Bakaroh Tradisi Menangkap Ikan Suku Banjar Inhil Menjaga Kebersamaan

  • 12 Agt 2026 20:05 WIB
  •  Pekanbaru

RRI.CO.ID, Pekanbaru - Kabupaten Indragiri Hilir memiliki beragam kearifan lokal yang tumbuh dari kehidupan masyarakat yang dekat dengan sungai, parit dan rawa. Salah satunya adalah Tradisi Bakaroh, yang dikenal di Desa Sungai Intan, Kecamatan Tembilahan Hulu.

Bakaroh merupakan kegiatan menangkap ikan dan udang secara bersama-sama dengan menggunakan peralatan tradisional seperti sasauk dan tanggok. Tradisi ini berkembang dari kebiasaan masyarakat, khususnya masyarakat suku Banjar, dalam memanfaatkan sumber daya perairan di sekitar permukiman.

Istilah Bakaroh berkaitan dengan kegiatan membuat air menjadi keruh atau berlumpur sehingga ikan dan udang lebih mudah ditemukan. Penelitian Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau menyebut Bakaroh sebagai tradisi turun-temurun masyarakat Sungai Intan yang mengandung nilai gotong royong sekaligus kearifan dalam menjaga ekosistem.

Dikutip dari Website Resmi Desa Sungai Intan, Kabupaten Indragiri Hilir, Mengenai sejarah awalnya, belum terdapat catatan pasti mengenai tahun pertama masyarakat melakukan Bakaroh maupun satu orang yang pertama kali menciptakannya. Berdasarkan penelitian mengenai tradisi tersebut, Bakaroh pada awalnya merupakan kebiasaan masyarakat dalam mencari ikan di parit-parit dan perairan sekitar tempat tinggal, sehingga tradisi ini telah berlangsung sebelum kemudian dikemas menjadi sebuah festival.

Dalam praktiknya, Bakaroh berbeda dengan kegiatan menangkap ikan secara perorangan atau melaroh. Bakaroh dilakukan secara berkelompok, sedikitnya sekitar lima orang, karena prosesnya membutuhkan kerja sama untuk mengeruhkan air dan mencari ikan yang keluar dari habitatnya.

Sementara itu, tokoh yang tercatat sebagai penggagas pengemasan Bakaroh menjadi festival adalah Ahmad Ependi, Kepala Desa Sungai Intan saat itu. Berdasarkan laman resmi Desa Sungai Intan, Festival Bakaroh mulai dilaksanakan pada 27 Agustus 2015 di Parit Sungai Intan Kecil.

Pada masa dahulu, Bakaroh dilakukan dengan perlengkapan yang sederhana dan lebih menonjol sebagai aktivitas mencari ikan bersama. Masyarakat turun langsung ke parit ketika air mengalami surut dan kondisi lumpur memungkinkan untuk melakukan penangkapan. Alat yang digunakan antara lain tanggok, alat berbentuk jaring untuk menangkap ikan atau udang, serta sasauk, alat tradisional yang digunakan dalam proses Bakaroh.

Ikan dan udang yang diperoleh kemudian dinikmati bersama. Dalam perkembangannya, kegiatan yang sebelumnya merupakan kebiasaan masyarakat tersebut dikemas menjadi festival tahunan.

Pelaksanaannya dilakukan secara berkelompok atau beregu, bahkan pernah melibatkan perwakilan rukun tetangga di Desa Sungai Intan. Hasil tangkapan seperti ikan baung dan udang galah menjadi bagian dari kegiatan tersebut, sementara hasil tangkapan juga dapat diolah menjadi makanan tradisional.

Keunikan Bakaroh terletak pada cara menangkap ikan yang mengandalkan pengetahuan masyarakat terhadap kondisi alam, sekaligus mengutamakan kebersamaan. Kegiatan biasanya dilaksanakan ketika air parit sedang surut, sehingga ikan dan udang lebih mudah ditemukan.

Peserta bekerja sama menggunakan alat tradisional tanpa mengandalkan bahan kimia atau alat yang dapat merusak habitat perairan. Karena itu, Bakaroh tidak sekadar kegiatan mendapatkan hasil tangkapan, tetapi juga menjadi media untuk memperkuat gotong royong, berbagi hasil dan mengingatkan masyarakat agar menjaga keseimbangan lingkungan. Ketika dikembangkan menjadi festival, nilai tersebut semakin diperkenalkan kepada masyarakat luas melalui perlombaan menangkap ikan secara beregu dan kegiatan pendukung seperti pengolahan hasil tangkapan.

Dari masa ke masa, Bakaroh menghadapi tantangan perubahan cara masyarakat memanfaatkan sumber daya perairan. Laman resmi Desa Sungai Intan menyebut tradisi ini terancam berkurang karena munculnya penggunaan cara-cara penangkapan yang dianggap lebih instan, termasuk bahan kimia dan alat setrum yang dapat mengganggu habitat ikan. Karena itu, pengemasan Bakaroh menjadi festival sejak 2015 menjadi salah satu upaya memperkenalkan kembali kearifan lokal tersebut kepada generasi muda.

Pemerintah Kabupaten Indragiri Hilir dan masyarakat memiliki peran penting dalam menjaga keberlanjutan tradisi melalui dokumentasi, kegiatan budaya, edukasi lingkungan dan regenerasi pelaku. Bakaroh pada akhirnya bukan hanya tentang menangkap ikan atau udang, melainkan warisan pengetahuan masyarakat dalam membaca alam, bekerja bersama dan memanfaatkan hasil perairan dengan cara yang lebih ramah lingkungan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....