Mengurai Sejarah Ampera: Dulu Bung Karno, Kini Ikon Palembang
- 13 Agt 2026 15:55 WIB
- Palembang
Poin Utama
- Jembatan Ampera atau Jerambah Ampera adalah jembatan bersejarah yang menyatukan kawasan ulu dan ilir Palembang dengan menyeberangi Sungai Musi.
- Pembangunan Jembatan Ampera dimulai pada tahun 1962 dan diresmikan pada tanggal 10 November 1965.
- Jembatan ini memiliki nilai historis penting dalam perkembangan infrastruktur kota Palembang dan menghubungkan dua kawasan yang sebelumnya terpisah oleh aliran Sungai Musi.
RRI.CO.ID, Palembang - Sungai Musi tak lagi menjadi penghalang abadi yang membelah kawasan Ulu dan Ilir di Kota Palembang. Berdiri megah memeluk kedua sisi kota, Jembatan Ampera tak sekadar bentangan baja dan beton, melainkan saksi bisu dinamika politik, perjuangan, serta keajaiban teknik sipil Indonesia di masa lalu.
Gagasan menghubungkan Ulu dan Ilir sebenarnya sudah bergulir sejak zaman kolonial Belanda pada 1906. Namun, asa masyarakat Sumatra Selatan itu baru menemui titik terang lebih dari setengah abad kemudian.
Tiang pancang pertama mulai ditancapkan pada April 1962. Menariknya, pembangunan infrastruktur megah ini didanai dari harta pampasan perang Jepang, dengan keterlibatan tim arsitek asal Negeri Sakura yang berkolaborasi bersama maestro teknik Indonesia, Sutami.
Pemerhati sejarah Sumatra Selatan, Mang Dayat (40), mengungkapkan bahwa jembatan kebanggaan masyarakat Palembang ini awalnya tidak bernama Ampera saat diresmikan pada Hari Pahlawan, 10 November 1965.
"Jembatan ini dibangun tiang pancangnya pertama kali di bulan April 1962. Namanya awalnya Jembatan Sukarno sebagai wujud terima kasih masyarakat Palembang pada Presiden pertama Republik Indonesia," kata Mang Dayat saat dihubungi, Selasa, 11 Agustus 2026.
Namun, pusaran politik pasca-1965 mengubah segalanya. Pada 1966, nama Sang Proklamator ditanggalkan. Jembatan berganti nama menjadi Ampera—akronim dari Amanat Penderitaan Rakyat—sebuah slogan politik yang sangat gaung pada era tersebut.
"Pada masanya, Jembatan Ampera ini dinobatkan sebagai jembatan terpanjang di Asia Tenggara," tambah Mang Dayat.
Di balik deretan sejarahnya, Ampera menyimpan keunikan struktur fisik yang memukau. Berbentang sepanjang 1.117 meter dengan lebar 22 meter dan tinggi menara mencapai 63 meter, jembatan ini dulunya mengusung teknologi mekanis canggih.
Bagian tengah jembatan dirancang bisa terangkat ke atas agar kapal-kapal berukuran besar tetap dapat melintas di Sungai Musi. Otak mekanisnya ditopang oleh dua bandul pemberat raksasa—masing-masing seberat 500 ton—yang tertanam di kedua menaranya.
Dengan kecepatan angkat sekitar 10 meter per menit, butuh waktu total 30 menit untuk membuka penuh bentang tengah jembatan. Sayangnya, demi alasan keamanan dan kelancaran lalu lintas darat, aktivitas naik-turun bentang tengah Ampera resmi dihentikan total sejak 1970.
Kini, meski bagian tengahnya tak lagi terangkat mengudara, Jembatan Ampera tetap berdiri kokoh. Ia bukan cuma urat nadi transportasi Palembang, melainkan identitas budaya dan penanda zaman yang tak lekang oleh waktu.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....