Mitos atau Fakta di Balik Tren Kekinian Minum Cuka Apel, Benarkah Seajaib Itu?
- 09 Mei 2026 14:15 WIB
- Pekanbaru
RRI.CO.ID, Pekanbaru - Belakangan ini, tren minum cuka apel semakin ramai dibicarakan di media sosial. Ada yang rutin meminumnya setiap pagi untuk diet, ada pula yang percaya cuka apel bisa menjadi “minuman ajaib” untuk membersihkan tubuh hingga menurunkan gula darah.
Tak sedikit juga influencer kesehatan yang membagikan kebiasaan minum cuka apel sebagai bagian dari gaya hidup sehat. Namun pertanyaannya, apakah semua klaim itu benar-benar terbukti secara ilmiah?
Faktanya, cuka apel memang memiliki beberapa manfaat kesehatan. Tetapi di balik popularitasnya, ada pula risiko yang sering kali luput diperhatikan masyarakat. Cuka apel sendiri merupakan cairan hasil fermentasi sari apel yang menghasilkan asam asetat. Kandungan inilah yang dipercaya memiliki efek tertentu bagi tubuh.
Salah satu mitos paling populer adalah cuka apel bisa menurunkan berat badan dengan cepat. Banyak orang percaya cukup minum satu atau dua sendok setiap hari, maka lemak tubuh akan otomatis berkurang.
Namun menurut Mayo Clinic , klaim tersebut belum terbukti kuat secara ilmiah. Beberapa penelitian memang menunjukkan adanya efek kecil terhadap rasa kenyang, tetapi hasilnya belum signifikan untuk disebut sebagai solusi utama penurunan berat badan, artinya, cuka apel bukan jalan pintas untuk diet. Pola makan sehat dan aktivitas fisik tetap menjadi faktor utama dalam menjaga berat badan.
Selain itu, ada pula anggapan bahwa cuka apel bisa “detoks tubuh”. Padahal hingga saat ini belum ada bukti medis kuat yang menyatakan tubuh membutuhkan detoks dari minuman tertentu. Tubuh manusia sebenarnya sudah memiliki sistem alami melalui hati dan ginjal untuk membuang zat sisa.
Ada Manfaatnya, Tapi Tidak Berlebihan, Meski begitu, bukan berarti cuka apel tidak memiliki manfaat sama sekali. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa kandungan asam asetat pada cuka apel dapat membantu mengontrol lonjakan gula darah setelah makan, terutama pada penderita diabetes tipe 2 atau resistensi insulin.
Ada juga studi yang menyebut cuka apel berpotensi membantu menjaga kesehatan jantung dan meningkatkan sensitivitas insulin. Namun efeknya masih tergolong ringan dan tidak bisa menggantikan pengobatan medis. Karena itu, para ahli mengingatkan agar masyarakat tidak menjadikan cuka apel sebagai “obat utama” untuk penyakit tertentu.
Perlu kita pahami adalah resiko yang sering diabaikan. Di balik tren sehat tersebut, ada efek samping yang perlu diperhatikan. Karena sifatnya sangat asam, konsumsi cuka apel berlebihan bisa menyebabkan iritasi tenggorokan, gangguan lambung, hingga merusak enamel gigi. Bahkan jika diminum tanpa dicampur air, risikonya bisa lebih besar.
| Baca juga: Gangguan Kulit pada Gen Z |
Dalam jangka panjang, konsumsi berlebihan juga dapat memengaruhi kadar kalium tubuh dan berinteraksi dengan beberapa obat seperti insulin, diuretik, dan obat diabetes tertentu. Orang dengan maag, GERD, gangguan lambung, ibu hamil, maupun yang sedang menjalani pengobatan rutin juga disarankan lebih berhati-hati sebelum mengonsumsi cuka apel secara rutin.
Jadi, Boleh atau Tidak? Jawabannya boleh, selama dikonsumsi dengan bijak. Para ahli umumnya menyarankan konsumsi sekitar 1–2 sendok makan yang sudah diencerkan dalam segelas air, dan tidak diminum secara berlebihan setiap hari.
Yang terpenting, masyarakat perlu memahami bahwa tidak ada satu minuman yang bisa langsung membuat tubuh sehat secara instan. Gaya hidup sehat tetap dimulai dari hal-hal sederhana seperti makan bergizi seimbang, cukup tidur, rutin bergerak, dan menjaga pola hidup yang konsisten. Karena pada akhirnya, kesehatan bukan soal mengikuti tren semata, tetapi soal memahami apa yang benar-benar dibutuhkan tubuh.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....