Alasan Masyarakat China Suka Mengonsumsi Rebung
- 21 Agt 2026 11:58 WIB
- Pekanbaru
RRI.CO.ID, Pekanbaru - Rebung atau tunas muda bambu bukan sekadar tanaman yang tumbuh liar bagi masyarakat China. Bahan pangan ini telah menjadi bagian dari tradisi kuliner selama berabad-abad dan digunakan dalam berbagai hidangan.
China bahkan disebut sebagai negara dengan sejarah konsumsi rebung terpanjang, sekaligus salah satu produsen rebung terbesar di dunia. Kajian yang diterbitkan Trends in Food Science & Technology menyebut China memiliki lebih dari 800 spesies bambu yang terdokumentasi, dengan sekitar 153 spesies di antaranya menghasilkan rebung yang dapat dimakan.
Salah satu alasan rebung tetap digemari adalah karena bahan pangan ini sudah melekat kuat dalam budaya masyarakat China. Pemerintah China melalui situs Kementerian Kehutanan dan Padang Rumput menyebut tradisi mengonsumsi rebung bahkan telah ada sejak zaman Shang. Literatur klasik China juga mencatat beragam jenis dan cita rasa rebung, menunjukkan bahwa bahan pangan tersebut telah lama mendapat tempat dalam kehidupan masyarakat.
Dikutip dari China Daily selain nilai budaya, rebung disukai karena teksturnya yang renyah dan cita rasanya yang khas. Di berbagai daerah China, rebung dapat diolah menjadi sup, ditumis, direbus, diasinkan, difermentasi hingga dijadikan makanan pendamping. China Daily mencatat rebung musim semi menjadi salah satu makanan yang dinantikan, bahkan pernah menjadi bahan pangan yang mendapat tempat di kalangan bangsawan dan disebut dalam karya para penyair China.
Penggunaan rebung juga sangat beragam sesuai dengan karakter kuliner daerah. Di Sichuan, misalnya, rebung difermentasi menjadi suansun atau rebung asam yang digunakan dalam berbagai hidangan, termasuk mi. Sementara di wilayah Kanton, rebung digunakan dalam dim sum, pangsit, sup dan berbagai masakan lainnya. Penelitian mengenai rebung asam Guangxi juga menyebut tradisi mengonsumsi suansun telah berlangsung lebih dari 2.000 tahun dan kini menjadi bagian penting dari kuliner setempat.
Faktor lain yang membuat rebung menarik adalah kandungan nutrisinya. Sejumlah penelitian menyebut rebung memiliki serat, vitamin, mineral dan senyawa bioaktif, dengan kandungan lemak dan kalori yang relatif rendah. Kajian terbaru juga menyoroti potensinya sebagai sumber pangan bergizi. Namun, rebung segar harus diolah dengan benar sebelum dikonsumsi karena beberapa jenis mengandung senyawa sianogenik yang perlu dikurangi melalui proses seperti perebusan.
Popularitas rebung akhirnya tidak hanya bertahan di meja makan, tetapi juga berkembang menjadi komoditas ekonomi. China memiliki kawasan hutan bambu yang sangat luas dan menghasilkan jutaan ton rebung setiap tahun. Di sejumlah daerah, aktivitas memanen dan mengolah rebung bahkan menjadi bagian penting dari perekonomian masyarakat. Dengan perpaduan antara tradisi yang telah mengakar, cita rasa khas, fleksibilitas pengolahan serta nilai gizinya, tak mengherankan jika rebung tetap menjadi salah satu bahan pangan yang populer dalam kuliner China.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....