Kasus HIV di Riau Tembus 11 Ribu
- 02 Apr 2026 14:41 WIB
- Pekanbaru
RRI.CO.ID, Pekanbaru - Dinas Kesehatan Riau merilis perkembangan kasus Human Immunodeficiency Virus (HIV) dalam kurun waktu hampir tiga dekade terakhir. Sejak 1997 hingga 2025, jumlah kasus yang terdata mencapai 11.336 orang.
Kepala Dinas Kesehatan Riau, Zulkifli, menyampaikan bahwa dari total tersebut, sebanyak 6.990 penderita masih hidup, sementara 4.480 kasus telah memasuki stadium AIDS.
“Sejak tahun 1997 ditemukan 11.336 kasus, dengan 6.990 orang masih hidup dan 4.480 sudah berada pada stadium AIDS,” ujarnya, Kamis 2 April 2026.
Ia menjelaskan, tren kasus HIV di Riau menunjukkan peningkatan dari tahun ke tahun. Pada periode awal 1997 hingga 2005 tercatat 85 kasus, kemudian terus bertambah hingga mencapai lebih dari seribu kasus per tahun dalam beberapa tahun terakhir.
Data mencatat, lonjakan signifikan terjadi sejak 2013 dengan 433 kasus, lalu meningkat menjadi 738 kasus pada 2015. Meski sempat fluktuatif, angka kembali melonjak dalam lima tahun terakhir, yakni 835 kasus pada 2022, 1.001 kasus pada 2023, 1.006 kasus pada 2024, dan 1.051 kasus pada 2025.
Zulkifli menyebutkan, penyebaran kasus HIV telah ditemukan di seluruh kabupaten dan kota di Riau. Namun, Kota Pekanbaru menjadi wilayah dengan kontribusi terbesar, mencapai 58,20 persen atau setara dengan 6.598 kasus.
“Kasus ada di seluruh daerah, namun Pekanbaru mendominasi dengan lebih dari setengah total temuan,” katanya.
Selain Pekanbaru, jumlah kasus cukup tinggi juga ditemukan di Kabupaten Bengkalis sebanyak 951 kasus, Kota Dumai 855 kasus, Pelalawan 596 kasus, Rokan Hilir 556 kasus, dan Indragiri Hilir 477 kasus. Sementara daerah lainnya mencatat angka di bawahnya.
Dinas Kesehatan Riau mengingatkan masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan terhadap penularan HIV/AIDS. Edukasi serta kesadaran menjadi kunci dalam menekan angka penyebaran penyakit tersebut.
“Kami mengimbau masyarakat untuk menghindari perilaku berisiko, melakukan skrining rutin bagi kelompok rentan, serta menggunakan pengaman untuk mencegah penularan,” ungkapnya.
Selain itu, masyarakat juga diingatkan untuk tidak menggunakan jarum suntik secara bergantian dan segera menjalani terapi antiretroviral (ARV) bagi yang telah terdiagnosis, guna meningkatkan kualitas hidup sekaligus menekan penularan lebih lanjut.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....