Norma Gender di Sekitar Kita: Hal Kecil yang Sering Dianggap Biasa

  • 20 Apr 2026 17:27 WIB
  •  Pekanbaru

RRI.CO.ID, Pekanbaru - Norma gender tidak selalu terlihat dalam bentuk aturan yang jelas. Justru, dalam kehidupan sehari-hari, norma ini sering muncul dalam hal-hal kecil yang tanpa disadari dianggap wajar oleh masyarakat.

Salah satu contoh yang diangkat dalam obrolan program Sore Ceria Pro 2 Pekanbaru, bersama dengan dr. Yovie Suryani, Alumni CIMSA FK UNRI dan Putri Ramadhani Wibowo, PETRA CIMSA FK UNRI pada Kamis, 2 April 2026 lalu adalah bagaimana cara pandang terhadap laki-laki dan perempuan dalam dunia kesehatan.

dr.Yovie menjelaskan perempuan yang mengeluh sakit sering kali langsung dikaitkan dengan stres atau kondisi emosional. Sementara itu, laki-laki yang mengalami keluhan serupa cenderung diasosiasikan dengan gaya hidup, seperti merokok atau kelelahan fisik. Perbedaan cara pandang ini menunjukkan bahwa norma gender masih memengaruhi cara kita menilai seseorang, bahkan dalam situasi yang seharusnya objektif.

"Selain itu, norma gender juga terlihat dalam cara masyarakat memandang emosi. Laki-laki sering dianggap tidak boleh menangis atau menunjukkan kelemahan, sementara perempuan lebih “diizinkan” untuk mengekspresikan perasaan," ujarnya.

Menurut dr. Yovie, baik laki-laki maupun perempuan sama-sama memiliki emosi yang perlu disalurkan. Jika emosi tersebut dipendam, dampaknya bisa cukup serius, mulai dari stres, gangguan tidur, hingga masalah kesehatan fisik seperti sakit kepala atau gangguan lambung.

Tidak hanya itu, norma gender juga masih terlihat dalam pembagian peran sosial. Putri Ramadhani Wibowo mencontohkan di beberapa lingkungan, masih ada anggapan bahwa perempuan sebaiknya tidak bekerja di luar rumah.

Pandangan seperti ini menunjukkan bahwa meskipun zaman telah berubah, sebagian masyarakat masih berpegang pada pola pikir lama. Hal ini tentu menjadi tantangan tersendiri dalam menciptakan kesetaraan.

Dari berbagai contoh tersebut, terlihat norma gender masih sangat dekat dengan kehidupan. Oleh karena itu, penting untuk mulai lebih sadar dan kritis dalam melihat apakah suatu kebiasaan benar-benar relevan atau hanya sekadar mengikuti pola lama.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....