Gas Bumi Hidupkan Peran Ibu Dukung Energi Negeri

  • 23 Des 2025 10:48 WIB
  •  Pekanbaru

KBRN, Pekanbaru: Dalam setiap rumah di Indonesia, dapur bukan sekadar ruang untuk menyiapkan makanan, melainkan tempat di mana cinta, manajemen, dan keputusan ekonomi berpadu dalam keseharian keluarga. Di balik nyala api kompor yang hangat, sesungguhnya tersimpan kisah besar tentang bagaimana bangsa ini belajar mengelola sumber daya energi dengan bijak.

Dan di jantung kisah itu, berdirilah sosok ibu pengelola energi yang paling efisien, paling rasional, sekaligus paling emosional dalam menjalankan fungsinya. Dalam setiap denyut kehidupan bangsa, energi selalu hadir sebagai darah yang mengalirkan peradaban. Namun, ada satu energi yang lebih mendalam, lebih halus, dan sering kali tak terucapkan yakni energi kasih seorang ibu.

Di tangan ibu, api bukan sekadar sumber panas, melainkan sumber kehidupan; tempat nasi ditanak, sayur dihangatkan, dan cinta dihidangkan. Karena itu, ketika negara menghadirkan jaringan gas bumi hingga ke rumah-rumah rakyat, sesungguhnya negara sedang mengalirkan bukan hanya energi fosil, tetapi juga energi kemanusiaan yang paling dirasakan manfaatnya oleh para ibu di seluruh pelosok Nusantara.

Program jaringan gas bumi untuk rumah tangga (jargas), yang kini menjadi bagian dari Program Strategis Nasional pemerintah, menghadirkan peluang baru bagi keluarga Indonesia untuk menikmati energi yang bersih, efisien, dan aman. Melalui program ini, gas bumi yang selama ini didistribusikan untuk industri kini dialirkan langsung ke rumah-rumah tangga melalui jaringan pipa.

Data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral hingga 2024 mencatat hampir satu juta sambungan rumah telah menikmati manfaat jargas di lebih dari 70 kota dan kabupaten, dan pemerintah menargetkan dua juta sambungan rumah tangga pada 2027 sebagai bagian dari strategi besar transisi energi nasional menuju net zero emission pada 2050. Namun, transisi energi tidak hanya bergantung pada infrastruktur dan teknologi, melainkan juga pada perilaku pengguna di tingkat rumah tangga, dan di sinilah peran ibu menjadi sangat sentral.

Dalam keseharian, ibu adalah pengambil keputusan utama dalam konsumsi energi rumah tangga: memilih kompor, mengatur anggaran, memastikan keamanan, dan menanamkan kebiasaan hemat energi bagi seluruh anggota keluarga. Keberhasilan jargas tidak hanya ditentukan oleh panjang pipa yang terpasang, tetapi juga oleh sejauh mana para ibu memahami dan menginternalisasi nilai efisiensi serta keberlanjutan energi dalam kesehariannya.

Setiap penggunaan LPG yang berkurang karena beralih ke jargas sejatinya mengurangi beban subsidi negara dan memperbaiki neraca energi nasional. Setiap rumah tangga yang beralih ke gas bumi berarti mengurangi emisi karbon, meningkatkan keamanan, dan menurunkan ketergantungan terhadap impor energi. Dari sudut pandang manajemen strategis, para ibu adalah agen perubahan mikro yang memiliki dampak makro terhadap perekonomian nasional.

Charly Simanullang, Mahasiswa Program Doktor Ilmu Manajemen Fakultas Eknomi dan Manajemen Bisnis Universitas Riau



Kisah nyata dari Siak dan Pelalawan di Provinsi Riau menunjukkan hal ini dengan gamblang. Di balik kesunyian ladang akasia dan hamparan sawit di Siak, jaringan gas bumi yang dikelola PT Perusahaan Gas Negara (PGN) kini mengalir senyap namun pasti, membawa kemudahan bagi masyarakat.

“Banyak perbedaan sejak pakai jargas. Lebih murah, mudah, dan nyaman. Dulu saya habis tiga tabung gas sebulan, sekitar Rp75 ribu. Sekarang tagihan jargas hanya Rp54 ribu,” ujar Ibu Susanti (58), warga Dusun Pinang Sebatang Timur.

