Petani Banyuasin Menjerit Air Asin dan Harga Pertalite Mahal

  • 21 Sep 2026 11:00 WIB
  •  Palembang
Poin Utama
  • Petani di Kecamatan Muara Telang, Kabupaten Banyuasin menghadapi ancaman gagal panen akibat intrusi air asin yang mengubah pasokan air persawahan menjadi asin di tengah puncak musim kemarau.
  • Selain masalah air asin, petani juga terbebani oleh meningkatnya harga bahan bakar minyak (BBM) eceran yang mencekik operasional pertanian mereka.
  • Gubernur Sumatera Selatan Herman Deru melakukan dialog langsung dengan petani di Desa Telang Rejo pada Sabtu, 19 September 2026 untuk membahas permasalahan yang dihadapi lumbung pangan Sumatera Selatan ini.

RRI.CO.ID, Banyuasin - Beban berat harus dipikul para petani di Kecamatan Muara Telang, Kabupaten Banyuasin. Di tengah puncak musim kemarau, lumbung pangan Sumatera Selatan ini tidak hanya terancam gagal panen akibat pasokan air persawahan yang berubah asin, tetapi juga harus menanggung mencekiknya harga bahan bakar minyak (BBM) eceran.

Ancaman ganda tersebut mencuat saat Gubernur Sumatera Selatan, Herman Deru, melakukan dialog langsung bersama para petani di Desa Telang Rejo pada Sabtu, 19 September 2026.

Sektor pertanian yang biasa mengandalkan pompanisasi dari sungai kini tak lagi bisa berkutik. Deru yang turun langsung menyisir area persawahan bahkan berinisiatif meminum sedikit air dari saluran irigasi warga untuk memastikan kondisinya.

"Saya sudah pastikan dengan mencoba langsung mencicipi air dari saluran setempat, saya mendapati air tersebut berasa asin. Kondisi ini membuat upaya pompanisasi menggunakan air sungai di lokasi tertentu menjadi kurang efektif bagi tanaman padi," kata Deru di lokasi.

Fenomena intrusi air laut yang bercampur ke saluran irigasi ini jelas mengancam kelangsungan hidup tanaman padi. Padahal, lahan pertanian di wilayah Muara Telang tergolong sangat produktif dengan frekuensi panen mencapai tiga kali dalam setahun.

"Setelah saya dialog dengan petani tadi, sejumlah tantangan yang dihadapi para petani, khususnya terkait ketersediaan air tawar dan fenomena intrusi air laut atau air payau saat musim kemarau panjang," lanjutnya.

Deru menjanjikan langkah cepat dengan menginstruksikan Kepala Dinas Pertanian untuk menyisir titik-titik irigasi yang masih menyimpan pasokan air tawar agar bisa disedot menggunakan mesin pompa.

Namun, derita petani tidak berhenti pada urusan irigasi. Saat menggunakan mesin pompa pendukung, para petani menjerit lantaran harga Pertalite di tingkat pengecer melambung tinggi, menembus angka Rp13.000 hingga Rp15.000 per liter. Tingginya harga BBM ini otomatis membengkakkan biaya produksi.

Merespons jeritan warga, Pemprov Sumsel berencana melobi PT Pertamina agar segera memfasilitasi pendirian Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di kawasan sentra pertanian tersebut demi memangkas rantai distribusi BBM eceran yang mahal.

Pemerintah Kabupaten Banyuasin menyambut baik respons cepat penanganan krisis ini. Asisten II Setda Banyuasin, Alpian Soleh, mengapresiasi upaya penyelamatan lahan sawah warga dari bahaya air asin dan masalah ketersediaan energi.

"Terima kasih juga atas langkah yang akan diambil Gubernur Sumsel dalam upaya yang akan dilakukan mengatasi ancaman musim kemarau terhadap sawah di Banyuasin," ujar Alpian.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....