Parkinson’s Law: Pekerjaan Menghabiskan Waktu Sepanjang Tenggat Waktunya

  • 26 Agt 2026 00:52 WIB
  •  Pekanbaru

RRI.CO.ID,Pekanbaru - Pernahkah saat diberi waktu satu minggu untuk menyelesaikan sebuah tugas yang sebenarnya bisa selesai dalam dua jam, tetapi kamu baru benar-benar menyelesaikannya tepat di menit-menit terakhir sebelum deadline? Atau ketika durasi rapat dijadwalkan selama satu jam, pembahasannya sering kali sengaja diulur-ulur hingga pas satu jam penuh?

Fenomena ini dijelaskan secara tepat oleh Parkinson’s Law (Hukum Parkinson). Hukum Parkinson menyatakan bahwa Work expands so as to fill the time available for its completion yang artinya pekerjaan akan mengembang hingga menghabiskan seluruh waktu yang tersedia untuk penyelesaiannya.

Berdasarkan Very Well Mind, prinsip ini pertama kali dicetuskan oleh Cyril Northcote Parkinson, seorang sejarawan dan penulis asal Inggris, dalam esai satir yang ditulisnya untuk majalah The Economist pada tahun 1955. Ia mengamati bagaimana birokrasi pemerintah terus membengkak dan menambah jumlah pegawai, bukan karena beban kerjanya bertambah, melainkan karena cara kerja birokrasi yang cenderung memperlama proses.

Saat mengalokasikan waktu untuk sebuah tugas, otak secara otomatis menyesuaikan tingkat kompleksitas dan usaha berdasarkan rentang waktu tersebut, bukan berdasarkan beban kerja aktualnya.

  • Prokrastinasi yang Disengaja: Jika tenggat waktu masih longgar, kita cenderung menunda-nunda penulisan atau eksekusi, merasa masih memiliki banyak waktu.
  • Over-Complicating (Komplikasi Berlebihan): Waktu ekstra yang melimpah sering digunakan untuk merapikan hal-hal sepele yang tidak krusial, mengubah format berulang kali, atau terjebak dalam perfectionism berlebih.
  • Rapat yang Tidak Efektif: Rapat yang dialokasikan selama 60 menit akan cenderung menghabiskan 60 menit, meskipun poin utamanya sebenarnya selesai dibahas dalam 15 menit pertama.

Jika dibiarkan tanpa kendali, Hukum Parkinson dapat merugikan pengelolaan waktu dan energi secara signifikan:

  1. Pemborosan Waktu Efektif: Tugas-tugas sederhana menyerap waktu berharga yang seharusnya bisa dialokasikan untuk pekerjaan prioritas lainnya.
  2. Kelelahan Mental (Burnout) : Mengerjakan tugas sederhana dalam durasi yang terlalu lama akibat overthinking justru memicu kelelahan psikologis yang sama besar dibanding mengerjakan tugas sulit.
  3. Meningkatnya Stres Menjelang Deadline : Penundaan di awal akibat merasa waktu masih panjang akhirnya memicu kepanikan dan hasil yang kurang maksimal di detik-detik akhir.

Menariknya, hukum parkinson dapat digunakan untuk bekerja demi keuntungan kita. Dengan membatasi waktu secara sengaja, kita memaksa otak untuk fokus pada hal yang paling penting. Hal tersebut dapat dilakukan dengan beberapa cara berikut :

  • Tetapkan deadline buatan yang cepat: Jika sebuah laporan normalnya diberi waktu 3 hari, tantang untuk menyelesaikannya dalam waktu 3 jam. Pembatasan ini memangkas dorongan untuk menunda.
  • Terapkan timeboxing / teknik pomodoro: Bagi hari kerja menjadi blok-blok waktu yang ketat dan fokus (misalnya 25 menit kerja fokus penuh tanpa distraksi).
  • Prinsip pareto (Aturan 80/20): Identifikasi 20% upaya utama yang menghasilkan 80% dampak. Selesaikan bagian krusial tersebut terlebih dahulu sebelum terdistraksi oleh detail-detail minor.
  • Persingkat durasi rapat: Ubah durasi bawaan rapat dari 60 menit menjadi 15 atau 20 menit. Batas waktu yang ketat mendorong peserta rapat langsung masuk ke poin utama tanpa basa-basi.

Hukum Parkinson dapat mendatangkan keuntungan apabila kita bisa menetapkan batas waktu dan komitemen untuk tidak menunda. Waktu bukanlah wadah yang harus selalu diisi sampai penuh. Dengan menetapkan batasan yang jelas, banyak hal bisa diselesaikan dalam waktu yang lebih singkat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....