Mengenal Burnout sebagai Penghambat Produktivitas Kerja

  • 07 Mei 2026 10:36 WIB
  •  Pekanbaru

RRI.CO.ID, Pekanbaru - Dalam kehidupan pekerja yang kompetitif, stres menjadi tantangan harian yang sulit dihindari. Namun, terdapat satu kondisi yang lebih serius dari sekadar stres biasa bernama burnout.

Menurut Haryanto F. Rosyid dalam Buletin Psikologi UGM, burnout merupakan sebuah sindrom yang mencerminkan reaksi emosional yang intens, terutama bagi pekerja di bidang pelayanan kemanusiaan. Kondisi ini pertama kali diidentifikasi secara mendalam oleh Maslach di 1982 sebagai bentuk kelelahan fisik, emosional, dan mental yang sering kali disertai dengan penurunan rasa percaya diri yang signifikan.

Seseorang yang mengalami burnout biasanya akan menunjukkan gejala melalui empat dimensi utama yang diidentifikasi oleh Baron dan Greenberg dalam bukunya “Behavior in Organizations: Understanding and Managing the Human Side of Work”. Dimensi pertama adalah kelelahan fisik yang menyebabkan individu merasa kelelahan secara terus-menerus dan mengalami gangguan kesehatan fisik.

Kedua adalah kelelahan emosional yang ditandai dengan perasaan depresi serta merasa terperangkap dalam rutinitas. Ketiga adalah kelelahan mental yang memicu munculnya perasaan negatif terhadap rekan kerja maupun organisasi. Terakhir adalah perasaan rendahnya penghargaan diri yang membuat seseorang merasa bahwa prestasi kerjanya yang telah dicapai tidak berarti dan masa depan tampak suram.

Terjadinya burnout bukan tanpa sebab, melainkan hasil interaksi antara karakteristik individu dengan faktor organisasi. Stres kerja dapat muncul ketika faktor-faktor pekerjaan bersinggungan dengan kondisi psikologis seseorang yang tidak berfungsi normal.

Dalam pekerjaan, beban kerja yang berlebihan, kurangnya peluang promosi, serta sistem aturan yang terlalu kaku menjadi pemicu utama yang membuat karyawan merasa usaha yang telah diberikan sia-sia. Hal ini memberi kesan bahwa lingkungan kerja tidak lagi memberikan dukungan yang sebanding dengan pengorbanan karyawan.

Dampak dari fenomena ini sangat merugikan, baik bagi individu maupun tempat bekerja. Karyawan yang terjebak burnout cenderung kehilangan tanggung jawab terhadap perusahaan dan bersikap tak acuh terhadap tugas-tugasnya. Penurunan produktivitas karyawan sangat mempengaruhi perusahaan, yang sering kali diikuti dengan tingginya angka libur kerja dan keinginan keluar dari pekerjaan tersebut. Jika tidak segera ditangani, kondisi ini akan merusak atmosfer kerja secara keseluruhan dan menghambat pencapaian target-target perusahaan.

Untuk mengatasi fenomena ini, diperlukan langkah strategis dari perusahaan maupun dukungan sosial yang kuat. Pentingnya pemberian sistem penghargaan yang sesuai dengan pengorbanan karyawan untuk meningkatkan kembali semangat kerja.

Selain itu, metode job redesign atau perancangan kembali tugas kerja yang lebih bervariasi dapat membantu mengurangi kejenuhan yang monoton. Dukungan sosial dapat membantu memulihkan harga diri motivasi yang sehat dan produktivitas.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....