Rontgen Keliling Percepat Eliminasi TBC di Palembang

  • 16 Sep 2026 06:29 WIB
  •  Palembang
Poin Utama
  • Upaya penemuan kasus tuberkulosis diperkuat melalui pemeriksaan secara aktif untuk mempercepat penanganan dan memutus mata rantai penularan.
  • Layanan kesehatan berbasis masyarakat menjadi strategi utama dalam deteksi dini kasus TBC di tingkat komunitas.
  • Kehadiran layanan rontgen keliling di posyandu diharapkan memudahkan akses masyarakat untuk memperoleh pemeriksaan kesehatan.

RRI.CO.ID, Palembang - Upaya menemukan kasus tuberkulosis atau TBC terus diperkuat di tengah masih tingginya penularan penyakit tersebut. Pemeriksaan secara aktif menjadi langkah penting untuk mempercepat penanganan dan memutus mata rantai penularan.

Pemanfaatan layanan kesehatan berbasis masyarakat menjadi salah satu strategi dalam menemukan kasus TBC lebih awal. Kehadiran layanan rontgen keliling di posyandu diharapkan memudahkan masyarakat memperoleh pemeriksaan.

Plt Kepala Seksi P2PM Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan, Marsal Husnan, menyampaikan hal tersebut dalam program Beranda Asta Cita Pro 1 RRI Palembang, Sabtu, 5 September 2026. Marsal mengatakan, TBC masih menjadi persoalan kesehatan yang dihadapi berbagai negara, termasuk Indonesia.

Berdasarkan laporan WHO, pada 2025 diperkirakan terdapat sekitar 10 juta kasus TBC di dunia. “Situasi TBC ini bukan hanya di Sumatera Selatan atau Indonesia, tetapi juga di dunia.

Ia menjelaskan sekitar 10 persen dari estimasi kasus global tersebut berada di Indonesia. Indonesia juga termasuk tujuh negara dengan jumlah kasus TBC terbesar di dunia setelah India.

Untuk Sumatera Selatan, Marsal menyebut terdapat estimasi sekitar 37 ribu kasus TBC dalam satu tahun. Menurutnya, tantangan utama saat ini adalah mempercepat penemuan kasus agar segera mendapatkan pengobatan.

“Tantangan kita adalah bagaimana bisa menemukan estimasi kasus TBC sebanyak 37 ribu itu semakin cepat,” jelasnya. Menurut Marsal, penemuan kasus lebih awal dapat mengurangi risiko penularan kepada orang lain.

Marsal mengatakan posyandu dapat dimanfaatkan sebagai salah satu lokasi untuk memperluas penemuan kasus TBC. Pemeriksaan yang lebih dekat dengan masyarakat diharapkan membantu mempercepat deteksi penyakit tersebut.

Sementara itu, Staf Medik RSMH Palembang, dr. Zen Ahmad, menjelaskan gejala TBC paru umumnya berkaitan dengan gangguan pernapasan. Batuk berdahak yang berlangsung lebih dari dua minggu menjadi salah satu gejala yang perlu diperiksa.

“Gejala-gejala pernapasan untuk TBC paru yang pertama batuk-batuk, mau berdahak. Kalau sudah lebih dari dua minggu, maka perlu dicurigai TBC,” kata dr. Zen.

Ia menegaskan masyarakat dengan gejala tersebut belum dapat langsung dinyatakan positif TBC. Pemeriksaan lanjutan diperlukan untuk memastikan diagnosis, termasuk pemeriksaan dahak dan rontgen.

“Orang yang mempunyai gejala klinis seperti ini kita sebut tersangka atau terduga. Maka dia harus dipastikan apakah dia TBC atau bukan,” pungkasnya.

Penguatan penemuan kasus melalui posyandu dan layanan rontgen keliling diharapkan mempercepat deteksi TBC. Langkah tersebut juga diharapkan mampu menekan penularan dan mendukung pencapaian target eliminasi TBC.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....