Karhutla Berkontribusi terhadap Penurunan Kualitas Atmosfer Sumatera Selatan

  • 19 Sep 2026 11:45 WIB
  •  Palembang
Poin Utama
  • Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Sumatera Selatan berkontribusi signifikan terhadap penurunan kualitas atmosfer melalui peningkatan konsentrasi Particulate Matter 2,5.
  • BMKG Sumatera Selatan secara aktif memantau kualitas udara dengan fokus pada pengukuran konsentrasi PM 2,5 yang menunjukkan keberadaan aerosol dan partikel kecil dari pembakaran.
  • Konsentrasi PM 2,5 yang terukur memberikan gambaran nyata tentang sebaran asap dan dampak kesehatan atmosfer akibat aktivitas pembakaran di kawasan Sumatera Selatan.

RRI.CO.ID, Palembang - Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Sumatera Selatan turut berkontribusi terhadap penurunan kualitas atmosfer. Kondisi tersebut salah satunya terlihat dari fluktuasi konsentrasi Particulate Matter (PM) 2,5 yang berkaitan erat dengan pembakaran dan sebaran asap.

Kepala Stasiun BMKG Klimatologi Kelas I Sumatera Selatan, Wandayantolis, mengatakan BMKG memantau kualitas atmosfer salah satunya melalui konsentrasi PM 2,5 yang menjadi gambaran keberadaan aerosol atau partikel berukuran sangat kecil di udara. "Sejauh ini pantauan kami di BMKG Sumatera Selatan itu dari PM 2,5. Ini merupakan gambaran aerosol atau partikel padat yang umumnya terkait dengan pembakaran," ujar Wandayantolis saat berbincang di dialog Palembang Menyapa RRI, Rabu 16 September 2026.

Menurutnya, fluktuasi konsentrasi PM 2,5 menunjukkan hubungan yang cukup erat dengan kejadian Karhutla dan sebaran asap. Namun, luas dan arah penyebaran asap sangat dipengaruhi oleh kondisi atmosfer, terutama arah angin dan stabilitas atmosfer.

Stabilitas atmosfer menentukan kemampuan udara untuk bergerak secara vertikal. Ketika kondisi atmosfer stabil, polutan cenderung tertahan dan menumpuk di dekat permukaan sehingga konsentrasi PM 2,5 dapat meningkat.

"Kita sering mengalami pada pagi hari terlihat asap atau jarak pandang kita sangat berkurang karena adanya lapisan inversi dan kecepatan angin yang rendah, sehingga polutan menumpuk di permukaan," jelasnya. Kondisi tersebut dapat semakin diperburuk oleh keberadaan kabut atau uap air.

Kombinasi asap, polutan, dan kabut menyebabkan jarak pandang menurun serta berpotensi memberikan dampak terhadap kesehatan masyarakat. Ia juga menjelaskan, peningkatan konsentrasi PM 2,5 juga umumnya mulai terlihat pada malam hari.

Kondisi tersebut dapat berkaitan dengan masuknya asap dari wilayah yang mengalami kebakaran, tergantung arah angin. "Kalau yang masuk ke Palembang karena anginnya dari timuran, berarti sumber asapnya dari wilayah timur atau tenggara Palembang," katanya.

Ia menambahkan, kondisi malam hari juga dapat memengaruhi perkembangan Karhutla. Aktivitas pemadaman, seperti water bombing, cenderung lebih terbatas pada malam hari. Begitu pula dengan pergerakan pasukan darat yang tidak seintensif pada siang hari.

"Pada malam hari laju perluasan kebakaran bisa menjadi lebih besar. Ini yang kemudian beberapa jam berikutnya asapnya sampai di wilayah Palembang," ujarnya.

Asap yang terbawa angin membutuhkan waktu untuk mencapai wilayah Palembang. Karena itu, peningkatan konsentrasi PM 2,5 dapat mulai terpantau sejak dini hari, yang secara visual ditandai dengan berkurangnya jarak pandang dan munculnya asap.

Memasuki pagi hari, kondisi angin yang relatif lemah serta atmosfer yang stabil dapat membuat asap semakin terperangkap di dekat permukaan. Kondisi inilah yang kemudian menyebabkan fluktuasi kualitas udara di Sumatera Selatan.

Dampak Karhutla terhadap kualitas atmosfer tidak hanya ditentukan oleh besarnya kebakaran. Kondisi meteorologis juga turut memengaruhi pergerakan dan akumulasi asap di udara.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....