Pacu Jalur Kuansing, Tradisi yang Tak Tergerus Zaman
- 14 Jul 2025 18:25 WIB
- Pekanbaru
KBRN Pekanbaru: Suara sorakan menggema di sepanjang tepian Sungai Kuantan. Ribuan pasang mata tertuju pada perahu panjang yang melesat membelah arus, di dayung puluhan pria berpakaian seragam dengan ritme yang memukau. Inilah Pacu Jalur, warisan budaya masyarakat Kuantan Singingi, Riau, yang tak hanya sekadar lomba perahu, tetapi juga cerminan dari identitas, semangat gotong royong, dan kebanggaan kolektif.
Pacu Jalur, yang secara harfiah berarti “balapan jalur (perahu panjang),” telah menjadi denyut nadi masyarakat Kuansing selama lebih dari satu abad. Tradisi ini pertama kali muncul pada awal abad ke-20, diperkirakan sejak 1901, sebagai bagian dari perayaan hari-hari besar Islam dan penyambutan tamu kehormatan pemerintah kolonial Belanda. Kini, Pacu Jalur berkembang menjadi festival tahunan bertaraf nasional, digelar setiap bulan Agustus dalam rangka memeriahkan Hari Kemerdekaan RI.

Pacu Jalur merupakan tradisi tua yang telah diwariskan turun-temurun oleh masyarakat Kuantan Singingi (Kuansing), Riau (Foto: Pinterest.com)
Panjang satu jalur bisa mencapai 30 hingga 40 meter, terbuat dari batang pohon besar yang dilubangi dan diukir dengan motif-motif khas Melayu. Satu jalur dapat ditumpangi lebih dari 40 orang, termasuk tukang pacu, tukang timbo, tukang onjai (pemberi semangat), dan tukang langkap (penjaga keseimbangan). Seluruh awak harus kompak dan harmonis, karena sedikit kesalahan ritme bisa membuat jalur terbalik atau kehilangan kecepatan.
“Satu jalur itu dibangun gotong royong oleh satu desa. Mereka latihannya berbulan-bulan. Ini bukan soal menang atau kalah saja, tapi soal harga diri kampung,” ujar Arwan, 54 tahun, tokoh masyarakat dari Desa Pulau Godang.
Festival Pacu Jalur bukan hanya ajang budaya, tapi juga menjadi penggerak ekonomi lokal. Ribuan wisatawan domestik dan mancanegara datang menyaksikan keunikan ini. Hotel-hotel di Teluk Kuantan selalu penuh, pedagang kaki lima ramai, dan produk UMKM lokal laris manis.
“Setiap tahun, saya bisa dapat tiga kali lipat dari biasanya kalau musim pacu jalur. Orang ramai beli batik Kuansing, kuliner khas seperti gulai asam durian,” kata Yuni, pedagang suvenir di sekitar Lapangan Limuno.
Pemerintah Kabupaten Kuantan Singingi pun terus memperkuat branding Pacu Jalur sebagai destinasi wisata budaya unggulan. Bahkan, Pacu Jalur telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak benda Indonesia oleh Kemendikbudristek RI.
Di tengah gempuran modernisasi dan pergeseran nilai-nilai generasi muda, tantangan pelestarian Pacu Jalur bukan perkara mudah. Beberapa desa mengaku kesulitan mencari generasi penerus yang mau menjadi awak jalur. Dibutuhkan peran aktif dari sekolah, keluarga, dan pemerintah untuk menanamkan kecintaan terhadap budaya sendiri.
“Anak-anak sekarang lebih suka main gadget. Tapi kami terus kenalkan tradisi ini lewat ekstrakurikuler dan lomba cerita rakyat tentang pacu jalur,” ujar Bu Rina, guru SD Negeri 04 Teluk Kuantan.
Meski begitu, semangat Pacu Jalur tetap berkobar. Setiap dentuman beduk tanda perlombaan dimulai, selalu disambut dengan degup jantung penuh harap, sorakan membahana, dan air Sungai Kuantan yang kembali bergelombang membawa harapan.
Karena Pacu Jalur bukan hanya tentang siapa tercepat di sungai, tapi tentang bagaimana sebuah tradisi tetap mengalirkan makna, jati diri, dan kebersamaan lintas generasi.