Palembang Diselimuti Asap Karhutla, Udara Masuk Kategori Berbahaya

  • 01 Okt 2026 11:21 WIB
  •  Palembang
Poin Utama
  • Asap tebal dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten OKI menyelimuti seluruh wilayah Kota Palembang pada Kamis pagi, 1 Oktober 2026.
  • Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) PM 2,5 di Palembang mencapai 285, berada di tingkat yang membahayakan kesehatan penduduk.
  • Kota Palembang menempati urutan kesepuluh dalam daftar kota dengan ISPU tertinggi di Indonesia pada tanggal tersebut.

RRI.CO.ID, Palembang - Asap tebal menyelimuti seluruh wilayah Kota Palembang pada Kamis pagi, 1 Oktober 2026. Asap tersebut diduga berasal dari kebakaran hutan dan lahan atau karhutla yang masih berlangsung di Kabupaten Ogan Komering Ilir.

Berdasarkan data Kementerian Lingkungan Hidup melalui laman Indeks Standar Pencemar Udara, konsentrasi PM2,5 Palembang mencapai 285. Angka tersebut menempatkan Palembang dalam kategori udara yang membahayakan kesehatan.

Data yang dirilis pada pukul 07.40 WIB juga menunjukkan Kabupaten Ogan Ilir berada dalam kondisi serupa. Konsentrasi PM2,5 di wilayah tersebut mencapai 326 dan menempatkannya dalam kategori berbahaya.

Kondisi tersebut membuat Palembang dan Ogan Ilir masuk dalam daftar wilayah dengan kualitas udara yang perlu mendapat perhatian. Posisi Ogan Ilir berada di urutan kelima, sedangkan Palembang menempati urutan kesepuluh berdasarkan data pemantauan tersebut.

Kepala Balai Pengendalian Kebakaran Hutan Kementerian Kehutanan Wilayah Sumatra Ferdian Krisnanto mengatakan Manggala Agni masih melakukan pemadaman di sejumlah titik. Salah satu lokasi penanganan berada di Pangkalan Lampam, Kabupaten OKI, yang masih menghasilkan asap.

“Ada tiga daerah di OKI yang saat ini terus dilakukan pemadaman, yaitu Cengal, Tulung Selapan, dan Riding,” kata Ferdian, Kamis, 1 Oktober 2026.

Menurut Ferdian, luas area yang ditangani di tiga wilayah tersebut telah mencapai ratusan hektare. Proses pemadaman juga berlangsung cukup lama karena kondisi lahan gambut membuat api sulit dikendalikan.

“Selain luasannya yang mencapai ratusan hektare, proses pemadaman juga telah berlangsung lama, seperti Riding yang sudah satu bulan dengan tiga kali rolling sif pemadaman,” ucapnya.

Ferdian menjelaskan asap dari kebakaran di OKI berbeda dengan asap akibat kebakaran lahan di Palembang. Kebakaran di Palembang umumnya terjadi pada lahan mineral sehingga asap yang dihasilkan tidak sebesar kebakaran gambut yang sangat kering.

“Kita bisa bedakan, asap dari Palembang yang terbakar berupa lahan mineral, sedangkan dari OKI berupa gambut yang sangat kering,” rincinya.

Sementara itu, citra sebaran BMKG pada 1 Oktober 2026 menunjukkan pergerakan angin dari arah timur hingga tenggara. Kondisi tersebut turut memengaruhi pergerakan asap dari wilayah OKI menuju Palembang.

Kepala Stasiun Klimatologi Kelas I Palembang Wandayantolis mengatakan kecepatan angin saat itu berkisar 5 hingga 20 knot. “Dari arah angin, sebaran asap dari Palembang berasal dari OKI karena angin berhembus dari timur ke tenggara,” kata Wandayantolis.

Pergerakan asap tersebut membuat kualitas udara Palembang perlu mendapat perhatian, terutama bagi masyarakat yang melakukan aktivitas di luar ruangan. Kondisi kualitas udara juga dapat berubah mengikuti perkembangan kebakaran dan arah angin di wilayah Sumatera Selatan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....