Lomba PTQ 2026, Qori Bandung Sempat Alami 'Ujian Kecil'

  • 27 Feb 2026 19:05 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

RRI.CO.ID, Jakarta - Di atas panggung, suara adalah jembatan antara hati dan langit. Namun bagi Qori asal Bandung, Ence Humaedullah setiap panggung menyimpan cerita kecil tak terlihat penonton.

Pada ajang Pekan Tilawatil Qur’an (PTQ) 2026, ia mengaku sempat berjuang menyesuaikan diri di awal penampilan. Bukan karena lupa ayat, melainkan karena detail teknis yang sederhana: posisi pengeras suara.

"Tadi kendalanya ada dibagian microphonennya, terlalu ke tengah. Jadinya agak susah waktu menyeimbangkan bacaan," katanya kepada RRI usai lomba PTQ 2026: Tilawah, Auditorium Abdurrahman Saleh RRI, Jakarta Pusat, Jumat, 27 Februari 2026

Dalam tilawah, letak suara menentukan kenyamanan rasa. Sedikit pergeseran bisa mengubah cara napas diatur, cara nada dinaikkan, juga cara ayat dilabuhkan.

Ia merasakan beberapa bagian nadanya belum sepenuhnya mengalir seperti yang ia harapkan. "Dari segi nada memang agak ke rendahan, kurang naik tadi," katanya jujur.

Lebih lanjut, kerendahan hatinya bahkan lebih terasa ketika ia menolak disebut sebagai ahli. Ia hanya terbiasa hidup bersama lantunan ayat suci di pesantren.

Namun panggung pesantren dan panggung nasional jelas menghadirkan rasa yang berbeda. Di pesantren tilawah mengalir hangat, sementara di PTQ setiap huruf dinilai langsung dewan hakim berpengalaman.

"Kalau di sini penilaian langsung oleh dewan hakim yang memang ahlinya. Jadi memang beda perasaannya," ucapnya.

Meski sempat menemui kendala, ia tetap menutup penampilannya dengan ketenangan. Sebab baginya, tilawah bukan sekadar kompetisi, melainkan perjalanan merawat cinta pada ayat-ayat yang sejak kecil.

Senada dengan Ence, Qori asal DKI Jakarta, Zayin Al Munawar, juga menyimpan kisah kecil di balik lantunan ayatnya. Di atas panggung, ia tampil tenang, namun di balik ketenangan itu, ada perjuangan yang tak kasatmata.

Baginya, ujian kali ini bukan pada hafalan atau nada, melainkan pada kondisi fisik yang harus ia kendalikan sendiri. Tenggorokan, kata dia, terasa kering saat melantunkan ayat-ayat suci.

“Kalau saya kendalanya tenggorokan agak sedikit kering saja. Biasanya minum dulu, tapi ini sedang puasa,” ujarnya.

Di tengah ibadah yang dijalani, ia tetap berusaha menjaga irama dan kejernihan suara. Sebab baginya, tilawah bukan hanya tentang keindahan bacaan, tetapi juga tentang kesabaran dan keteguhan hati.

Rekomendasi Berita