BPS Catat Inflasi Sumsel pada September Sebesar 0,21 Persen, Terendah di Indonesia

  • 03 Okt 2026 15:29 WIB
  •  Palembang
Poin Utama
  • Inflasi Sumsel September 2026 mencapai 0,21 persen, naik dari 0,06 persen pada Agustus, tetapi lebih rendah dibandingkan September 2025 sebesar 0,27 persen.
  • Inflasi tahunan Sumsel sebesar 2,55 persen, lebih rendah dari nasional 3,28 persen dan menjadi yang terendah di antara 38 provinsi.
  • Pemerintah mewaspadai tekanan harga hingga akhir 2026, terutama momentum Nataru serta kenaikan harga daging ayam ras akibat gangguan pasokan.

RRI.CO.ID, Palembang - Badan Pusat Statistik (BPS) Sumatera Selatan mencatat inflasi Sumsel pada September 2026 sebesar 0,21 persen secara bulanan (month-to-month/mtm). Angka tersebut meningkat dibandingkan Agustus 2026 yang tercatat sebesar 0,06 persen, namun masih lebih rendah dibandingkan inflasi September 2025 yang mencapai 0,27 persen.

Sejumlah komoditas menjadi penyumbang utama inflasi Sumsel pada September 2026. Komoditas tersebut antara lain beras, cabai merah, cabai rawit, telur ayam ras dan pisang yang memberikan andil terhadap kenaikan harga di sejumlah kabupaten dan kota di Sumatera Selatan.

Kepala BPS Sumatera Selatan Mohamad Wahyu Yulianto mengatakan inflasi Sumsel pada September 2026 masih berada di bawah angka nasional. Secara bulanan, inflasi nasional tercatat sebesar 0,30 persen, sedangkan Sumsel berada pada level 0,21 persen.

"Sementara itu, secara tahunan atau year-on-year (yoy), inflasi Sumsel mencapai 2,55 persen. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan inflasi nasional yang mencapai 3,28 persen pada periode yang sama," ujar Moh Wahyu, saat Press release (pernyataan resmi) di Kantor BPS Sumsel, Kamis 1 Oktober 2026.

Sejumlah komoditas menjadi penyumbang utama inflasi Sumsel pada September 2026, pada Press release di Kantor BPS Sumsel, Kamis 1 Oktober 2026, (Foto: RRI/Kgs M Irpan).

Wahyu menyebut inflasi tahunan Sumsel sebesar 2,55 persen merupakan yang terendah dibandingkan 38 provinsi di Indonesia. Kondisi tersebut tidak terlepas dari upaya Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID), pemerintah daerah, serta kolaborasi berbagai pihak dalam menjaga stabilitas harga di tengah tekanan inflasi.

Meski demikian, pemerintah masih perlu mewaspadai perkembangan harga dalam tiga bulan terakhir 2026, yakni Oktober, November, dan Desember. Tekanan inflasi diperkirakan perlu mendapat perhatian lebih pada Desember karena adanya momentum Natal dan Tahun Baru (Nataru) yang biasanya meningkatkan aktivitas masyarakat dan permintaan sejumlah komoditas.

"Dari sisi pasokan, beberapa wilayah produksi di Sumatera Selatan masih memasuki masa panen sehingga ketersediaan sejumlah komoditas relatif terjaga. Kondisi tersebut membantu menjaga stabilitas harga, meski terdapat beberapa komoditas yang masih menjadi perhatian pemerintah," tutur Wahyu.

Salah satu komoditas yang perlu diwaspadai adalah daging ayam ras. Menurut Wahyu, pasokan komoditas tersebut terdampak tingginya angka kematian ayam sehingga turut mendorong kenaikan harga. Pemerintah bersama TPID diharapkan terus memantau perkembangan pasokan dan harga untuk menjaga inflasi tetap terkendali.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....