Nur Syahfatin, Peserta MTQ Nasional 13 Tahun, Susuri Laut untuk Berguru Al-Qur’an
- 20 Sep 2026 09:07 WIB
- Pekanbaru
RRI.CO.ID, Pekanbaru - Dua kali dalam sepekan, Nur Syahfatin harus menyeberangi laut untuk belajar Al-Qur’an. Dari tempat tinggalnya di Kecamatan Rangsang Barat, Pulau Rangsang, Kabupaten Kepulauan Meranti, Riau, gadis 13 tahun itu menuju Kecamatan Selatpanjang di Pulau Tebingtinggi untuk berguru.
Perjalanan sekitar 15 menit menyeberangi laut itu telah menjadi bagian dari kesehariannya. Bukan untuk berwisata, melainkan untuk mengasah kemampuan membaca Al-Qur’an yang telah ia tekuni sejak masih kecil.
Nur merupakan peserta Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) Nasional ke-31 Tahun 2026 cabang Seni Baca Al-Qur’an golongan Tilawah Anak-Anak. Ia hadir di panggung nasional sebagai bagian dari kafilah Provinsi Riau.
Untuk bertemu gurunya, Nur harus meninggalkan Pulau Rangsang dan menyeberang ke Pulau Tebingtinggi. Ia rutin melakukan perjalanan tersebut setiap Jumat dan Minggu untuk belajar bersama guru.
Jarak yang harus ditempuh tidak membuatnya surut. Bagi Nur, perjalanan tersebut merupakan bagian dari ikhtiar untuk terus memperdalam kemampuan membaca Al-Qur’an.
Dalam kesehariannya, Nur juga belajar secara mandiri di rumah. Kebiasaan itu membuat Al-Qur’an tidak hanya menjadi bagian dari kegiatan belajar, tetapi juga menjadi bagian dari rutinitas hidupnya.
Dari Pulau ke Panggung Nasional
Kini, perjalanan panjang itu membawanya ke Semarang untuk mengikuti MTQN ke-31. Untuk pertama kalinya, Nur mendapat kesempatan tampil membawa nama Provinsi Riau di tingkat nasional.
Nur Syahfatin hadir di panggung nasional sebagai bagian dari kafilah Provinsi Riau.
Kesempatan tersebut membuatnya merasakan campuran antara rasa bangga dan debaran. Berada di antara peserta terbaik dari berbagai daerah menjadi pengalaman yang tidak terlupakan bagi siswi MTsN Kepulauan Meranti itu.
“Berdebar-debar, karena ini pengalaman yang membanggakan,” ujarnya setelah tampil pada babak penyisihan, Kamis (17/9/2026).
Bagi Nur, prestasi bukan satu-satunya alasan untuk terus belajar Al-Qur’an. Ia merasakan ketenangan dan kebahagiaan setiap kali membaca serta mempelajari ayat-ayat Al-Qur’an.
Menurutnya, Al-Qur’an mengajarkan manusia untuk menjadi lebih baik dari sebelumnya. Al-Qur’an juga membuatnya merasa semakin dekat dan mencintai Allah.
Berawal dari Ibu dan Kebiasaan Mengaji
Kecintaan Nur terhadap Al-Qur’an tumbuh sejak usia dini. Ia sudah belajar membaca Al-Qur’an sejak berusia empat tahun. Sang ibu menjadi orang pertama yang mengenalkannya pada bacaan Al-Qur’an.
Selain belajar bersama ibu, Nur juga kerap mengikuti saudara-saudaranya ketika mengaji. Dari kebiasaan sederhana itu, ketertarikannya terhadap Al-Qur’an semakin tumbuh.
“Awalnya saya suka mengaji, kemudian mulai serius belajar sejak kelas 2 SD,” kata Nur.
Sejak itu, ia terus menekuni Al-Qur’an. Kegigihannya pun mulai membuahkan hasil. Nur pernah mengikuti sejumlah perlombaan dan meraih juara pertama, mulai dari tingkat kampung hingga tingkat provinsi.
Ada kebahagiaan lain yang menjadi penyemangat Nur dalam belajar Al-Qur’an, yaitu ketika kemampuannya dapat membuat orang tua bahagia.
Dukungan kedua orang tuanya membuat Nur semakin bersemangat.
Salah satu ayat yang paling ia sukai adalah Surah Al-Baqarah ayat 60. Menurutnya, ayat tersebut memiliki makna yang sangat baik. Meski memiliki ayat favorit, Nur mengaku masih banyak ayat lain dalam Al-Qur’an yang juga ia sukai. Baginya, setiap ayat memiliki pelajaran yang dapat dipetik dan diterapkan dalam kehidupan.
