Basijobang, ketika Cerita Lama Hidup lewat Suara
- 22 Sep 2026 08:40 WIB
- Pekanbaru
RRI.CO.ID, Pekanbaru - Sebelum cerita hadir melalui layar ponsel dan berbagai platform digital, masyarakat Kampar telah memiliki cara sendiri untuk menyampaikan kisah. Cerita dituturkan lewat suara, dendang, syair, dan kemampuan memainkan karakter. Tradisi itulah yang dikenal sebagai Basijobang atau Buwuong Gasiong, salah satu seni budaya daerah Kampar yang masih menjadi bagian dari kekayaan sastra lisan masyarakat setempat.
Website resmi PPID Kabupaten Kampar mencatat Basijobang dalam data Pemerintah Kabupaten Kampar sebagai salah satu seni budaya daerah. Dalam dokumen pemerintah daerah, kesenian ini disebut dengan nama Basijobang (Buwuong Gasiong) dan dicatat sebagai bagian dari bidang kebudayaan.
Menurut kajian Literatur tentang jenis dan fungsi Seni Pertunjukan Melayu di Provinsi Riau, Keunikan Basijobang terletak pada kekuatan tuturnya. Kesenian ini tidak hanya mengandalkan cerita, tetapi juga menggunakan unsur sastra lisan seperti dendang, pantun dan syair. Penutur menjadi bagian penting dalam menghidupkan kisah sehingga pertunjukan tidak sekadar menyampaikan rangkaian cerita, tetapi juga menghadirkan ekspresi dan karakter melalui kemampuan bertutur.
Keberadaan Basijobang juga mendapat perhatian dalam upaya pelestarian sastra lisan daerah. Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa mencatat bahwa Basijobang (Buwuong Gasiong) termasuk kekayaan budaya Kampar yang telah memperoleh pengakuan Warisan Budaya Takbenda. Pemerintah daerah pada saat itu juga menekankan pentingnya konservasi dan revitalisasi sastra lisan sebagai bagian dari kekayaan budaya Kampar.
Sebagai seni tutur, Basijobang memiliki hubungan erat dengan bahasa dan tradisi lisan masyarakat Kampar. Bahasa bukan hanya menjadi alat untuk menyampaikan cerita, tetapi juga menjadi media untuk menyimpan nilai, ungkapan, dan cara pandang masyarakat. Badan Bahasa sendiri mencatat keberadaan dialek Kampar sebagai salah satu dialek Minangkabau yang dituturkan di wilayah Kabupaten Kampar dan sejumlah wilayah lain di Riau.
Di tengah perubahan pola hiburan masyarakat, keberadaan Basijobang menjadi pengingat bahwa cerita tidak selalu membutuhkan panggung besar atau teknologi. Suara penutur dan kekayaan bahasa dapat menjadi media untuk membawa pendengar mengenal kembali kehidupan dan nilai-nilai masa lalu. Karena itu, pelestarian Basijobang bukan hanya mempertahankan sebuah bentuk pertunjukan, tetapi juga menjaga salah satu cara masyarakat Kampar mewariskan cerita dan identitas budayanya kepada generasi berikutnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....