Kabut Asap Karhutla Semakin Membahayakan, PJJ Kembali Diberlakukan di Palembang

  • 05 Okt 2026 22:36 WIB
  •  Palembang
Poin Utama
  • Kabut asap karhutla meningkatkan risiko gangguan pernapasan pada anak karena saluran napas mereka lebih kecil dan rentan terhadap partikulat.
  • Memburuknya kualitas udara membuat sejumlah sekolah di Palembang kembali menerapkan PJJ untuk mengurangi paparan asap terhadap siswa.
  • Penerapan PJJ masih menghadapi kendala akses perangkat dan internet, sehingga diperlukan koordinasi pemerintah, sekolah, orang tua, dan fasilitas kesehatan.

RRI.CO.ID, Palembang - Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan atau karhutla di Palembang tidak hanya mengganggu kualitas udara, tetapi juga berdampak pada kesehatan anak dan aktivitas pendidikan. Kondisi tersebut mendorong sekolah menyesuaikan proses pembelajaran, termasuk kembali menerapkan Pembelajaran Jarak Jauh atau PJJ, sebagai upaya mengurangi paparan asap terhadap peserta didik.

Dosen Nefrologi Anak Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya, dr. Enggra Jati Moses H Silitonga, mengatakan anak lebih rentan terhadap paparan asap karena kondisi saluran pernapasannya berbeda dengan orang dewasa. “Endapan-endapan partikulat dari asap lebih mudah terendap di anak-anak, selain itu juga saluran napas anak-anak cenderung lebih kecil,” ujarnya dalam Dialog Beranda Astacita Pro 1 RRI Palembang, Sabtu, 3 Oktober 2026.

Menurut dr. Enggra, dampak yang paling umum dari paparan asap pada anak adalah gangguan saluran pernapasan, mulai dari batuk, pilek dan demam hingga sesak napas ketika paparan sudah memengaruhi paru-paru. Anak dengan riwayat asma memiliki risiko lebih besar mengalami kekambuhan karena partikulat asap dapat memicu penyempitan saluran napas, bahkan meningkatkan kemungkinan membutuhkan perawatan di rumah sakit.

“Kalau memang kabut asapnya begitu tebal, ketika memang ingin keluar kita bisa menggunakan goggles atau pelindung mata khusus untuk anak,” kata dr. Enggra. Ia juga mengingatkan orang tua membatasi aktivitas anak di luar rumah, menggunakan masker yang sesuai, menjaga asupan cairan dan gizi, serta segera membawa anak ke fasilitas kesehatan jika muncul tanda bahaya seperti sesak napas, napas cepat, lemas atau tidak mau makan dan minum.

Dampak kesehatan tersebut turut dirasakan dunia pendidikan di Palembang. Kepala SMP Negeri 33 Palembang, Nurbaiti, mengatakan sekolahnya sempat kembali menerapkan PJJ setelah kualitas udara memburuk dan sejumlah siswa mengalami gangguan kesehatan.

"Anak murid banyak yang sakit terutama itu sakitnya flu dan demam panas,” ujar Nurbaiti. Ia menjelaskan, setelah sempat kembali melaksanakan pembelajaran tatap muka selama tiga hari, kondisi udara kembali memburuk dan sekolah kembali mengalihkan pembelajaran ke sistem daring.

Penerapan PJJ, menurut Nurbaiti, tetap menghadapi kendala karena tidak seluruh siswa memiliki perangkat dan akses internet yang memadai. “Jadi kita bedakan, orang tua yang tidak mempunyai HP kita berikan kebijaksanaan, boleh mereka hanya melaksanakan mengerjakan sesuatu itu sebatas kemampuan anak-anak,” katanya.

Menurut Nurbaiti penanganan dampak kabut asap terhadap anak tidak cukup hanya melalui perlindungan kesehatan, tetapi juga membutuhkan penyesuaian dalam proses pendidikan. Koordinasi antara pemerintah, sekolah, orang tua dan fasilitas kesehatan menjadi penting agar anak tetap memperoleh hak belajar tanpa mengabaikan keselamatan dan kesehatannya.






google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....