HMI Ajarkan Kepemimpinan Lahir dari Proses, Bukan Hanya Bakat Lahir
- 05 Sep 2026 13:45 WIB
- Palembang
Poin Utama
- Kepemimpinan dapat dibentuk melalui proses berorganisasi, bukan hanya bakat sejak lahir.
- HMI melatih kader memimpin secara bertahap dari tugas kecil hingga tanggung jawab besar.
- Kesempatan belajar kepemimpinan terbuka bagi semua anggota tanpa sistem privilege.
RRI.CO.ID, Palembang - Anggapan bahwa kepemimpinan hanya bawaan sejak lahir masih banyak dipercaya sebagian masyarakat. Hal ini disikapi Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Komisariat Universitas Bina Darma, Anjas Ardiansyah, yang menegaskan jiwa kepemimpinan justru bisa dibentuk lewat proses berorganisasi.
Hal tersebut ia sampaikan dalam siaran Obrolan Komunitas Pro 4 RRI Palembang pada Selasa, 1 September 2026. Anjas menjelaskan memang ada dua tipe kepemimpinan, yakni berdasarkan bakat lahir atau garis keturunan dan yang terbentuk melalui proses.
"Di HMI ini, kami diajarkan kepemimpinan lewat proses," ujar Anjas. Ia menyebut model kepemimpinan tersebut menjadi nilai utama yang ditanamkan kepada setiap kader sejak awal mereka bergabung.
Anjas menyebut proses pembentukan kepemimpinan dimulai dari keterlibatan kader dalam kegiatan berskala kecil di organisasi. Kader biasanya dilatih menjadi panitia maupun ketua pelaksana sebelum dipercaya memegang tanggung jawab yang lebih besar.
"Memimpin dari kecil dulu, lalu nanti diberikan tugas yang lebih besar dari sebelumnya, itu rentetannya," ungkap Anjas. Ia menegaskan tahapan tersebut sengaja dirancang agar kader terbiasa menghadapi tanggung jawab secara bertahap.
Untuk menghindari kesenjangan di antara anggota, tidak ada sistem privilege menjadi prinsip utama yang dipegang HMI dalam proses pembentukan pemimpin. Prinsip ini dinilai lebih adil dibanding organisasi yang hanya mengandalkan latar belakang tertentu.
"Di HMI ini tidak ada yang punya privilege, semua orang punya hak untuk bisa belajar jadi pemimpin," tuturnya. Ia menegaskan kesempatan berkembang menjadi pemimpin terbuka bagi siapa saja tanpa memandang status sosial maupun garis keturunan.
Anjas berharap semakin banyak mahasiswa berani belajar kepemimpinan meski merasa tidak memiliki bakat sejak awal. Ia menegaskan kemauan untuk terus belajar menjadi modal utama seseorang dapat berkembang menjadi pemimpin yang berintegritas.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....