Mimpi Menjadi Dokter
Di balik keseriusannya mendalami Al-Qur’an, Nur menyimpan cita-cita untuk masa depan. Ia ingin menjadi seorang dokter.
Namun, cita-cita tersebut tidak ingin membuatnya meninggalkan Al-Qur’an. Sebaliknya, ia ingin menjadi dokter yang tetap memahami dan mengamalkan nilai-nilai Al-Qur’an dalam kehidupan.
“Saya ingin menjadi dokter yang juga memahami dan mengamalkan Al-Qur’an,” tuturnya.
Kepada teman-teman yang ingin lebih mendalami Al-Qur’an, Nur berpesan agar tidak berhenti belajar. Menurutnya, ketekunan, kemauan untuk belajar dari orang-orang yang telah berhasil, serta sikap pantang menyerah menjadi kunci untuk terus berkembang.
Perjalanan Nur dari Pulau Rangsang menuju Pulau Tebingtinggi mungkin hanya membutuhkan waktu sekitar 15 menit di atas laut. Namun, bagi gadis 13 tahun itu, setiap penyeberangan menjadi bagian dari perjalanan panjang untuk mendekat kepada Al-Qur’an, hingga akhirnya membawanya ke panggung MTQ tingkat nasional.

Sederet Prestasi dan Konsistensi Menjaga Hafalan, Bayu Wibisono Damanik, Hafiz Al-Qur’an dari Riau
Bagi Bayu Wibisono Damanik, menghafal Al-Qur’an bukan sekadar tentang seberapa banyak ayat yang mampu diingat. Lebih dari itu, hafalan adalah amanah yang harus terus dijaga, diulang, dan diamalkan sepanjang kehidupan.
“Saya menjaga hafalan dengan murajaah setiap hari, menjaga kedisiplinan dalam membaca Al-Qur’an, dan berusaha untuk terus mengulang hafalan di sela-sela sibuknya aktivitas. Bagi saya, hafalan bukan hanya untuk diingat ketika mau lomba saja, tetapi juga harus terus dijaga dan diamalkan hingga akhir hayat nanti,” ungkap Bayu.
Lahir di Sungai Kuti, 20 September 2003, Bayu merupakan putra dari pasangan Nurdin Damanik dan Sulistiyani. Ia adalah anak kedua dalam keluarganya. Sejak duduk di bangku sekolah, kecintaannya terhadap Al-Qur’an mulai tumbuh dan kemudian membawanya menekuni dunia tahfiz secara lebih serius.
Perjalanan Bayu dalam menjaga hafalan Al-Qur’an tidak selalu mudah. Di balik sederet prestasi yang diraihnya, terdapat proses panjang yang menuntut kesabaran, kedisiplinan, dan konsistensi. Terlebih ketika harus menghadapi perlombaan, tantangan bukan hanya datang dari hafalan, tetapi juga dari tekanan dan rasa gugup.
“Tantangan terbesar adalah menjaga hafalan dan konsistensi murajaah, terutama saat menghadapi tekanan dan rasa gugup ketika perlombaan. Jadi, selain hafalan, kita juga harus menjaga mental dan konsentrasi kita,” tuturnya.
Dari Rokan Hulu Menuju Panggung Nasional dan Internasional
Bayu mulai menghafal Al-Qur’an sejak menempuh pendidikan di SMPN Tahfidz Rokan Hulu dan kemudian melanjutkan ke MA Tahfidz Rokan Hulu. Sejak saat itu, rutinitas murajaah menjadi bagian penting dalam kesehariannya.
Ia menyadari bahwa menghafal mungkin bisa dilakukan dalam waktu tertentu, tetapi mempertahankan hafalan membutuhkan perjuangan yang jauh lebih panjang. Karena itu, ia terus berusaha menyisihkan waktu untuk membaca dan mengulang hafalan di tengah kesibukan menuntut ilmu.
Kini, Bayu sedang menempuh pendidikan S2 Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir di Universitas PTIQ Jakarta. Kesibukan sebagai mahasiswa tidak membuatnya meninggalkan rutinitas menjaga hafalan. Justru, kesibukan tersebut menjadi tantangan tersendiri untuk tetap disiplin membagi waktu antara pendidikan dan Al-Qur’an.
Perjalanan panjang itu kemudian mengantarkannya mengikuti berbagai perlombaan Hifzhil Qur’an, baik di tingkat daerah, nasional maupun internasional.
“Alhamdulillah, saya pernah mengikuti berbagai perlombaan Hifzhil Qur’an tingkat daerah, nasional dan internasional. Di antaranya Juara I MTQ Nasional 2020 10 Juz, Juara I MHQH Nasional 2022, Juara II STQH Nasional 2023 20 Juz, Juara I MTQ Nasional 2024 20 Juz, dan Juara II MHQ Internasional di Arab Saudi kategori 15 Juz,” kata Bayu.