Ia menambahkan bahwa kini tidak ada lagi ketakutan memasang regulator atau khawatir kebocoran. “Dengan jargas PGN, rasa takut itu hilang,” ujarnya lega.

Cerita sederhana ini menunjukkan bahwa rasa aman, efisiensi biaya, dan kemudahan adalah bentuk nyata nilai tambah publik yang dihasilkan oleh kebijakan energi yang berpihak pada rakyat.

Kisah lain datang dari Ibu Sugiem (63), pelaku usaha kecil di Pangkalan Kerinci, Kabupaten Pelalawan. Di dapurnya yang sederhana, kompor menyala bukan hanya untuk memasak, tetapi juga untuk menyalakan semangat hidup. Ia memproduksi telur asin, peyek, dan keripik pisang dengan penuh semangat.

“Sejak menggunakan Jargas PGN, saya merasa lebih enak dan semangat berusaha. Tidak bingung lagi mencari gas elpiji, tidak takut kebocoran. Produksi lebih banyak, hasil lebih bagus,” katanya dengan senyum lebar. Sebelumnya, ia sering kali menunda menggoreng adonan karena gas habis di tengah malam. Kini, ia bisa berproduksi lebih cepat dan konsisten. Dalam kisahnya, energi bersih menjadi penggerak produktivitas perempuan dan ekonomi rumah tangga.

Di Dusun Pinang Sebatang Timur, Ibu Waemun, ketua RT setempat, menuturkan bagaimana antusiasme warganya terhadap program ini begitu tinggi.

“Gratis semua. Kami tinggal terima bersih. Dulu kalau gas habis malam-malam, susah mencarinya. Sekarang tidak lagi. Bahkan kompor pun disediakan. Teknisi PGN sudah kami anggap seperti saudara,” ujarnya.

Ucapannya menunjukkan bahwa negara hadir bukan hanya sebagai penyedia layanan, tetapi juga sebagai pelindung keseharian rakyat.

Dari ketiga kisah ibu-ibu itu, kita belajar tentang sesuatu yang lebih dalam daripada sekadar konversi energi: transformasi sosial. Program gas bumi rumah tangga bukan hanya mengalihkan sumber energi dari LPG ke gas pipa, tetapi juga mengubah cara ibu-ibu menjalani kehidupan. Waktu yang dulu habis mencari gas kini menjadi waktu bersama keluarga. Uang yang dulu tersedot untuk membeli elpiji kini dapat digunakan untuk pendidikan anak. Energi bersih telah memberi napas baru pada ekonomi rumah tangga unit terkecil dari perekonomian nasional.

Dari perspektif manajemen pembangunan, inilah esensi dari energi berkeadilan ketika kebijakan strategis nasional benar-benar menyentuh sendi kehidupan rakyat. PGN sebagai BUMN energi telah menunjukkan peran transformatifnya dengan mengimplementasikan prinsip “customer intimacy” dan “social value creation”, di mana inovasi tidak berhenti pada teknologi, tetapi juga menyentuh dimensi sosial, terutama pemberdayaan perempuan. Kampanye “Gas Bumi Ceria: Ibu Hebat, Anak Kreatif” adalah contoh nyata bagaimana energi menjadi medium pendidikan, ekonomi, dan solidaritas sosial.

Ke depan, transisi energi di Indonesia menuju energi bersih tidak boleh melupakan dimensi sosial seperti ini. Ibu ibu di dapur adalah simbol pengguna akhir energi, tetapi juga agen perubahan dalam keluarga dan komunitas. Ketika mereka beralih ke energi bersih, mereka sedang mempraktikkan gaya hidup berkelanjutan. Dan ketika jutaan ibu di seluruh Indonesia melakukan hal yang sama, sesungguhnya bangsa ini sedang menapaki jalan menuju kedaulatan energi nasional bukan dengan jargon besar, tetapi dengan nyala api kecil di kompor setiap rumah.

Karena itu, pada peringatan Hari Ibu tahun ini, kita perlu memberi penghormatan bukan hanya pada kasih seorang ibu, tetapi juga pada keberanian mereka dalam beradaptasi dengan perubahan. Ibu-ibu di Siak dan Pelalawan telah membuktikan bahwa mereka bukan sekadar penerima manfaat, melainkan bagian dari kekuatan yang mempercepat keberhasilan program strategis negara. Di tangan mereka, energi tidak lagi hanya menjadi sumber panas, tetapi sumber harapan.

