Lahan Gambut Rantau Bayur Terbakar, BPBD Banyuasin Hadapi Akses Sulit
- 15 Agt 2026 19:05 WIB
- Palembang
Poin Utama
- Kecamatan Rantau Bayur memiliki frekuensi kejadian karhutlah tertinggi di Kabupaten Banyuasin dengan insiden yang terus berulang hingga Agustus 2026.
- Berdasarkan data dari Pusdalops, terjadi peningkatan signifikan kejadian kebakaran hutan dan lahan dari bulan Juni ke Juli, dan terus berlanjut hingga Agustus.
- Kondisi cuaca panas dan kering menjadi faktor utama yang menyebabkan peningkatan insiden karhutlah di wilayah Kecamatan Rantau Bayur.
RRI.CO.ID, Banyuasin – Kecamatan Rantau Bayur menjadi wilayah yang paling sering mengalami kebakaran hutan, kebun, dan lahan atau karhutlah di Kabupaten Banyuasin. Kondisi tersebut menjadi perhatian Pemerintah Kabupaten Banyuasin, terlebih kejadian kebakaran dilaporkan terus muncul hingga Agustus 2026.
Kepala Pelaksana BPBD Banyuasin, Reza Agust Perdana, mengatakan berdasarkan laporan Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana atau Pusdalops, terjadi peningkatan kejadian karhutlah, terutama dari Juni ke Juli. Kenaikan tersebut masih berlanjut hingga Agustus seiring kondisi cuaca yang panas dan kering.
Menurut Reza, penyebab kebakaran hingga kini belum dapat dipastikan. Namun, berdasarkan pengamatan di lapangan, aktivitas manusia diduga menjadi salah satu faktor, termasuk kejadian yang tidak disengaja seperti membuang puntung rokok.
"Penyebabnya belum bisa dipastikan, tetapi aktivitas manusia menjadi salah satu dugaan," ujar Reza, di Pangkalan Balai, Jumat, 14 Agustus 2026.
Ia menjelaskan, wilayah Rantau Bayur menjadi prioritas pengendalian karena kejadian karhutlah di kawasan tersebut cukup sering. Beberapa desa yang mengalami kebakaran antara lain Tanjung Menang, Tanjung Pasir, Sejagung, dan Kemang Bejalu, dengan lokasi kejadian yang berpindah-pindah.
Selain faktor aktivitas manusia, kondisi cuaca yang panas dan kering turut meningkatkan risiko penyebaran api. Sebagian lokasi kebakaran juga berada di kawasan dengan karakteristik lahan gambut sehingga membutuhkan penanganan lebih serius.
Untuk memperkuat pengendalian, BPBD Banyuasin telah mengaktifkan empat posko terpadu sejak 1 Agustus 2026. Posko tersebut berada di Banyuasin III, Pulau Rimau, Tanjung Lago, dan Rambutan.
"Petugas di posko juga melakukan edukasi dan sosialisasi kepada masyarakat," kata Reza.
Menurutnya, kendala utama dalam pemadaman di Rantau Bayur adalah akses menuju lokasi yang cukup jauh dan medan yang sulit. Sejumlah titik kebakaran berada jauh dari jalan utama sehingga mobilisasi personel, kendaraan, dan peralatan menjadi lebih sulit.
Keterbatasan sumber air di sekitar lokasi juga menjadi persoalan dalam proses pemadaman. Kondisi lahan gambut membuat api terkadang sulit dikendalikan secara menyeluruh sehingga diperlukan proses pemadaman dan pendinginan yang lebih lama.
Reza mengatakan, berdasarkan hasil rapat koordinasi penanggulangan karhutlah tingkat Provinsi Sumatera Selatan, kondisi Banyuasin masih relatif terkendali dibandingkan sejumlah kabupaten dan kota lainnya. Meski demikian, masyarakat tetap diminta waspada dan tidak membuka atau membersihkan lahan dengan cara membakar.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....