Dompet Anak Muda Anti Kering
- 23 Jan 2026 10:03 WIB
- Pekanbaru
RRI.CO.ID, Pekanbaru - Ngomongin keuangan anak muda itu selalu menarik, karena fase ini adalah masa paling rawan sekaligus paling menentukan. Di satu sisi, penghasilan mulai ada, tapi di sisi lain godaan jajan, nongkrong, dan check out keranjang oren juga makin ganas. Anak muda sekarang lebih konsumtif karena pengaruh gaya hidup digital. Sayangnya, masih banyak yang mikir ngatur uang itu urusan nanti pas sudah mapan. Padahal justru di usia muda inilah Fondasi keuangan seharusnya mulai dibangun.
Masalah utama keuangan anak muda biasanya ada di pengelolaan arus kas alias cashflow. Gaji baru masuk, tapu entah kemana perginya, tahu – tahu saldo tinggal recehan, pengeluaran kecil tapi rutin justru paling berbahaya buat dompet. Langganan streaming,kopi kekinian dan jajan online bisa terlihat sepele tapi efeknya besar. Kalau engga dicatat, uang bisa habis tanpa sadar.
Supaya keuangan lebih terkontrol, budgeting jadi langkah wajib buat anak muda. Budgeting bukan berarti hidup kikir, tapi bikin uang punya tujuan jelas. Dikutip dari laman ojk.go.id merekomendasikan metode 5-30-20 untuk generasi muda. Uang dibagi buat kebutuhan, keinginan dan tabungan atau investasi. Dengan cara ini, anak muda masih bisa enjoy hidup tanpa mengorbankan masa depan.
Selain budgeting, dana darurat juga seing dilupakan oleh anak muda. Banyak yang mikir dana darurat itu cuma buat orang berkeluarga, padahal justru anak muda juga butuh. Dana darurat idealnya minimal tig kali pengeluaran bulanan. Dana ini penting kalau tiba – tiba kena PHK, atau ada kebutuhan medis mendadak. Tanpa dana darurat, anak muda biasanya langsung lari ke paylater atau pinjaman online.
Kalau dana darurat sudah aman, anak muda mulai kenalan sama investasi. Sekarang investasi ngga lagi ribet dan mahal, karena sudah banyak platform digital yang ramah pemula. Banyak media keuangan dan ekonomi yang membahas investasi seperti reksa dana, emas digital dan saham sebagai pilihan anak muda. Investasi penting melawan inflasi yang tiap tahun bikin nilai uang turun. Intinya, makin cepat mulai, makin panjang waktu uang berkembang.
Namun, keuangan anak muda juga sering kebentur utang konsumtif. Paylater dan kartu kredit memang praktis, tapi kalau engga dikontrol bisa menjadi jebakan, banyak anak muda terjebak utang karena gaya hidup yang dipaksakan. Utang sebenarnya engga selalu buruk, asal digunakan dengan bijak dan sesuai kemampuan. Yang bahaya itu kalau utang dipakai cuma buat gengsi dan keinginan sesaat.
Pada akhirnya, keuangan anak muda bukan soal seberapa besar gai, tapi seberapa besar pintar mengelolanya, literasi keuangan perlu ditanamkan sejak muda agar generasi ke depan lebih siap secara finansial. Ngga perlu nunggu mapan buat mulai nabung dan investasi, karena kebiasaan kecil yang konsisten jauh lebih penting. Selama anak muda mau belajar dan sadar financial, masa depan yang lebih aman itu bukan cuma mimpi. Yuk mulai atur keuangan dari sekarang, sebelum menyesal belakangan.