Kemenag Sumsel Apresiasi Program Penguatan Moderasi Beragama
- 17 Sep 2026 14:39 WIB
- Palembang
Poin Utama
- Kementerian Agama Provinsi Sumatera Selatan memberikan apresiasi kepada Densus 88 Anti Teror Polri Satgas Wilayah Sumsel atas penyelenggaraan Kegiatan Transformasi Ideologi Wasathiyah.
- Kanwil Kemenag Sumsel menekankan bahwa merawat kerukunan dan pemahaman moderasi beragama bukan agenda yang sekali selesai, melainkan proses yang harus dilakukan secara terus-menerus dan berkelanjutan.
- Kegiatan Transformasi Ideologi bertajuk 'Jalan Menuju Wasathiyah: Membangun Kesadaran Baru Ideologi Sehat dan Moderat' dibuka pada Rabu, 16 September 2026.
RRI.CO.ID, Palembang - Kementerian Agama (Kemenag) Provinsi Sumatera Selatan memberikan apresiasi terhadap kegiatan Transformasi Ideologi yang digelar Densus 88 Anti Teror Polri Satgas Wilayah Sumsel. Program tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat pemahaman ideologi sehat dan moderat di tengah masyarakat.
Kegiatan bertajuk “Jalan Menuju Wasathiyah: Membangun Kesadaran Baru Ideologi Sehat dan Moderat” berlangsung pada Rabu, 16 September 2026. Acara tersebut diikuti 48 peserta mantan anggota Jamaah Islamiyah (JI) dari Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) dan Kota Palembang.
Kepala Kantor Wilayah Kemenag Sumsel Syafitri Irwan menyampaikan apresiasi kepada Densus 88 Anti Teror Polri atas pelaksanaan kegiatan tersebut. Menurutnya, menjaga kerukunan dan moderasi beragama membutuhkan proses panjang yang harus dilakukan secara konsisten.
“Kami menyampaikan apresiasi yang sebesar-besarnya kepada Densus 88. Merawat kerukunan dan moderasi beragama harus berkelanjutan dan terus-menerus,” ujar Syafitri.
Ia menjelaskan Kemenag terus memperkuat moderasi beragama melalui berbagai program pembinaan. Upaya tersebut dilakukan mulai dari penguatan wawasan aparatur sipil negara hingga edukasi kepada masyarakat luas.
Syafitri mengatakan penguatan moderasi beragama memberikan dampak terhadap kehidupan sosial masyarakat. Menurutnya, peningkatan pemahaman keberagaman menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga hubungan antarumat beragama.
“Komitmen ini membuahkan hasil nyata. Indeks Kerukunan Umat Beragama (KUB) nasional terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun,” katanya.
Ia mengingatkan keberagaman Indonesia merupakan bagian dari karakter bangsa yang harus dijaga bersama. Perbedaan suku, etnis, budaya, dan wilayah dinilai menjadi kekuatan yang mempererat persatuan.
Menurut Syafitri, keberagaman tidak diciptakan untuk memunculkan perpecahan. Perbedaan justru menjadi ruang untuk saling mengenal dan membangun kehidupan bersama dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika.
“Allah menciptakan kita berbeda-beda bukan untuk saling membenci atau bermusuhan, melainkan untuk saling mengenal. Pendiri bangsa kita dahulu berjuang keras merekatkan Indonesia hingga lahirlah Bhinneka Tunggal Ika,” tuturnya.
Ia juga menyampaikan kritik terhadap perjalanan bangsa merupakan bagian dari proses pembangunan. Namun, penyampaian kritik harus dilakukan secara konstruktif tanpa mengganggu persatuan masyarakat. “Negara tidak akan maju jika tidak dikritis,” ujar Syafitri.
Syafitri menegaskan masyarakat perlu menjaga keseimbangan antara kebebasan menyampaikan pendapat dan tanggung jawab mempertahankan persatuan. Menurutnya, nilai kemanusiaan dan ketakwaan menjadi bagian penting dalam kehidupan berbangsa.
Ia berharap pemahaman mengenai moderasi beragama dapat terus berkembang di seluruh lapisan masyarakat. Upaya tersebut dinilai penting untuk menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Kegiatan tersebut turut dihadiri Kasatgaswil Sumsel Densus 88 Anti Teror Kombes Polisi Beni Kusworo, Direktur Intelkam Polda Sumsel Kombes Polisi Tony Budhi Susetyo, Kaban Kesbangpol Pemprov Sumsel Arinarsa JS, Sekretaris PWNU Sumsel, Ketua Baznas Sumsel, serta tokoh agama dan tokoh masyarakat.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....