Lari di Atas Tual Sagu, Tradisi Unik Meranti yang Kini Jadi Daya Tarik Wisata

  • 19 Mei 2026 07:40 WIB
  •  Pekanbaru

RRI.CO.ID, Pekanbaru - Sebagai penghasil sagu peringkat tiga dunia, di tengah hamparan sungai dan kehidupan masyarakat sagu di Kepulauan Meranti, Riau, ada satu tradisi unik yang selalu menarik perhatian wisatawan: Lari di Atas Tual Sagu. Sekilas terdengar mustahil, namun tradisi ini benar-benar dilakukan di atas batang-batang sagu yang mengapung di air, bukan sekadar permainan, tradisi ini lahir dari aktivitas sehari-hari masyarakat yang bergantung pada sagu sebagai sumber kehidupan.

Laman Kementrian Pariwisata dan Melayupedia.com memaparkan bahwa tradisi ini berasal dari Desa Bokor, Kecamatan Rangsang Barat, Kabupaten Kepulauan Meranti, Provinsi Riau. Kini, Lari di Atas Tual Sagu tidak hanya dikenal sebagai hiburan rakyat, tetapi juga telah berkembang menjadi atraksi budaya dan potensi wisata unggulan daerah. Bahkan pada tahun 2018, tradisi ini masuk dalam daftar Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) nasional Indonesia oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Awalnya, kegiatan ini bukanlah perlombaan. Tradisi tersebut muncul dari proses pengolahan sagu yang dilakukan masyarakat setempat sejak lama. Setelah pohon sagu dipanen, batang atau tual sagu dipotong lalu dikeluarkan dari kebun dengan cara digolek atau digulingkan menuju sungai. Setelah sampai di sungai, tual sagu dirakit dan diikat menggunakan tali agar mudah dibawa.

Proses berikutnya adalah menarik tual sagu dari sungai menuju daratan menggunakan kapal. Sebelum dibawa ke tempat pengolahan menjadi tepung sagu, masyarakat biasanya menghitung jumlah tual sagu yang sudah diikat dan direndam di sungai maupun laut. Cara menghitungnya cukup unik, yakni dengan berjalan di atas batang-batang sagu tersebut.

Karena ingin proses penghitungan lebih cepat, masyarakat kemudian terbiasa melakukannya sambil berlari. Dari kebiasaan sederhana inilah lahir tradisi Lari di Atas Tual Sagu yang kini dikenal luas.

Tradisi tersebut kemudian dikembangkan menjadi perlombaan budaya oleh Sopandi Rozali, sosok kreatif di balik populernya permainan ini. Bersama Sanggar Bathin Galang, Sopandi mulai memperkenalkan Lari di Atas Tual Sagu sebagai event budaya tahunan yang menarik perhatian masyarakat dan wisatawan.

Dalam perlombaan ini, peserta dituntut memiliki keseimbangan tubuh, kecepatan, dan keberanian untuk berlari di atas batang sagu yang licin dan terus bergerak di permukaan air. Tak jarang peserta terjatuh ke sungai, namun justru itulah yang membuat suasana semakin meriah dan menghibur.

Lebih dari sekadar perlombaan, tradisi ini menjadi simbol kedekatan masyarakat Meranti dengan alam dan budaya sagu. Sagu bukan hanya bahan pangan, tetapi juga bagian dari identitas masyarakat setempat yang diwariskan turun-temurun.

Kini, Lari di Atas Tual Sagu menjadi salah satu ikon budaya Kepulauan Meranti yang terus diperkenalkan melalui festival dan kegiatan wisata daerah. Tradisi ini membuktikan bahwa kebiasaan sederhana masyarakat dapat berkembang menjadi warisan budaya yang membanggakan sekaligus memiliki nilai ekonomi dan pariwisata.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....