Hoseng, Jejak Permainan Kayu dari Rambah yang Mulai Sunyi
- 05 Okt 2026 13:29 WIB
- Pekanbaru
RRI.CO.ID, Pekanbaru - Hoseng merupakan salah satu permainan rakyat yang pernah dikenal di Kecamatan Rambah, Kabupaten Rokan Hulu (Rohul), Riau. Permainan ini menjadi bagian dari aktivitas bermain anak-anak pada masa ketika permainan tradisional masih banyak dilakukan di ruang terbuka.
Dalam sejumlah dokumentasi budaya Rokan Hulu, Hoseng disebut sebagai permainan rakyat yang berkembang di Rambah. Keberadaannya memperlihatkan bahwa masyarakat setempat memiliki bentuk permainan sederhana yang memanfaatkan benda-benda yang mudah ditemukan di lingkungan sekitar.
Dikutip dari Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Rohul, Asal-usul Hoseng belum banyak tercatat dalam sumber tertulis. Tidak ditemukan keterangan yang memastikan siapa pencipta permainan ini maupun kapan pertama kali dimainkan.
Namun, keberadaannya dalam catatan etnografi Melayu menunjukkan bahwa Hoseng telah dikenal sebagai salah satu permainan rakyat di kawasan Rambah. Permainan ini tumbuh dari kebiasaan masyarakat memanfaatkan bahan sederhana sebagai sarana hiburan, sekaligus menjadi aktivitas yang mempertemukan anak-anak dalam suasana bermain bersama.
Dari sisi bahan, Hoseng menggunakan benda yang sederhana dan berkaitan dengan lingkungan sekitar. Dokumentasi permainan rakyat Rokan Hulu menyebut Hoseng dibuat atau menggunakan bahan kayu, sementara sumber etnografi menjelaskan penggunaan buah pinang dalam permainan, yang diputar di atas pinggang.
Dalam praktik permainan, unsur yang paling menonjol adalah kemampuan menjaga benda permainan tetap bergerak atau berputar. Pemain kemudian membandingkan ketahanan putaran tersebut; pemain yang benda permainannya lebih dahulu berhenti dinyatakan kalah.
Kesederhanaan Hoseng justru menjadi gambaran menarik tentang kreativitas permainan tradisional masyarakat Rambah. Tidak membutuhkan peralatan mahal, permainan ini mengandalkan benda yang tersedia di sekitar dan kemampuan pemain dalam menjaga keseimbangan serta gerakan.
Namun, dibandingkan sejumlah permainan tradisional lain yang masih sering dipertandingkan atau ditampilkan dalam festival budaya, dokumentasi mengenai Hoseng saat ini masih terbatas. Karena itu, pelestariannya tidak cukup hanya dengan mencatat namanya, tetapi juga perlu dilakukan melalui pendokumentasian cara bermain, pembuatan alat, aturan permainan, serta cerita dari masyarakat yang pernah memainkannya.
Di tengah generasi muda yang semakin akrab dengan permainan digital, Hoseng menghadapi tantangan untuk tetap dikenal. Permainan seperti ini berpotensi hanya menjadi nama dalam catatan budaya apabila tidak diperkenalkan kembali kepada anak-anak.
Pemerintah daerah, komunitas budaya, sekolah, dan masyarakat dapat menjadikan permainan tradisional sebagai bagian dari kegiatan budaya atau permainan anak di ruang terbuka. Hoseng bukan sekadar permainan lama dari Rambah, tetapi juga jejak kreativitas masyarakat yang patut dikenalkan kembali kepada generasi muda agar warisan permainan tradisional Rokan Hulu tidak berhenti sebagai cerita masa lalu.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....