Basarnas Sumsel Ingatkan Risiko Anak Bermain di Sungai
- 17 Agt 2026 22:30 WIB
- Palembang
Poin Utama
- Anak-anak perlu diawasi saat beraktivitas di sekitar sungai karena kondisi sungai berbeda dengan kolam renang dan memiliki risiko arus, lumpur, serta jarak pandang terbatas.
- Kasus anak tenggelam di Sumsel masih menjadi perhatian, dengan 14 korban usia 7–15 tahun tercatat sepanjang 2025, sembilan di antaranya di Palembang dan sekitarnya.
- Pencegahan menjadi langkah utama keselamatan, termasuk melarang anak mandi atau bermain di sungai serta memahami cara aman menolong korban tenggelam.
RRI.CO.ID, Palembang - Aktivitas anak-anak mandi dan berenang di sungai meningkat saat cuaca panas dan libur sekolah. Namun, kondisi sungai menyimpan risiko yang dapat mengancam keselamatan anak.
Data Basarnas Sumsel pada 2025 mencatat 14 anak usia 7 hingga 15 tahun menjadi korban tenggelam di sungai. Sebanyak sembilan korban berasal dari Palembang dan sekitarnya.
Kepala Kantor SAR Palembang Raymond Konstantin dalam Dialog Palembang Menyapa di PRO 1 RRI Palembang, Rabu, 12 Agustus 2026 mengatakan sungai masih menjadi bagian dari aktivitas masyarakat di kawasan pinggir sungai. Kondisi itu membuat anak-anak kerap bermain di sekitar sungai tanpa memahami risikonya.
“Sungai merupakan aktivitas yang sangat rutin oleh masyarakat di pinggiran sungai. Tim SAR terkadang turun langsung menangani anak-anak yang bermain di pinggir sungai,” ujar Raymond.
Menurut Raymond, kondisi sungai berbeda dengan kolam renang karena memiliki dasar berlumpur dan jarak pandang terbatas. Kondisi tersebut dapat menyulitkan anak ketika berenang, terutama bagi mereka yang belum memiliki kemampuan renang dengan baik.
Raymond meminta orang tua tidak membiarkan anak mandi atau bermain di sungai tanpa pengawasan. Menurutnya, kemampuan berenang belum cukup untuk menjamin keselamatan ketika seseorang menghadapi kondisi sungai.
Lurah 12 Ulu Kecamatan Seberang Ulu II Palembang Akhmad Oktariansyah mengatakan wilayahnya tidak mencatat kasus orang tenggelam dalam tiga bulan terakhir. Kondisi itu didukung komunikasi dan edukasi kepada masyarakat mengenai bahaya anak bermain di sungai.
“Alhamdulillah, dari tiga bulan ke belakang tidak ada kejadian di 13 Ulu. Kami juga tidak terlepas melakukan konsultasi kepada masyarakat mengenai anak-anak yang bermain di sungai,” kata Akhmad.
Akhmad menilai pengawasan orang tua menjadi langkah penting untuk mencegah kecelakaan di kawasan pinggir sungai. Ia juga menyoroti masih minimnya fasilitas keselamatan di sejumlah kawasan sungai.
“Untuk alat keselamatan di pinggir sungai itu sangat minim. Biasanya di pelabuhan pun hanya satu atau dua alat keselamatan. Apalagi kapal ketek, paling hanya satu atau dua baju pelampung,” ungkap Akhmad.
Raymond juga mengingatkan masyarakat agar tidak langsung masuk ke sungai ketika hendak menolong korban tenggelam. Penolong dapat menggunakan benda mengapung, galah, atau tali dari lokasi yang aman.
“Kalau kita tidak bisa berenang, biasanya kita lemparkan barang-barang yang terapung ke korban, atau galah maupun tali. Terutama teriak meminta pertolongan dan meminta masyarakat terdekat untuk melaporkan kepada tim kami di 115,” jelas Raymond.
Menurut Raymond, pencegahan dan pengawasan menjadi kunci utama keselamatan aktivitas air. Masyarakat juga perlu memahami cara pertolongan yang aman agar upaya menyelamatkan korban tidak menambah jumlah korban.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....