Petang Belimau, Tradisi Suci Sambut Ramadan di Pekanbaru

  • 28 Feb 2026 14:48 WIB
  •  Pekanbaru

RRI.CO.ID, Pekanbaru - Petang belimau, sebuah tradisi turun-temurun masyarakat Melayu di Pekanbaru yang selalu hadir menjelang bulan suci Ramadan. Tradisi ini bukan sekadar mandi bersama, tetapi menjadi simbol penyucian diri, mempererat silaturahmi, sekaligus wujud syukur dalam menyambut bulan penuh berkah.

Sekretaris Umum Majelis Kerapatan Adat Lembaga Adat Melayu Riau Kota Pekanbaru, Tengku Arifin, menjelaskan tradisi petang belimau telah ada sejak lama dan menjadi bagian penting dari identitas masyarakat Melayu.

“Petang belimau ini adalah tradisi lama masyarakat Melayu untuk menyucikan diri sebelum memasuki bulan suci Ramadan. Ini bukan sekadar mandi, tetapi simbol membersihkan hati dan jiwa,” jelas Tengku Arifin.

Ia menerangkan, rangkaian kegiatan sudah dimulai sejak bulan Rajab dengan berbagai kegiatan keagamaan. Memasuki bulan Sya’ban, tradisi mencapai puncaknya. Diawali doa bersama pada malam hari, dilanjutkan ziarah kubur, hingga akhirnya prosesi petang belimau.

Sebelum mandi, masyarakat terlebih dahulu menyiapkan ramuan tradisional. Bahan-bahannya tidak sembarangan: pandan wangi, serai wangi, akar siak-siak, daun nilam, daun jeruk purut, mayang pinang, hingga perasan limau. Semua bahan direbus sejak pagi menggunakan tungku kayu bakar dalam panci besar.

“Air rebusan ini kemudian dibagikan kepada anak-anak dan tetangga. Di situ ada nilai kebersamaan dan berbagi,” tambahnya.

Menjelang sore, sekitar pukul lima, masyarakat berkumpul di tepian Sungai Siak. Mereka mandi bersama hingga menjelang waktu magrib. Di penghujung prosesi, air limau diguyurkan ke seluruh tubuh.

“Itulah simbol penyucian lahir dan batin. Membersihkan jasmani, hati, dan pikiran sebelum Ramadan tiba,” ujar Tengku Arifin.

Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Pekanbaru, Akmal Khairi, mengatakan Ramadan adalah bulan yang dinantikan seluruh umat Muslim di dunia.

“Ramadan adalah bulan suci, bulan penuh pahala. Sudah sepatutnya kita menyambutnya dalam keadaan bersih, baik secara fisik maupun spiritual,” katanya.

Menurut Akmal, Pemerintah Kota Pekanbaru mengemas petang belimau dengan konsep kekinian agar tetap relevan bagi generasi muda. Rangkaian kegiatan diawali dengan ziarah ke makam Marhum Pekan, pendiri Kota Pekanbaru, dilanjutkan arak-arakan menuju Rumah Singgah Tuan Kadi di tepian Sungai Siak.

Berbagai pertunjukan budaya turut memeriahkan suasana. Bahkan, prosesi mandi kini juga dilakukan secara simbolis menggunakan mobil pemadam kebakaran yang airnya telah dicampur air limau.

“Ini bagian dari upaya pelestarian budaya. Tradisi harus tetap hidup, tetapi juga bisa mengikuti perkembangan zaman,” jelasnya.

Wali Kota Pekanbaru, Agung Nugroho, menegaskan petang belimau merupakan warisan budaya yang patut dijaga.

“Tradisi ini memang bukan kewajiban dalam syariat Islam, tetapi sebagai budaya Melayu, ini harus kita pelihara. Selama tidak bertentangan dengan ajaran agama, tradisi seperti ini justru memperkuat identitas dan kebersamaan,” tegasnya.

Petang belimau bukan hanya tentang air limau yang menyegarkan tubuh. Lebih dari itu, ia adalah simbol pembersihan diri, penguat silaturahmi, dan pengikat nilai budaya Melayu di tengah arus modernisasi.

Dari Tengku Arifin, kita memahami akar sejarah dan makna spiritualnya. Dari Akmal Khairi, terlihat komitmen pelestarian budaya yang dikemas kreatif. Dan dari Wali Kota Agung Nugroho, ada pesan kuat untuk terus menjaga tradisi sebagai bagian dari jati diri daerah.

Di tepian Sungai Siak, di antara tawa dan percikan air limau, masyarakat Pekanbaru bersukacita menyambut Ramadan. Sebuah tradisi lama yang tetap hidup, menjadi pengingat bahwa menyambut bulan suci bukan hanya tentang persiapan lahiriah, tetapi juga kesiapan hati.

Petang belima, warisan budaya, simbol penyucian, dan wujud kebersamaan menyambut Ramadan penuh keberkahan.

Rekomendasi Berita