Pendidikan Seks untuk Anak Berkebutuhan Khusus Perlu Diberikan sejak Dini
- 25 Agt 2026 18:21 WIB
- Pekanbaru
RRI.CO.ID, Pekanbaru - Pendidikan seks tidak hanya penting diberikan kepada anak dan remaja pada umumnya, tetapi juga kepada anak berkebutuhan khusus. Pemahaman tersebut diperlukan agar anak mampu mengenali tubuh, memahami batasan, sekaligus melindungi dirinya dari berbagai risiko, termasuk pelecehan seksual.
Hal tersebut disampaikan Indah Puji Ratnani, Dosen Fakultas Psikologi UIN Suska Riau sekaligus Ketua SOIna Provinsi Riau, dalam program Spada OPSI (Obrolan Seputar Psikologi) Programa 2 RRI Pekanbaru.
Menurut Indah, pendidikan seks sebaiknya diberikan sejak anak masih dini. Namun, materi dan cara penyampaiannya harus disesuaikan dengan usia serta kemampuan anak dalam menerima informasi.
“Sebenarnya kalau dari pendidikan seks edukasi itu sudah lebih dari dini. Karena imbasnya untuk memahami dan minimal melindungi,” ujar Indah.
Ia menjelaskan, pendidikan tersebut tidak harus langsung membicarakan pubertas atau persoalan seksual secara kompleks. Pada tahap awal, anak dapat dikenalkan dengan bagian tubuh, perbedaan gender, batasan sentuhan, serta bagian tubuh yang harus dilindungi.
Pemahaman tersebut kemudian dapat dikembangkan seiring pertumbuhan anak. Ketika memasuki masa pubertas dan mengalami perubahan hormonal, anak diharapkan sudah memiliki bekal untuk memahami perubahan yang terjadi pada dirinya.
“Kita menyicil untuk nanti semakin dia paham ketika mengalami masa pubertas. Ketika sensasinya itu, dia sudah mampu untuk mengantisipasi dirinya seperti apa. Ini yang boleh, ini yang tidak boleh,” jelasnya.
Indah menekankan, pendidikan seks bagi anak berkebutuhan khusus membutuhkan pendekatan yang lebih personal. Sebab, kemampuan setiap anak dalam menerima dan menyampaikan informasi berbeda-beda.
Pada anak dengan hambatan komunikasi, misalnya, orang tua maupun pendidik dapat menggunakan bahasa yang lebih sederhana, bantuan bahasa isyarat, atau pendekatan visual. Penyampaian juga mungkin perlu dilakukan berulang kali hingga anak benar-benar memahami pesan yang diberikan.
“Kalau mungkin anak biasa bahasanya cukup sekali dua kali mereka paham. Tapi anak ini butuh mungkin sepuluh kali, kenapa tidak? Tapi itu wajib kita berikan,” ungkapnya.
Menurut Indah, pendidikan tersebut juga perlu melibatkan keluarga dan sekolah. Bukan hanya anak yang diberikan pemahaman, orang tua juga perlu memahami cara menghadapi perkembangan anak, termasuk ketika memasuki masa pubertas.
Ia menilai keterbukaan antara orang tua, sekolah, keluarga besar, dan lingkungan sangat diperlukan. Dengan demikian, ketika muncul perilaku atau perubahan yang berkaitan dengan perkembangan seksual, orang-orang di sekitar anak dapat menyikapinya secara tepat, bukan justru memberikan stigma.
Selain edukasi, Indah menyebut aktivitas fisik dapat menjadi salah satu cara membantu anak mengelola energi ketika mengalami perubahan hormonal. Aktivitas seperti berlari atau berenang dapat menjadi pilihan karena membantu anak menyalurkan energi secara positif.
Menurutnya, pendidikan seks bukan sesuatu yang seharusnya dianggap tabu. Justru dengan membicarakannya secara tepat dan sesuai usia, anak dapat memperoleh perlindungan yang lebih baik.
“Memang meskipun ini tabu, tapi layak untuk diperbincangkan. Karena apa? Ini ada muatan pendidikan. Kita nggak bisa abai dengan putra-putri kita yang ada di sekeliling kita,” pungkas Indah.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....