Mengenal Tiga Jenis Jejak Putih Pesawat
- 13 Mar 2026 10:55 WIB
- Pekanbaru
RRI.CO.ID, Pekanbaru - Saat memperhatikan jejak putih di belakang pesawat terkadang menghilang dengan cepat, namun di lain waktu justru malah melebar. Fenomena yang dikenal sebagai contrail atau condensation trail ini bisa terjadi dalam berbagai bentuk.
Berdasarkan penjelasan dari NASA, contrail adalah awan kristal es yang terbentuk dari pertemuan uap air panas mesin pesawat dengan udara atmosfer yang sangat dingin. Karakteristik jejak ini sangat bergantung pada kondisi suhu dan kelembapan di ketinggian tempat pesawat berada, yang kemudian membaginya menjadi tiga kategori utama berdasarkan durasi dan bentuknya.
UCAR Center for Science Education membeberkan tiga jenis contrails yang dapat terbentuk yaitu short-lived, persistent non-spreading, dan persistent spreading. Jenis pertama disebut contrail berdurasi pendek (short-lived). Jejak ini terlihat seperti garis putih tipis yang sangat pendek di belakang pesawat dan menghilang hampir seketika saat pesawat melintas. Fenomena ini terjadi ketika pesawat terbang melewati udara yang relatif kering. Karena jumlah uap air di atmosfer sekitarnya sangat sedikit, kristal es yang baru terbentuk akan segera kembali menjadi gas (menyublim) dalam hitungan menit atau bahkan detik, kehadiran jejak jenis ini biasanya menandakan bahwa cuaca di ketinggian tersebut sedang stabil dan cerah.
Jenis kedua bernama contrail persisten yang tidak menyebar (persistent non-spreading). Berbeda dengan jenis pertama, jejak ini tetap terlihat di langit lama setelah pesawat berlalu, namun bentuknya tetap berupa garis putih yang lurus dan tajam. Menurut literatur NASA, jejak ini terbentuk ketika udara di atmosfer cukup lembap sehingga kristal es tidak segera menyublim, namun tidak ada pergerakan angin yang kuat untuk membuyarkan polanya, keberadaan jejak persisten ini merupakan indikator atmosfer di ketinggian tersebut mengandung banyak uap air.
Jenis ketiga paling berdampak pada lingkungan disebut contrail persisten yang menyebar (persistent spreading). Jejak ini muncul ketika atmosfer sangat lembap dan tidak stabil, sehingga garis putih yang semula tipis mulai melebar, melengkung, dan akhirnya menyerupai awan sirus alami. Jejak jenis ini dapat bertahan berjam-jam dan menutupi area yang luas di langit, ketika banyak pesawat melewati jalur yang sama, jejak-jejak ini bisa menyatu dan membentuk lapisan awan buatan yang tebal, yang secara signifikan dapat mempengaruhi suhu di permukaan bumi.
Ketiga jenis contrail ini merupakan bukti visual bagaimana kondisi atmosfer di ketinggian sangat mempengaruhi jejak yang ditinggalkan pesawat. Mulai dari jejak pendek yang menghilang cepat hingga jejak persisten yang melebar menjadi awan sirus, setiap jenisnya memberikan indikasi mengenai tingkat kelembapan dan stabilitas udara di langit. Memahami perbedaan karakteristik ini sangat penting, karena jejak yang bertahan lama tidak hanya sekadar pemandangan di cakrawala, tetapi juga memiliki pengaruh nyata terhadap tutupan awan dan keseimbangan suhu di permukaan bumi.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....