IDAI Imbau Anak - Anak Harus Terlindungi dari Kabut Asap Karhutla

  • 07 Sep 2026 08:51 WIB
  •  Palembang
Poin Utama
  • Anak rentan terhadap dampak kabut asap karena kondisi saluran pernapasan dan kebutuhan oksigen yang tinggi.
  • Masyarakat perlu membatasi aktivitas luar ruangan dan meningkatkan perlindungan anak saat kualitas udara memburuk.
  • Sekolah dapat menyesuaikan pola pembelajaran, termasuk pembelajaran daring, ketika kabut asap membahayakan kesehatan siswa.

RRI.CO.ID, Palembang – Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) berpotensi mengganggu kesehatan masyarakat, terutama anak-anak. Paparan asap dapat memengaruhi saluran pernapasan hingga menimbulkan gangguan kesehatan apabila berlangsung dalam waktu lama.

Ketua Ikatama Dokter Anak Indonesia (IDAI)Sumsel yang juga Dokter Spesialis Anak Konsultan RSMH Palembang, dr. Julius Anzar mengatakan anak menjadi kelompok yang lebih rentan terhadap paparan polusi udara. Kondisi tersebut berkaitan dengan ukuran saluran pernapasan anak yang lebih kecil serta kebutuhan oksigen yang tinggi dalam proses pertumbuhan.

Menurutnya, dampak kabut asap tidak hanya berkaitan dengan gangguan pernapasan, tetapi juga dapat memengaruhi kondisi kesehatan lainnya. Paparan asap yang berlangsung terus-menerus perlu diwaspadai karena konsentrasi polutan dan lamanya paparan turut menentukan tingkat risikonya.

“Kalau udara yang kotor ini berlangsung lama, tentu akan memberikan dampak terhadap paru-paru anak, apalagi kalau konsentrasinya tinggi dan paparannya terus-menerus,” jelas dr. Julius dalam Dialog Palembang Menyapa Pro 1 RRI Palembang, Kamis, 3 September 2026.

Karena itu, masyarakat diimbau mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika kondisi udara memburuk akibat kabut asap. Anak-anak juga sebaiknya lebih banyak beraktivitas di dalam rumah, menggunakan masker yang sesuai ketika harus keluar, serta menjaga asupan makanan bergizi dan cairan tubuh.

Pembatasan aktivitas di luar ruangan tersebut juga perlu diterapkan dalam lingkungan pendidikan ketika kualitas udara sudah tidak aman bagi siswa. Pengamat pendidikan, Zulfikri, mengatakan keselamatan dan kesehatan peserta didik harus menjadi pertimbangan utama dalam menentukan pola pembelajaran selama kabut asap.

Menurut Zulfikri, sekolah dapat menyesuaikan kegiatan belajar dengan kondisi lingkungan, termasuk menerapkan pembelajaran jarak jauh apabila situasi tidak memungkinkan siswa beraktivitas di sekolah. "Kalau asap ini sudah mengganggu kesehatan, sekolah bisa mengambil langkah untuk melakukan pembelajaran secara daring, tentunya tetap berkoordinasi dan melaporkan kepada Dinas Pendidikan,” ujarnya.

Ia menilai pengalaman pembelajaran daring pada masa pandemi dapat menjadi modal bagi sekolah untuk menghadapi kondisi darurat akibat kabut asap. Guru juga perlu menyesuaikan metode pembelajaran agar perubahan pola belajar tidak mengurangi ketercapaian materi bagi peserta didik.

Selain mengurangi aktivitas luar ruangan, sekolah di wilayah terdampak juga perlu menyiapkan langkah perlindungan bagi siswa dan tenaga pendidik. Koordinasi antara sekolah, Dinas Pendidikan, Dinas Kesehatan, dan instansi lingkungan diperlukan agar keputusan terkait kegiatan belajar dapat disesuaikan dengan kondisi udara.

Dr. Julius mengingatkan masyarakat agar tidak menganggap remeh paparan kabut asap, terutama ketika kualitas udara memburuk dalam waktu yang cukup lama. Perlindungan kelompok rentan seperti anak-anak perlu menjadi perhatian bersama dengan membatasi paparan asap dan segera mencari pertolongan medis apabila muncul gangguan kesehatan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....