Sampah dan Resapan Air Jadi Tantangan Lingkungan Perkotaan

  • 10 Sep 2026 14:42 WIB
  •  Palembang
Poin Utama
  • Pengelolaan sampah yang belum optimal menjadi tantangan lingkungan paling dominan di perkotaan, menurut Ketua Komunitas Sedolor Proklim Palembang Hendy M. Adw.
  • Minimnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga lingkungan dan kurangnya ruang terbuka untuk resapan air turut memperparah persoalan lingkungan di area perkotaan.
  • Komunitas Sedolor Proklim Palembang aktif melakukan kegiatan di tengah masyarakat untuk mengatasi persoalan lingkungan yang ditemui sehari-hari.

RRI.CO.ID, Palembang - Persoalan sampah dan berkurangnya area resapan air menjadi tantangan lingkungan yang masih dihadapi masyarakat perkotaan. Kondisi tersebut membutuhkan perubahan kebiasaan masyarakat melalui edukasi pengelolaan sampah, penghijauan, dan pemanfaatan lahan rumah.

Ketua Komunitas Sedolor Proklim Palembang, Hendy M. Adw, mengatakan sampah menjadi salah satu persoalan lingkungan yang paling sering ditemukan dalam aktivitas komunitas di masyarakat. Menurutnya, pengelolaan sampah masih membutuhkan perhatian karena berkaitan langsung dengan kualitas lingkungan.

“Sampah yang paling menjadi problem utama di perkotaan,” ujar Hendy dalam Dialog Kita Indonesia RRI, Kamis, 10 September 2026.

Menurut Hendy, persoalan sampah terjadi karena masih rendahnya pemahaman sebagian masyarakat mengenai pengelolaan limbah rumah tangga. Edukasi lingkungan perlu dilakukan secara berkelanjutan agar masyarakat mampu menerapkan kebiasaan memilah dan mengurangi sampah.

Selain sampah, Hendy menyoroti semakin berkurangnya area resapan air akibat perubahan tata ruang di kawasan permukiman. Banyak masyarakat memilih menutup halaman dengan beton sehingga air hujan sulit terserap ke dalam tanah.

“Masyarakat kurang teredukasi tentang bagaimana mengelola sampah, penghijauan. Sekarang banyak orang yang senang mengecor halamannya, padahal itu tidak bisa jadi resapan air yang jatuh,” jelasnya.

Ia menilai menjaga lingkungan tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah maupun komunitas. Masyarakat dapat mengambil peran melalui langkah sederhana, seperti menyediakan ruang hijau, menjaga area resapan, dan mengelola sampah dari rumah.

Selain lingkungan, Hendy juga mendorong masyarakat perkotaan memperkuat ketahanan pangan melalui pemanfaatan pekarangan. Menurutnya, kebutuhan pangan tertentu dapat mulai dipenuhi secara mandiri tanpa harus selalu bergantung pada pasokan dari luar.

“Kapan pun kita butuh pangan yang bergizi kita siap, fisik siap, bahkan ekonominya siap,” katanya.

Hendy menjelaskan ketahanan pangan tidak hanya bergantung pada petani dengan lahan luas. Masyarakat perkotaan juga dapat berkontribusi dengan menanam kebutuhan sehari-hari seperti sayuran, cabai, dan tanaman pangan lainnya di pekarangan rumah.

“Kebutuhan untuk ketahanan pangan ini tidak hanya bersandar pada petani di hamparan, tetapi untuk kebutuhan sayur, cabai, lauk-pauk kita bisa memenuhi sendiri dari pekarangan rumah,” ungkapnya.

Menurutnya, kondisi lingkungan memiliki hubungan erat dengan keberlanjutan pertanian dan pemenuhan kebutuhan pangan. Lingkungan yang sehat akan mendukung masyarakat dalam menciptakan sistem pangan yang lebih mandiri.

“Kondisi lingkungan sangat erat dengan pertanian,” tegas Hendy.

Ia berharap masyarakat semakin memahami bahwa menjaga lingkungan dan membangun ketahanan pangan dapat dimulai dari rumah. Pengelolaan sampah yang baik, penghijauan, menjaga resapan air, serta pemanfaatan pekarangan menjadi langkah sederhana yang dapat memberikan dampak bagi kehidupan perkotaan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....