Gambut Kering Jadi Tantangan Pemadaman Karhutla Sumsel

  • 01 Okt 2026 11:38 WIB
  •  Palembang
Poin Utama
  • Kemarau ekstrem di Sumatera Selatan meningkatkan kesulitan penanganan kebakaran hutan dan lahan karena lahan yang sangat kering mempercepat penyebaran api.
  • Kepala Stasiun Klimatologi BMKG Sumatera Selatan Wandayantolis menyatakan curah hujan rendah dalam beberapa waktu terakhir menyebabkan kelembapan tanah terus menurun.
  • Kondisi kering ekstrem membuat proses pemadaman api menjadi lebih sulit dan memerlukan upaya penanganan yang lebih intensif.

RRI.CO.ID, Palembang - Kemarau ekstrem membuat penanganan kebakaran hutan dan lahan atau karhutla di Sumatera Selatan semakin berat. Kondisi lahan yang kering membuat api lebih cepat menyebar dan membutuhkan waktu lebih lama untuk dipadamkan.

Kepala Stasiun Klimatologi Kelas I BMKG Sumatera Selatan Wandayantolis mengatakan kondisi kering telah berlangsung dalam beberapa waktu terakhir. Curah hujan yang rendah membuat kelembapan tanah terus menurun di sejumlah wilayah.

“Jumlah air yang masuk, dalam hal ini hujan, jauh lebih sedikit dibanding laju penguapan,” kata Wandayantolis dalam dialog Palembang Menyapa, Selasa, 29 September 2026.

Wandayantolis menyebut Sumatera Selatan masih menghadapi pengaruh El Nino dengan kondisi kemarau yang cukup kuat. Sejumlah wilayah juga mengalami hari tanpa hujan dalam periode yang cukup panjang.

Kondisi tersebut turut meningkatkan tantangan bagi petugas yang menangani kebakaran di berbagai wilayah Sumatera Selatan. Kepala Balai Pengendalian Kebakaran Hutan Wilayah Sumatera Ferdian Krisnanto mengatakan petugas masih menghadapi banyak titik kebakaran.

Penanganan dilakukan bersama berbagai unsur karena kebakaran muncul di sejumlah wilayah dalam waktu bersamaan. Kondisi tersebut membuat personel harus membagi kekuatan berdasarkan tingkat kebutuhan setiap lokasi.

Kabupaten Ogan Komering Ilir menjadi salah satu wilayah yang masih mendapat perhatian dalam penanganan karhutla. Beberapa lokasi yang menjadi fokus pemadaman berada di Pedamaran, Cengal, dan Pangkalan Lampam.

Ferdian mengatakan kondisi gambut yang kering menjadi salah satu kendala utama dalam proses pemadaman. Api dapat merambat ke bawah permukaan tanah sehingga proses pendinginan membutuhkan waktu dan pasokan air lebih banyak.

“Pemadaman satu meter persegi saja membutuhkan tiga sampai empat jam,” ujarnya. Petugas harus memastikan lahan benar-benar basah untuk mencegah api kembali muncul setelah pemadaman.

Selain pemadaman dari darat, penanganan karhutla dilakukan melalui operasi udara menggunakan helikopter water bombing. Namun, asap tebal dapat mengurangi jarak pandang dan membatasi pergerakan helikopter menuju lokasi kebakaran.

Di tengah kondisi tersebut, BMKG memperkirakan hujan mulai muncul secara sporadis pada September hingga Oktober. Sementara musim hujan secara umum diperkirakan mulai terjadi pada November.

Wandayantolis mengingatkan masyarakat tidak melakukan aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran selama kondisi lahan masih kering. Pencegahan sumber api dinilai penting untuk mengurangi kemunculan titik kebakaran baru di Sumatera Selatan.

Kondisi kemarau membuat upaya pencegahan menjadi bagian penting dalam pengendalian karhutla. Masyarakat juga diharapkan segera melaporkan apabila menemukan titik api agar penanganan dapat dilakukan sedini mungkin.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....