Tradisi Manongkah Warisan Budaya Suku Duano Tetap Bertahan di Pesisir Indragiri

  • 14 Jul 2026 21:07 WIB
  •  Pekanbaru

RRI.CO.ID, Pekanbaru - Di hamparan lumpur pesisir Kabupaten Indragiri Hilir 986(Inhil), Provinsi Riau, masyarakat Suku Duano masih mempertahankan tradisi Manongkah, sebuah cara unik mencari kerang darah dengan menggunakan papan kayu yang disebut tongkah.

Tradisi ini bukan sekadar aktivitas mencari nafkah, melainkan bagian dari identitas budaya masyarakat pesisir yang diwariskan secara turun-temurun. Kata tongkah berarti papan yang digunakan sebagai tumpuan di tempat berlumpur, sedangkan manongkah adalah aktivitas meluncur di atas lumpur menggunakan papan tersebut untuk mencari kerang ketika air laut sedang surut. Tradisi ini telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia dan menjadi salah satu kekayaan budaya khas Riau.

Dikutip dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, sejarah Manongkah berakar dari kehidupan Suku Duano, yang juga dikenal sebagai Orang Laut. Sejak dahulu, masyarakat Duano hidup berdampingan dengan laut dan kawasan pesisir sehingga mengembangkan cara yang efektif untuk memanfaatkan sumber daya alam tanpa merusak lingkungan.

Berbekal sebilah papan kayu yang terbuat dari jenis kayu ringan seperti pulai atau jelutung, mereka mampu meluncur di atas lumpur yang luas untuk mengumpulkan kerang darah (Anadara granosa). Keahlian ini diwariskan dari orang tua kepada anak-anak sebagai bekal hidup sekaligus simbol pengetahuan lokal yang telah teruji oleh pengalaman selama bertahun-tahun.

Bagi masyarakat Suku Duano, Manongkah memiliki hubungan yang sangat erat dengan kehidupan sehari-hari. Aktivitas ini menjadi sumber mata pencaharian sekaligus mempererat hubungan sosial antarkeluarga.

Saat air laut surut, para penongkah berangkat bersama menuju hamparan lumpur. Mereka berdiri atau bertumpu di atas papan tongkah, kemudian mengayuh dengan satu kaki sambil menjaga keseimbangan hingga papan meluncur di atas lumpur.

Setelah menemukan lokasi yang banyak kerang, mereka mengumpulkannya menggunakan tangan atau alat sederhana. Teknik tersebut membutuhkan keterampilan, keseimbangan tubuh, kekuatan fisik, serta pengalaman membaca kondisi pasang surut laut.

Tradisi Manongkah juga mengandung nilai budaya yang sangat luhur. Semangat gotong royong terlihat ketika masyarakat saling membantu membuat papan tongkah, berbagi informasi mengenai lokasi kerang, hingga bekerja sama saat menghadapi kondisi alam yang sulit.

Selain itu, tradisi ini mengajarkan ketekunan, kerja keras, kesabaran, dan rasa hormat terhadap alam. Pengetahuan mengenai waktu pasang surut, karakter lumpur, serta cara memanfaatkan sumber daya laut secara bijaksana merupakan bentuk kearifan lokal yang diwariskan dari generasi ke generasi. Bahkan, praktik Manongkah kini banyak dikaji sebagai contoh etnosains karena memadukan pengetahuan tradisional dengan prinsip-prinsip ilmiah dan konservasi lingkungan.

Di tengah perkembangan teknologi dan perubahan pola mata pencaharian masyarakat pesisir, Tradisi Manongkah masih bertahan meskipun menghadapi berbagai tantangan. Pemerintah Kabupaten Indragiri Hilir bersama Pemerintah Provinsi, komunitas Suku Duano, dan Kementerian Kebudayaan terus melakukan berbagai upaya pelestarian, antara lain melalui penyelenggaraan Festival Manongkah, promosi wisata budaya, dokumentasi tradisi, serta edukasi kepada generasi muda agar tetap mengenal warisan leluhurnya. Dengan pelestarian yang berkelanjutan, Manongkah diharapkan tidak hanya menjadi simbol identitas budaya Suku Duano, tetapi juga menjadi daya tarik wisata budaya yang mampu memperkenalkan kekayaan tradisi Indragiri Hilir kepada masyarakat Indonesia maupun dunia.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....