Sespimen Polri Kaji Strategi Cegah Karhutla Berbasis Warga di OKI
- 12 Sep 2026 16:20 WIB
- Palembang
Poin Utama
- 11 peserta didik Sespimen Polri Dikreg ke-67 Tahun 2026 diterjunkan ke Kabupaten Ogan Komering Ilir untuk mengkaji strategi pencegahan dan mitigasi karhutla berbasis partisipasi masyarakat.
- Kuliah Kerja Profesi (KKP) berlangsung hingga 16 September 2026 dengan mengangkat tema strategi pencegahan dan mitigasi karhutla berbasis partisipasi masyarakat.
- Peserta melakukan dialog bersama masyarakat dan pemangku kepentingan, edukasi pencegahan, observasi lapangan, serta focus group discussion (FGD) untuk menggali persoalan karhutla secara langsung.
RRI.CO,ID, OKI - Sebanyak 11 peserta didik Sespimen Polri Dikreg ke-67 Tahun 2026 turun ke Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) untuk mengkaji strategi pencegahan karhutla. Kajian tersebut menyoroti keterlibatan masyarakat sebagai bagian penting dalam mitigasi kebakaran hutan dan lahan.
Kegiatan Kuliah Kerja Profesi (KKP) berlangsung hingga Rabu, 16 September 2026 dengan tema “Strategi Pencegahan dan Mitigasi Karhutla Berbasis Partisipasi Masyarakat”. Peserta menggali kondisi lapangan melalui dialog warga, observasi wilayah, edukasi pencegahan, dan diskusi kelompok.
Wakil Bupati OKI Supriyanto mengatakan kajian lapangan diperlukan untuk memahami karakter persoalan karhutla secara menyeluruh. Menurutnya, kondisi wilayah OKI yang memiliki gambut, hutan, perkebunan, dan pertanian membutuhkan strategi yang tidak hanya berfokus pada pemadaman.
“Kita tidak boleh menunggu api muncul baru bergerak. Kita harus membangun sistem yang mengedepankan pencegahan, deteksi dini, respons cepat dan mitigasi yang terkoordinasi,” kata Supriyanto.
Supriyanto menjelaskan penanganan karhutla harus melibatkan berbagai pihak dalam satu sistem terpadu. Pemerintah daerah, TNI-Polri, BPBD, Manggala Agni, dunia usaha, pemerintah desa, akademisi, dan masyarakat memiliki peran dalam memperkuat pencegahan.
Ia menilai masyarakat memiliki posisi strategis karena berada paling dekat dengan wilayah rawan kebakaran. Pengetahuan warga terhadap kondisi lingkungan dapat membantu mempercepat pelaporan dan memperkuat sistem peringatan dini.
“Masyarakat harus kita tempatkan bukan hanya sebagai objek yang menerima imbauan, tetapi sebagai subjek dan mitra aktif dalam pencegahan karhutla,” ujarnya.
Sementara itu, Widyaiswara Kepolisian Utama Tingkat II Sespim Lemdiklat Polri Brigjen Pol. Dr. Harryo Sugihhartono mengatakan KKP memberikan pengalaman langsung kepada peserta didik untuk memahami persoalan masyarakat. Menurutnya, pengalaman lapangan menjadi bekal penting bagi calon pimpinan Polri.
“Peserta didik perlu memahami kondisi lapangan secara substantif. Mereka nantinya adalah calon-calon pimpinan Polri, sehingga pengalaman berinteraksi langsung dengan masyarakat menjadi bagian penting dari proses pendidikan,” ujar Harryo.
Harryo menuturkan karhutla memiliki dampak luas terhadap berbagai sektor kehidupan masyarakat. Karena itu, penanganannya membutuhkan strategi kolaboratif agar pencegahan, deteksi, pelaporan, dan mitigasi risiko dapat berjalan sejak dini.
Kajian Sespimen Polri di OKI juga mencakup aspek sosial melalui kegiatan trauma healing bagi masyarakat terdampak. Hasil kajian tersebut diharapkan menghasilkan rekomendasi untuk memperkuat kesiapsiagaan dan mengubah pola penanganan karhutla dari reaktif menjadi preventif.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....