Deretan prestasi tersebut menjadi bagian dari perjalanan panjangnya. Namun, bagi Bayu, setiap perlombaan bukan semata-mata tentang menjadi juara. Setiap kesempatan tampil menjadi ruang untuk belajar, mengukur kemampuan, menjaga hafalan, sekaligus menumbuhkan pengalaman dan mental.
Kembali Membawa Nama Riau
Pada MTQ Nasional (MTQN) XXXI Tahun 2026, Bayu kembali mendapat kesempatan membawa nama Provinsi Riau di tingkat nasional.
Setelah melalui berbagai tahapan persiapan dan perjuangan, ia merasa bersyukur dapat mencapai tahap tersebut.
“Alhamdulillah, saya merasa bersyukur dan lega karena seluruh tahapan sudah bisa dilewati. Semoga hasilnya menjadi yang terbaik dan pengalaman ini bisa menjadi pembelajaran bagi saya,” ujarnya.
Baginya, sampai pada tahap ini bukanlah sesuatu yang terjadi secara instan. Ada perjalanan panjang yang dimulai sejak bangku sekolah, ada waktu yang terus diluangkan untuk murajaah, ada dukungan guru, serta ada doa dan dukungan orang tua yang senantiasa mengiringi setiap langkahnya.
“Perjalanan saya tentunya tidak instan. Saya mulai menghafal Al-Qur’an sejak di bangku sekolah yaitu di SMPN Tahfidz Rokan Hulu dan MA Tahfidz Rokan Hulu dan terus menjaga hafalan dengan murajaah dan mengikuti berbagai perlombaan. Dari tingkat daerah, nasional hingga internasional, semuanya menjadi proses dan pengalaman bagi saya. Alhamdulillah, dengan dukungan orang tua, guru, serta doa dan usaha yang terus dilakukan, saya bisa sampai di tahap ini.”
Menjaga Hafalan, Menjaga Amanah
Bagi Bayu, perjalanan menjadi seorang hafiz bukanlah perjalanan yang berhenti setelah memperoleh prestasi. Justru, setiap capaian menjadi pengingat bahwa hafalan Al-Qur’an harus terus dijaga.
Rutinitas murajaah, kedisiplinan membaca Al-Qur’an, serta kemampuan membagi waktu menjadi bagian dari kesehariannya. Ia berusaha menjadikan Al-Qur’an bukan hanya sebagai hafalan yang ditampilkan dalam perlombaan, tetapi juga sebagai bagian dari kehidupan.
Di balik sederet prestasi yang telah diraihnya, Bayu tetap melihat dirinya sebagai seseorang yang terus belajar. Baginya, setiap perlombaan, setiap proses murajaah, dan setiap tantangan adalah pengalaman yang membentuk dirinya untuk semakin dekat dengan Al-Qur’an.
Kini, harapannya tidak hanya tertuju pada dirinya sendiri. Ia ingin semakin banyak anak muda di Riau yang memiliki kecintaan terhadap Al-Qur’an dan berani menekuni jalan yang sama.
“Saya berharap semakin banyak generasi muda Riau yang mencintai, menghafal dan mengamalkan Al-Qur’an, serta terus lahir hafiz-hafiz Riau yang berprestasi di tingkat nasional maupun internasional.”
Dari Sungai Kuti, Rokan Hulu, perjalanan Bayu terus berlanjut. Bukan hanya mengejar prestasi, tetapi menjaga hafalan sebagai amanah dan menjadikan Al-Qur’an sebagai bagian dari perjalanan hidupnya.
Berikut deretan prestasi yang pernah di raihnya, Di tingkat nasional, ia antara lain meraih:
• Juara II Hifzhil Qur’an 10 juz STQH Nasional 2019.
• Juara I Hifzhil Qur’an 10 juz MTQ Nasional 2020.
• Juara II Hifzhil Qur’an 20 juz STQH Nasional 2021.
• Juara II Hifzhil Qur’an 20 juz STQH Nasional 2023.
• Juara I Hifzhil Qur’an 20 juz MTQ Nasional XXX di Kalimantan Timur tahun 2024.
• Juara I Hifzhil Qur’an 30 juz MTQ Tingkat Provinsi Riau 2025
Dan tingkat internasional pada 2025, mewakili Indonesia dalam King Abdulaziz International Competition di Arab Saudi. Ia mengikuti kategori Hifzhil Qur’an 15 juz dan berhasil meraih Juara II. Kompetisi tersebut diikuti peserta dari 128 negara.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....