Dan di antara desir gas bumi yang mengalir tenang di pipa-pipa bawah tanah itu, sesungguhnya mengalir pula satu pesan yang lembut namun tegasbahwa energi sejati bangsa ini lahir dari cinta seorang ibu yang terus menyalakan api kehidupan, bahkan dalam senyap.

Program jaringan gas bumi (jargas) untuk rumah tangga terus menunjukkan dampak positif tidak hanya bagi ketahanan energi nasional, tetapi juga terhadap kesejahteraan keluarga dan pemberdayaan perempuan. Melalui pemanfaatan gas bumi yang lebih bersih, aman, dan efisien, para ibu rumah tangga kini menjadi aktor penting dalam mendukung transisi energi Indonesia.

Pemerintah menjadikan jargas sebagai bagian dari Program Strategis Nasional untuk mengurangi ketergantungan terhadap LPG bersubsidi sekaligus menekan emisi karbon. Hingga 2024, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat hampir satu juta sambungan rumah tangga telah terpasang di lebih dari 70 kabupaten dan kota. Jumlah tersebut ditargetkan meningkat menjadi dua juta sambungan pada 2027 sebagai langkah menuju target net zero emission.

Di tingkat rumah tangga, peran ibu dinilai sangat menentukan keberhasilan program ini. Ibu tidak hanya mengelola kebutuhan dapur, tetapi juga mengambil keputusan terkait konsumsi energi, pengeluaran rumah tangga, serta aspek keamanan penggunaan energi. Peralihan ke gas bumi terbukti mampu mengurangi pengeluaran bulanan, meningkatkan rasa aman, dan membentuk kebiasaan hemat energi dalam keluarga.

Manfaat tersebut dirasakan langsung oleh masyarakat di sejumlah wilayah Provinsi Riau. Di Kabupaten Siak, warga Dusun Pinang Sebatang Timur mengaku pengeluaran untuk energi memasak menjadi lebih ringan sejak menggunakan jargas. Selain lebih hemat, penggunaan gas bumi dinilai lebih praktis dan minim risiko dibandingkan tabung LPG.

Hal serupa dirasakan pelaku usaha mikro di Kabupaten Pelalawan. Dengan pasokan gas yang stabil, aktivitas produksi makanan rumahan dapat berjalan lebih lancar dan konsisten. Kondisi ini tidak hanya meningkatkan produktivitas, tetapi juga memperkuat ekonomi keluarga dan usaha kecil berbasis rumah tangga.

Ketua RT Dusun Pinang Sebatang Timur menyampaikan bahwa antusiasme warga terhadap program jargas sangat tinggi. Pemasangan jaringan gas yang dilakukan tanpa biaya, lengkap dengan fasilitas kompor, membuat masyarakat merasa terbantu dan terlindungi. Kehadiran petugas teknis yang responsif juga meningkatkan kepercayaan warga terhadap layanan gas bumi.

Pengelolaan dan distribusi jaringan gas bumi di wilayah tersebut dilakukan oleh PT Perusahaan Gas Negara (PGN). Sebagai BUMN energi, PGN berperan penting dalam menghadirkan layanan gas bumi yang andal sekaligus memberikan nilai tambah sosial bagi masyarakat. Program edukasi dan pendekatan kepada keluarga, khususnya ibu rumah tangga, menjadi bagian dari upaya meningkatkan pemahaman tentang penggunaan energi yang aman dan berkelanjutan.

Pengamat menilai, keberhasilan transisi energi tidak hanya bergantung pada pembangunan infrastruktur, tetapi juga pada perubahan perilaku di tingkat rumah tangga. Dalam konteks ini, ibu rumah tangga dipandang sebagai agen perubahan yang memiliki dampak besar terhadap pencapaian target energi nasional.

Momentum peringatan Hari Ibu menjadi refleksi bahwa kontribusi perempuan dalam mendukung kebijakan strategis negara sangat nyata. Melalui pilihan energi yang lebih bersih di dapur rumah, para ibu turut berperan dalam menjaga ketahanan energi, menekan emisi, dan menumbuhkan harapan bagi masa depan bangsa.

Rekomendasi Berita