Inflasi Riau Februari 2026 Tercatat 5,30 Persen
- 03 Mar 2026 09:07 WIB
- Pekanbaru
RRI.CO.ID, Pekanbaru - Laju inflasi tahunan atau year on year (y-on-y) di Provinsi Riau pada Februari 2026 tercatat sebesar 5,30 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) berada di level 112,06. Angka tersebut menunjukkan adanya kenaikan harga dibandingkan Februari 2025.
Kepala Badan Pusat Statistik Provinsi Riau, Asep Riyadi, menyampaikan bahwa tingkat inflasi antarwilayah di Riau bervariasi. Tembilahan menjadi daerah dengan inflasi tertinggi, yakni 7,32 persen dengan IHK 113,24. Sementara itu, Kabupaten Kampar mencatat inflasi paling rendah sebesar 5,14 persen dengan IHK 112,90.
“Pada Februari 2026, inflasi tahunan Riau tercatat 5,30 persen dengan IHK 112,06. Inflasi tertinggi terjadi di Tembilahan sebesar 7,32 persen dengan IHK 113,24, sedangkan yang terendah di Kabupaten Kampar sebesar 5,14 persen dengan IHK 112,90,” ujar Asep, Senin 2 Maret 2026.
Secara bulanan atau month to month (m-to-m), Riau mengalami kenaikan harga sebesar 0,32 persen. Namun jika dihitung sejak awal tahun atau year to date (y-to-d), justru terjadi deflasi sebesar 0,12 persen.
Asep menjelaskan bahwa inflasi tahunan dipicu oleh kenaikan harga pada sembilan kelompok pengeluaran. Peningkatan paling tinggi terjadi pada kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya yang melonjak 19,60 persen. Selanjutnya, kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga naik 16,27 persen.
Kelompok pendidikan mengalami kenaikan 5,05 persen, diikuti makanan, minuman dan tembakau 3,90 persen, pakaian dan alas kaki 2,37 persen, kesehatan 2,08 persen, penyediaan makanan dan minuman/restoran 1,97 persen, transportasi 0,61 persen, serta informasi, komunikasi dan jasa keuangan sebesar 0,07 persen.
“Sebaliknya, terdapat dua kelompok yang mencatat deflasi secara tahunan, yaitu perlengkapan, peralatan dan pemeliharaan rutin rumah tangga sebesar 0,99 persen serta rekreasi, olahraga dan budaya sebesar 0,10 persen,” jelasnya.
Secara umum, tren harga pada Februari 2026 menunjukkan kecenderungan naik. IHK meningkat dari 106,42 pada Februari 2025 menjadi 112,06 pada Februari 2026.
Sejumlah komoditas yang memberikan kontribusi besar terhadap inflasi tahunan antara lain tarif listrik, emas perhiasan, daging ayam ras, ayam hidup, biaya akademi atau perguruan tinggi, bawang merah, ikan serai, sewa rumah, ikan tongkol, Sigaret Kretek Mesin (SKM), telur ayam ras, beras, sepeda motor, nasi dengan lauk, serta tomat.
Di sisi lain, komoditas yang menahan laju inflasi atau menyumbang deflasi tahunan di antaranya cabai merah, kentang, cabai rawit, bensin, bawang putih, sabun detergen bubuk, tarif parkir, minyak goreng, terong, masker, jengkol, sabun cair pencuci piring, ikan baung, kacang panjang, susu bubuk balita, bahan bakar rumah tangga, dan pengharum cucian.
Untuk inflasi bulanan, komoditas yang paling dominan mendorong kenaikan harga antara lain emas perhiasan, cabai merah, tomat, daging ayam ras, jengkol, SKM, tarif dokter spesialis, udang basah, mobil, dan daging sapi.
“Sedangkan komoditas yang menekan inflasi bulanan antara lain bawang merah, cabai rawit, bayam, telur ayam ras, buncis, bensin, sawi putih, cabai hijau, sawi hijau, ayam hidup, ketimun, kacang panjang, dan kangkung,” kata Asep.
Berdasarkan andil kelompok pengeluaran terhadap inflasi tahunan, kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga memberikan kontribusi terbesar yakni 1,89 persen. Disusul kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 1,45 persen serta makanan, minuman dan tembakau sebesar 1,28 persen.
Kelompok pendidikan menyumbang 0,24 persen, penyediaan makanan dan minuman/restoran 0,21 persen, pakaian dan alas kaki 0,14 persen, transportasi 0,08 persen, serta kesehatan 0,06 persen. Sementara itu, kelompok perlengkapan, peralatan dan pemeliharaan rutin rumah tangga menjadi satu-satunya kelompok yang memberikan andil deflasi tahunan sebesar 0,05 persen.