Olang-Olang Kampar, Layang-layang Tradisional yang Terbang Membawa Warisan Budaya
- 08 Sep 2026 12:38 WIB
- Pekanbaru
RRI.CO.ID. Pekanbaru - Di tengah hamparan sawah dan ladang yang baru selesai dipanen, masyarakat di sejumlah wilayah Kabupaten Kampar, Riau, memiliki permainan tradisional yang dikenal dengan sebutan Olang-Olang. Olang-Olang merupakan istilah masyarakat setempat untuk menyebut layang-layang.
Permainan ini secara turun-temurun menjadi hiburan masyarakat, khususnya setelah musim panen padi berakhir. Dahulu, sawah yang telah kosong menjadi tempat bermain karena tidak mengganggu tanaman yang masih tumbuh. Nama Olang-Olang sendiri dikaitkan dengan burung elang yang terbang tinggi di angkasa.
Dikutip dari Balai Pelestarian Nilai Budaya Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, berbeda dari layang-layang modern yang banyak dijual dalam bentuk jadi, Olang-Olang tradisional dibuat sendiri oleh masyarakat dengan memanfaatkan bahan-bahan sederhana yang tersedia di lingkungan sekitar. Buluh atau bambu yang ringan dan lentur menjadi bahan utama untuk membuat rangka.
| Baca juga: Jejak Sejarah Rumah Lontiok di Kuok Kampar |
Bambu dipotong, diukur dan diraut atau dalam istilah setempat disebut di-awik, kemudian disusun menjadi kerangka memanjang dan melintang dengan ukuran yang seimbang. Setelah rangka selesai, bagian tersebut dipasangkan dengan kertas atau bahan penutup ringan, kemudian diberi tali sebagai pengendali. Ketepatan ukuran dan keseimbangan rangka menjadi bagian penting agar Olang-Olang dapat terbang stabil.
Permainan Olang-Olang tidak hanya dilakukan seorang diri. Anak-anak, remaja hingga orang dewasa dapat terlibat, baik dalam proses membuat layang-layang maupun saat menerbangkannya. Dalam perkembangannya, permainan ini juga mengenal adu layang-layang atau “sawo”, yaitu dua pemain mengadu tali layangan dengan cara saling menyilangkan hingga salah satu layang-layang terputus atau jatuh.
Dahulu, masyarakat bahkan mengenal pembuatan galeh, yakni bahan yang digunakan untuk membuat tali lebih tajam. Tradisi bermain bersama tersebut menjadikan Olang-Olang bukan sekadar permainan, tetapi juga ruang berkumpul, bersilaturahmi dan berbagi keterampilan antargenerasi.
Pelestarian Olang-Olang kini menghadapi tantangan perubahan zaman. Kehadiran berbagai permainan digital membuat permainan tradisional semakin jarang menjadi pilihan anak-anak. Namun, keberadaan Olang-Olang di Desa Binuang, Kabupaten Kampar, menunjukkan bahwa permainan ini masih dapat bertahan ketika masyarakat dan generasi muda ikut terlibat.
Dokumentasi dan praktik pembuatan Olang-Olang juga pernah dilakukan bersama mahasiswa Kuliah Kerja Nyata sebagai salah satu upaya memperkenalkan kembali permainan tersebut kepada generasi muda. Bahkan, Olang-Olang telah dicantumkan sebagai salah satu permainan rakyat atau tradisional dalam materi Budaya Melayu Riau untuk pendidikan.
Bagi generasi muda Kampar, Olang-Olang dapat menjadi lebih dari sekadar permainan masa lalu. Proses membuat rangka, memasang tali, menerbangkan hingga bermain bersama mengajarkan ketelitian, kreativitas, kesabaran dan kebersamaan.
Karena itu, pelestariannya tidak cukup hanya dengan mengenalkan namanya, tetapi perlu memberi ruang bagi anak-anak dan remaja untuk membuat dan memainkan Olang-Olang secara langsung. Ketika sawah selesai dipanen dan angin mulai berembus di ruang terbuka, Olang-Olang dapat kembali menghiasi langit Kampar sekaligus menjadi pengingat bahwa permainan sederhana pun menyimpan cerita dan identitas budaya masyarakatnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....