat seseorang menyapu atau membersihkan area tersebut, debu yang terkontaminasi akan terbang dan sangat mudah terhirup masuk ke dalam paru-paru manusia. Selain melalui udara, infeksi juga bisa terjadi melalui kontak langsung, jika seseorang menyentuh benda yang terkontaminasi kemudian menyentuh area wajah (mata, hidung, mulut) tanpa mencuci tangan terlebih dahulu, atau dalam kasus yang lebih jarang, melalui gigitan tikus.

Gejala yang ditimbulkan oleh infeksi Hantavirus sering kali menyerupai gejala flu pada tahap awal (flu-like symptoms). Gejala tersebut meliputi demam tinggi secara tiba-tiba, nyeri otot (terutama di bagian punggung, paha, dan bahu), sakit kepala, serta rasa lelah yang hebat. Gejala lainnya bisa berupa rasa mual, muntah, atau sakit perut. Karena kemiripan gejala ini dengan penyakit ringan lain, banyak orang sering kali terlambat menyadarinya.

dr. Ayman juga menekankan bahwa kondisi ini dapat berkembang menjadi sangat serius dalam waktu singkat. Dalam hitungan hari, virus ini dapat menyebabkan penumpukan cairan di paru-paru secara drastis (Hantavirus Pulmonary Syndrome). Penderita akan merasa sangat sesak, seolah-olah tidak bisa menghirup oksigen sama sekali, yang jika tidak segera ditangani dengan alat bantu pernapasan (ventilator) di rumah sakit, dapat menyebabkan kematian dalam waktu singkat.

Hingga saat ini, belum ada pengobatan khusus atau vaksin Hantavirus. Penanganan di rumah sakit biasanya hanya sebagai pendukung untuk membantu fungsi organ tubuh tetap stabil, seperti pemberian bantuan oksigen atau penggunaan ventilator pada pasien yang mengalami gagal napas. Oleh karena itu, deteksi dini sangatlah penting. Jika seseorang tiba-tiba mengalami demam tinggi dan sesak napas setelah beraktivitas di lingkungan yang banyak tikusnya, sangat disarankan untuk segera memeriksakan diri ke dokter.

Langkah pencegahan yang paling utama adalah dengan melakukan pengendalian populasi tikus di sekitar tempat tinggal dan menjaga kebersihan lingkungan. dr. Ayman menyarankan masyarakat untuk menutup celah-celah di rumah yang berpotensi menjadi sarang tikus dan selalu menggunakan alat pelindung diri seperti masker dan sarung tangan saat sedang bersih-bersih. Selain itu, sangat disarankan untuk menyemprotkan disinfektan pada kotoran tikus sebelum dibersihkan agar debunya tidak terbang dan terhirup. Dengan langkah pencegahan yang tepat, risiko penularan Hantavirus dapat ditekan secara signifikan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....