Mengenal Reproduksi Tunggal Partenogenesis pada Dunia Hewan

  • 23 Feb 2026 11:00 WIB
  •  Pekanbaru

RRI.CO.ID, Pekanbaru - Dalam dunia biologi, reproduksi umumnya memerlukan pertemuan antara sel telur dan sel sperma. Namun, alam memiliki cara yang jauh lebih luar biasa bagi beberapa spesies untuk bertahan hidup melalui fenomena yang disebut Partenogenesis.

Berasal dari bahasa Yunani parthenos (perawan) dan genesis (kelahiran), fenomena ini merupakan bentuk reproduksi aseksual di mana sel telur betina berkembang menjadi embrio tanpa memerlukan pembuahan. Sebagaimana dijelaskan dalam laporan National Geographic, fenomena ini merupakan strategi bertahan hidup yang memungkinkan spesies tetap lestari meski dalam kondisi terisolasi.

Komodo (Varanus komodoensis) menjadi salah satu contoh paling fenomenal dalam sejarah sains modern terkait proses ini. Pada tahun 2006, peneliti di Kebun Binatang Chester, Inggris, terkejut ketika seekor komodo betina bertelur dan menetaskan anak-anak yang sehat tanpa pernah bertemu pejantan. Berdasarkan studi yang dipublikasikan dalam Jurnal Nature, hasil tes DNA mengonfirmasi bahwa seluruh materi genetik anak-anak tersebut berasal murni dari sang induk. Fenomena ini membuktikan bahwa Komodo memiliki sistem adaptasi evolusioner yang luar biasa, bertindak sebagai strategi pertahanan populasi saat mereka terjebak dalam isolasi geografis yang membuat pertemuan dengan pasangan menjadi mustahil.

Secara teknis, proses ini melibatkan mekanisme genetik yang unik, terutama pada sistem kromosom seks. Berbeda dengan manusia (XY), komodo memiliki sistem kromosom ZW di mana betina adalah ZW dan jantan adalah ZZ. Menurut penelitian dalam Journal of Herpetology, saat partenogenesis terjadi, sel telur betina menggandakan materi genetiknya sendiri untuk memulihkan jumlah kromosom yang diperlukan bagi pertumbuhan embrio. Karena proses penggandaan ini, keturunan komodo hasil partenogenesis hampir selalu berjenis kelamin jantan (ZZ), yang secara evolusi memungkinkan sang betina untuk menciptakan pasangan bagi dirinya sendiri di masa depan.

Selain komodo, partenogenesis juga ditemukan pada berbagai spesies hewan lainnya seperti serangga, amfibi, hingga ikan. Smithsonian's National Zoo mencatat bahwa beberapa spesies hiu martil dan hiu bambu yang hidup di penangkaran juga menunjukkan kemampuan ini saat terpisah dari pejantan dalam waktu lama. Pada lebah, partenogenesis bahkan menjadi bagian dari sistem sosial mereka. Telur yang tidak dibuahi akan berkembang menjadi lebah jantan (drones), sedangkan yang dibuahi menjadi lebah pekerja atau ratu. Ini menunjukkan bahwa kemampuan ini adalah alat adaptasi yang sangat fleksibel di berbagai tingkatan kerajaan hewan.

Meskipun memberikan keuntungan luar biasa dalam situasi isolasi, partenogenesis memiliki keterbatasan dalam jangka panjang. Karena tidak ada percampuran materi genetik dari dua individu, keturunan yang dihasilkan memiliki variasi genetik yang sangat rendah. Hal ini membuat mereka lebih rentan terhadap serangan penyakit atau perubahan lingkungan yang drastis. Oleh karena itu, bagi hewan seperti komodo, reproduksi seksual tetap menjadi jalur utama untuk menjaga ketangguhan spesies, sementara partenogenesis berfungsi sebagai jembatan penyelamat agar garis keturunan mereka tidak terputus di tengah kesunyian pulau.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....