Tari Ayak Sagu, Identitas Budaya Kepulauan Meranti

  • 15 Jun 2026 10:30 WIB
  •  Pekanbaru

RRI.CO.ID, Pekanbaru - Kabupaten Kepulauan Meranti, Riau, memiliki beragam kekayaan budaya yang lahir dari kehidupan masyarakat pesisir. Salah satunya adalah Tari Ayak Sagu, tarian tradisional yang menggambarkan aktivitas masyarakat dalam mengolah sagu menjadi bahan pangan utama.

Tarian ini berasal dari Desa Bokor, Kecamatan Rangsang Barat, dan telah menjadi ikon budaya daerah yang kerap ditampilkan dalam berbagai acara adat, festival budaya, hingga penyambutan tamu kehormatan.

Dikutip dari Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Kepulauan Meranti, tari Ayak Sagu diciptakan pada tahun 2010 oleh Sanggar Bathin Galang. Sanggar yang dipimpin Sopandi itu mengembangkan tarian bersama maestro tari Nedy Winunza dan penata gerak Syahril Alek.

Inspirasi tarian ini berasal dari tradisi masyarakat setempat yang mengolah batang sagu secara manual, khususnya proses mengayak sagu untuk menghasilkan tepung yang halus. Tarian ini umumnya dibawakan oleh enam penari perempuan dengan iringan musik Melayu dan dendang tradisional.

Dalam setiap pertunjukannya, Tari Ayak Sagu menampilkan rangkaian gerakan yang menggambarkan tahapan pengolahan sagu, mulai dari memanen pohon sagu, memarut empulur, memeras sari pati, hingga mengayak tepung sagu menggunakan alat tradisional. Gerakan yang lembut dan harmonis mencerminkan semangat gotong royong, ketekunan, serta kearifan lokal masyarakat Melayu Meranti. Properti berupa ayakan dan kostum bernuansa Melayu semakin memperkuat pesan budaya yang ingin disampaikan kepada penonton.

Sejak pertama kali diperkenalkan, Tari Ayak Sagu telah tampil dalam berbagai kegiatan budaya di tingkat daerah maupun internasional. Pada 2014, tarian ini dibawakan dalam ajang Pesta Sungai Melaka di Malaysia sebagai bagian dari promosi pariwisata Kabupaten Kepulauan Meranti. Selain itu, tarian ini juga rutin dipentaskan dalam pesta rakyat, festival budaya, serta acara penyambutan wisatawan yang berkunjung ke Desa Wisata Budaya Bokor.

Pelestarian Tari Ayak Sagu menjadi penting karena tarian ini tidak hanya merepresentasikan kesenian daerah, tetapi juga merekam sejarah dan identitas masyarakat Meranti sebagai salah satu penghasil sagu terbesar di Indonesia. Melalui pembinaan sanggar seni, keterlibatan generasi muda, serta dukungan pemerintah daerah, Tari Ayak Sagu diharapkan terus hidup dan berkembang sebagai warisan budaya yang membanggakan Riau di tingkat nasional maupun internasional.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....