Karhutla di OKU Timur Meluas hingga Lahan Sawit dan Karet, Polisi Turun Tangan
- 24 Agt 2026 18:50 WIB
- Palembang
Poin Utama
- Sinyal hotspot tertangkap di Command Centre 110 Polres OKU Timur pada pukul 11.00 WIB mengaktifkan respons cepat tim gabungan ke lokasi.
- Kebakaran telah menghancurkan satu hektare lahan perkebunan campuran karet dan kelapa sawit di Desa Tambak Boyo, Kecamatan Buay Madang Timur.
- Api berpotensi terus merembet ke area perkebunan warga sekitarnya, memerlukan penanganan cepat dan koordinasi tim untuk pencegahan perluasan.
RRI.CO.ID, OKU Timur- Sinyal merah indikasi titik panas (hotspot) yang tertangkap layar pemantauan Command Centre 110 Polres OKU Timur sekitar pukul 11.00 WIB bukan sekadar data digital. Begitu koordinat -4.143140, 104.590080 dipetakan via navigasi satelit, tim gabungan langsung bergerak menerjang titik lokasi di Desa Tambak Boyo, Kecamatan Buay Madang Timur, Minggu, 23 Agustus 2026.
Tiba di lokasi, kepulan asap mengepul dari tengah lahan perkebunan campuran karet dan kelapa sawit. Si jago merah rupanya telah melahap area seluas satu hektare dan berpotensi terus merembet ke area perkebunan warga di sekitarnya.
Tanpa membuang waktu, personel Polres OKU Timur dan Polsek Buay Madang Timur (BMT) bersama perangkat desa, pemilik lahan, serta masyarakat setempat bahu-membahu memadamkan api. Dengan memanfaatkan pasokan air seadanya dari sekitar lokasi, kolaborasi darurat ini berhasil menjinakkan si jago merah sebelum menjangkau hamparan kebun yang lebih luas.
Kapolsek Buay Madang Timur, Iptu Swissfo, yang memimpin langsung eksekusi di lapangan menegaskan bahwa kecepatan verifikasi darat (ground check) menjadi kunci utama menahan laju karhutla.
“Pemantauan tersebut dilakukan sebagai langkah cepat dalam memastikan keberadaan titik panas sekaligus mengantisipasi potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) meluas. Setelah ditemukan adanya kebakaran, personel bersama masyarakat langsung melakukan pemadaman hingga api berhasil dipastikan padam,” ujar Swissfo.
Meski kobaran api utama telah berhasil dikuasai dan menyisakan hamparan menghitam, kepolisian tidak langsung meninggalkan lokasi. Tim tetap melakukan penyisiran (cooling down) untuk memastikan tidak ada sisa bara dalam tanah yang bisa kembali berkobar tertiup angin.
Kapolres OKU Timur, AKBP Lalu Hedwin Hanggara, menyatakan bahwa proses penyelidikan masih terus berjalan untuk menguak pemicu munculnya titik api di lahan perkebunan tersebut.
Sinyal merah indikasi titik panas (hotspot) yang tertangkap layar pemantauan Command Centre 110 Polres OKU Timur sekitar pukul 11.00 WIB bukan sekadar data digital. Begitu koordinat -4.143140, 104.590080 dipetakan via navigasi satelit, tim gabungan langsung bergerak menerjang titik lokasi di Desa Tambak Boyo, Kecamatan Buay Madang Timur, Minggu, 23 Agustus 2026.
Tiba di lokasi, kepulan asap mengepul dari tengah lahan perkebunan campuran karet dan kelapa sawit. Si jago merah rupanya telah melahap area seluas satu hektare dan berpotensi terus merembet ke area perkebunan warga di sekitarnya.
Tanpa membuang waktu, personel Polres OKU Timur dan Polsek Buay Madang Timur (BMT) bersama perangkat desa, pemilik lahan, serta masyarakat setempat bahu-membahu memadamkan api. Dengan memanfaatkan pasokan air seadanya dari sekitar lokasi, kolaborasi darurat ini berhasil menjinakkan si jago merah sebelum menjangkau hamparan kebun yang lebih luas.
Kapolsek Buay Madang Timur, Iptu Swissfo, yang memimpin langsung eksekusi di lapangan menegaskan bahwa kecepatan verifikasi darat (ground check) menjadi kunci utama menahan laju karhutla.
“Pemantauan tersebut dilakukan sebagai langkah cepat dalam memastikan keberadaan titik panas sekaligus mengantisipasi potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) meluas. Setelah ditemukan adanya kebakaran, personel bersama masyarakat langsung melakukan pemadaman hingga api berhasil dipastikan padam,” ujar Swissfo.
Meski kobaran api utama telah berhasil dikuasai dan menyisakan hamparan menghitam, kepolisian tidak langsung meninggalkan lokasi. Tim tetap melakukan penyisiran (cooling down) untuk memastikan tidak ada sisa bara dalam tanah yang bisa kembali berkobar tertiup angin.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....